Senin, 01 Desember 2014

Sifat-Sifat Orang Kafir Dalam Kehidupan Dunia (Ghurur/GR)

Ghurur atau GR atau tertipu oleh dirinya sendiri.

Al Mulk 20: “Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.”

Hal-hal yang menjadikan mereka tertipu:

1. Tertipu oleh kesenangan kehidupan dunia dan hiasan2nya.
Kalau kita tadabburi ayat-ayat Al Quran maka kita akan jumpai penjelasan berulang-ulang bahwa kehidupan dunia itu kesenangan yang menipu.

Ali Imran 185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Al Hadid 20: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Faathir 5-6: “Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaithan-syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Sekian banyak ayat-ayat Al Quran yang berbicara bahwasanya kesenangan dunia itu ghurur, mereka tertipu. Setelah Allah SWT memberikan peringatan agar tidak tertipu dengan kesenangan dunia, Allah juga memberitahukan sifat-sifat orang kafir yang tertipu dengan kehidupan dunia. Penyakit yang menular ini jangan sampai menular ke diri orang-orang beriman.

QS Al An’am 70: Biarkan orang-orang yang menjadikan agama kamu sebagai permainanan, dan mereka tertipu oleh kehidupan dunia.

Tertipu oleh ketenaran, tertipu oleh tingginya ketinggian teknologi persenjataan, dsbnya, Kita sebagai orang-orang beriman tidak boleh tertular penyakit ini.

2. Angan2 kosong (al amaaniy).
Orang kafir dan orang-orang musyrik menggantungkan angan2 kosongnya kepada Tuhan2 palsu yang mereka sembah. Tuhan-tuhan palsu itu mereka bikin sendiri, tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak dapat menolak bahaya. Dianggapnya berhala-berhala itu bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Dan itu bukan hanya orang musyrik yang tertipu, tapi juga ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), karena menganggap Uzair sebagai anak Allah, Isa sebagai anak Allah.

QS At Taubah 30: “Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”

QS Al Baqoroh 78: Dan di antara mereka juga adalah orang-orang yang ummy, dan mereka tidak mengetahui Kitab,

Ketika Al Quran menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang-orang kafir itu tertipu, dan yang menjadi hal tertipu itu adalah angan-angan kosong, Allah memperingatkan supaya orang-orang beriman jangan ikuta2an terjatuh ke angan-angan kosong. Karena di Al Quran itu tidak ada basa basi.

Orang Islam yang merasa dirinya cukup puas dengan keberadaannya sebagai muslim, tidak membuktikan keIslamannya dengan perbuatan, maka ia sama dengan berangan2 kosong.

QS An Nisa 123: “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.”

Imam Ghozali dalam kitab Ulumuddin, menjelaskan salah satu sifat yang berbahaya adalah ghurur. Ghururnya kaum muslimin ada 2 jenis, yaitu:
1. ghururnya orang awam: saya ini kan orang Islam, jadi tidak apa-apa sekali-kali melakukan keselahan kan nanti sebentar saja masuk neraka, nanti juga masuk surga.
2. ghururnya ulama: saya ini kan ulama, tidak akan masuk neraka. Kalau saya saja yang ulama masuk neraka, lalu siapa lagi yang akan masuk surga?

Astaghfirulloh!
Walaupun kita nantinya akan masuk surga, tapi jangan pernah kita masuk neraka, karena kita tidak akan sanggup merasakan siksanya.
Walaupun kita ulama, tapi kita ini manusia, yang juga bisa masuk neraka jikalau kita mengikuti hawa nafsu.

3. Bisikan-bisikan setan-setan jin dan setan-setan manusia

Kita perlu ketahui bahwa setan itu selalu membisiki, baik setan manusia maupun setan jin. Sampai-sampai Allah mendahulukan menyebut setan manusia daripada setan jin.

QS Al An’am 112: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah menawan untuk menipu (manusia)."

Bahkan orang2 Islam juga dibisiki, seperti bisikan-bisikan ini:
Hai anak muda, kok masih muda sudah mau tobat, nanti saja kalau sudah tua baru tobat.
Hai pejabat, masih menjabat kok sudah bertobat. Nanti saja kalau sudah pensiun, dstnya.

QS An Nisa 117-121: “Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dilaknati Allah dan syaitan itu mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya". Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.”

Setan sudah bersumpah melalui janji-janji kosong. Ini bukan cuma dari setan2 jin, tapi justru Allah menyebutkan setan manusia yang duluan disebutkan. Karena manusia itu kalau disebutkan, “hey, di kuburan itu ada setan,” maka manusia akan percaya. Tapi kalau dikatakan, “hey, teman dekat kamu itu setan, karena mengajak kamu mengerjakan hal yang buruk,” maka manusia biasanya tidak akan percaya. Kecenderungan manusia merasa aman dari jenis setan manusia seperti itu, maka Allah mengingatkan kepada manusia, bahwa setan manusia itu juga ada.

QS An Nisa 120: “dan tidak lah janji setan itu, kecuali ghurur (menipu).”

Ketika setan itu membisiki manusia, akhirnya fitrah manusia yang suci bersih, bisa menyimpang. Ketika manusia diciptakan dalam keadaan fithrah, dan di antara makna fithrah adalah Islam, sehingga manusia siap menerima Islam, tapi pertanyaannya kenapa manusia bisa menyimpang dari Islam, padahal Islam itu begitu indah?

Jawabannya adalah: karena setan membisiki.

Hadist qudsi: sesungguhnnya seluruh manusia itu hunafa (orang-orang yang lurus), tetapi setan membisiki mereka sehingga menjauhkan manusia dari agamanya.

Setiap orang yang jauh dari rahmat Allah, dari agama Islam, itu berarti dia adalah setan, dikarenakan akar kata setan adalah syaithanah yang artinya dijauhkan dari rahmat Allah.

Kalau ada orang yang mengaku beragam Islam tapi tertipu oleh setan, maka keIslamannya harus diperbaiki dan diperbaharui.


Semoga kita mendapatkan rahmat Allah. Aamiin.

Minggu, 30 November 2014

Sifat-Sifat Orang Kafir dalam Kehidupan Dunia

Al Quranul Karim banyak menejlaskan sifat-sifat orang kafir di berbagai ayat. Hal ini bukan lah suatu kebetulan, karena Al Quran disucikan dari segala bentuk kebetulan. Dicantumkannya sifat-sifat orang kafir ini agar kaum muslimin waspada. Karena bila kaum muslimin mengikutinya, maka akan mendapatkan adzab yang sama dengan orang-orang kafir.

1. Hati mereka terkunci, telinga mereka tuli, dan penglihatan mereka tertutup.

Sehingga mereka tidak bisa melihat, mendengar kebenaran, sehingga tertutup lah seluruh jendela-jendela hidayah Allah, sehingga di mana pun berada, tetap dalam kekufurannya. Tidak ada perubahan dalam diri mereka, baik dinasehati maupun tidak dinasehati.

QS Al Baqarah 6: ''Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan (indar) atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

Mereka punya hati, telinga, tapi tidak digunakan untuk mendengar Al Quran, sehingga mereka tuli. Setiap ajaran Allah, mereka tentang. Setiap dakwah Nabi, mereka tentang.

QS An Nisa 155: “Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: "Hati kami tertutup". Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka”

Ini bukan terjadi hanya pada orang-orang kafir zaman sekarang, tapi juga terjadi pada orang-orang kafir zaman dahulu.

QS Al A’rof 101: “Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.”

Ketika mereka mendustakan ayat-ayat Allah, yang demikian itulah Allah akan mengunci, menyegel hati orang-orang kafir sehingga mereka tidak beriman.

2. Mengikuti Nenek Moyang Mereka Tanpa Terlebih Dahulu Dipikirkan

Mereka terjatuh pada fanatisme terhadap apa yang sudah dilakukan kakek nenek moyang mereka. Jika diajak untuk mengikuti Al Quran dan Sunnah Rasulullah, maka jawaban mereka,”kami mengikuti apa yang telah diajarkan bapak-bapak kami, nenek moyang kami. Tahu apa kamu, kamu kan anak kemarin sore.”

QS Al Baqoroh 170: Dana apabila dikatakan kepada mereka orang-orang kafir, ikutilah Al Quran, maka jawaban mereka, “tetapi kami mengikuti apa yang dijumpai bapak-bapak kami, nenek moyang kami.” Dan apakah ketika bapak mereka nenek moyang mereka tidak mendapat petunjuk, apakah mau mengikuti mereka?

Lebih bahaya lagi kalau pemikiran ini dilegitimasi oleh hukum, dengan alasan “melestarikan budaya nenek moyang kita.” Seolah-olah kalau sudah budaya nenek moyang itu sudah pasti benar. Padahal ukuran kebenaran adalah dengan Al Quran dan Sunnah Rasullah.

Budaya yang benar memang harus kita lestarikan, dan ukuran kebenaran adalah ajaran Allah dan Sunnah Rasulullah.

Ibnu Abbas ra mengatakan, Nabi memanggil orang-orang Yahudi untuk masuk ke dalam agama yang penuh rahmat ini. Nabi memotivasi agar mereka mengikuti ajaran Islam. Nabi memperingatkan hal ini, agar mereka tidak diadzab Allah. Jawaban mereka, “tapi kami cukup mengikuti nenek moyang kami. Karena mereka lebih baik.”

Ukuran kebaikan itu tidak jelas bagi orang-orang kafir,

Meskipun ayat2 ini turun kepada orang Yahudi, tapi hal ini berlaku juga untuk seluruh manusia. Yang menjadi pegangan kita dalam memahami teks-teks Al Quran, adalah penjelasan yang umum dan bukan sebab yang khusus. Karena Al Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk di zaman tertentu.

Islam adalah agama yang mengajak manusia untuk berpikir, bukan dengan fanatisme buta.

Ada sifat yang sangat membahayakan, yaitu sifat-sifat orang kafir yang kita harus menjauh dari sifat tersebut.

3. Putus Asa dari Rahmat Allah.

Kita jumpai di dunia, meskipun Negara yang modern itu dikatakan maju, tapi di sana angka bunuh dirinya tertinggi. Ketika menghadapi masalah, mereka bunuh diri, karena mereka berputus asa dari rahmat Allah.

Ketika manusia tidak percaya bahwa Allah bersama hambaNya dan bahwa Allah mampu mengatasi segala masalah manusia, maka manusia itu berputus asa.

QS Yusuf 87: “Dan jangan lah kalian berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.”

Karena mereka kafir (tertutupi) sehingga tidak bisa melihat luasnya rahmat Allah

QS Al Ankabut 23: “Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya, mereka berputus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu akan mendapat azab yang pedih.”

Manusia tidak akan putus asa dari rahmat Allah, kecuali jika hatinya tertutup, terputus dari hubungan dengan Allah.

Ketika hati manusia terbuka, selalu komunikasi dengan Allah, maka ia akan selalu optimis. Seperti halnya ketika Abu Bakar ash shiddiq hanya berdua dengan Rasulullah di dalam gua tsur, ia diberi optimisme dari Rasuluillah, dengan kalimat “Innallooha ma ana” (sesungguhnya Allah bersama saya).

Ketika putus asa itu adalah sifatnya orang kafir, dan sifat ini bisa menyeret kepada adzab, maka sudah barang tentu tidak ada keraguan bahwa sifat ini buruk. Sehingga tidak boleh ada orang yang mengaku dirinya Islam tapi ia putus asa.


Kadang2 seseorang itu untuk menggambarkan bahwa ia peduli pada bangsa, ia malah memberikan ungkapan yang tidak optimis, “Siapa pun pemimpinnya Negara ini akan bangkrut. Semua manusia sudah rusak” Tidak boleh seperti itu. Jika ada yang mengatakan seperti itu, maka sesungguhnya dialah yang rusak. Dia yang menghancurkan bangsa. Kita harus optimis! Karena yang pesimis itu hanya orang-orang kafir. Karena yang punya sifat putus asa itu hanya orang kafir. Orang beriman harus optimis. Tidak boleh memvonis bangsanya rusak, tidak boleh memvonis pemimpinnya rusak. Tinggal memilih, apakah kita mau mencintai orang-orang baik, mau memilih pemimpin-pemimpin yang baik. Kita yakin Allah selalu bersama kita, yang penting kita selalu bersungguh-sungguh memproduksi kebaikan-kebaikan.

Sabtu, 29 November 2014

Pandangan Orang Kafir terhadap Kehidupan Dunia (Harta Benda)

Ternyata mereka melihat kehidupan dunia ini sebatas kulitnya, sebatas apa yang nampak di dunia ini, yaitu berupa bangunan, makanan, minuman, pakaian. Mereka lupa dengan apa yang sebenarnya ada di dunia ini, bahwa dunia ini adalah ujian, dan akan berakibat pada kehidupan akhiratnya.

QS Ar Rum 7: “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”

Mereka mengetahui cara membuat pesawat terbang, mobil, gedung yang tinggi. Mereka tahu yang zhahir-zhahir (yang tampak bentuknya) saja, tapi mereka tidak tahu mana yang membahayakan dan mana yang tidak membahayakan. Senjata yang dibuat mestinya hanya untuk memberantas yang jahat, tapi juga dipakai untuk membantai kaum muslimin.

Mereka lalai dari kehidupan akhirat.

Ulama tafsir mengatakan, “lalai dari kehidupan akhirat” merupakan isyarat bahwa Allah mencela kehidupan dunia dari orang-orang kafir. Yang dicela adalah sudut pandang/cara mereka melihat kehidupan dunia, yaitu dunia hanya untuk dunia. Sehingga kalau mereka gagal, lantas mereka bunuh diri. Orang Islam tidak boleh mengikuti kelalaian ini.

Ungkapan lalai (al ghaflah) dari kehidupan akhirat adalah perbuatan kriminal yang membahayakan. Kenapa lalai dari kehidupan akhirat itu sangat berbahaya? Karena orang yang lalai tidak punya paradigma yang jelas. Timbangannya eror. Sesuatu yang buruk dianggap baik. Sesuatu yang merusak, malah dianggap hobi, dsbnya. Orang yang lalai akan menimbang sebuah peristiwa dengan timbangan yang salah. Menimbang ketokohan bisa lalai. Seorang durjana bisa dianggap pahlawan. Itu karena timbangannya sudah eror.

Allah menciptakan dunia ini dengan visi misi yang jelas, yaitu untuk memproduksi kebaikan-kebaikan dan hasilnya akan didapatkan seutuhnya di akhirat. Ketika orang kafir tidak memperhatikan akhirat maka orang kafir akan mewujudkan kehidupan dunianya dengan melakukan segala cara.

Persepsi Orang Kafir Terhadap Harta

Orang-orang beriman ketika melihat harta benda, maka mereka melihatnya dari persepsi yang benar, bahwa harta sekedar hiasan, dan juga harta sebagai ujian. Sehingga harta bendanya digunakan dalam rangka kebaikan-kebaikan. Sebagaimana orang beriman juga melihat harta benda sebagai alat untuk membangun dunia dan akhiratnya. Orang2 beriman melihat harta bendanya dengan seimbang.

Cara pandang orang-orang beriman melihat harta benda, berbeda dengan cara pandang orang2 kafir, dikarenakan memang referensinya berbeda.

1. Harta benda sebagai gengsi (kebanggaan)

Orang-orang kafir melihat harta benda itu sebagai nilai dan gengsi (kebanggaan). Mereka bisa menuhankan harta benda. Jadi, ukuran kehormatan dilihat dari al maal (harta). Sehingga untuk mendapatkan kehormatan (harta benda) itu, mereka gunakan berbagai cara, meskipun harus mengeruk kekayaan bangsa lain, merampas kekayaan bangsa muslim, dsbnya.

QS Saba’ 35: “Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.”

Persepsi mereka adalah seperti ini. “Mana mungkin kami disiksa, buktinya saya diberikan kekuasaan, harta dan anak yang banyak.”

Ternyata persepsi yang awalnya dihinggapi orang-orang kafir ini, lama kelamaan menular ke orang-orang beriman. Melihat seseorang malah melihat hartanya. Sehingga tidak sedikit orang-orang di dunia ini yang kagum dengan orang kafir, dikarenakan seleranya sudah sama, yaitu memandang harta benda itu sebagai segala-galanya.

Hal ini dituturkan di dalam Al Quran Surat Al Kahfi 32-44, yaitu kisah orang yang mempunyai dua kebun (shohibul jannatain) yang luas, dia mengganggap dirinya lebih baik, dengan berkata, “saya lebih banyak harta benda daripada kamu dan saya lebih mulia.”

QS Al Kahfi 32-44: “Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat".

Padahal bagi orang beriman yang punya pegangan yang jelas, yaitu referensinya Al Quran, mestinya mengetahui bahwa tidak ada hubungannya antara harta benda dengan kemuliaan di hadapan Allah. Harta benda diberikan Allah kepada siapa pun, baik itu kepada orang kafir, muslim, apakah orang itu benar, atau pun salah.

Jadi kalau ada orang kaya yang mendapatkan hartanya dengan cara maksiat, lalu ditegur oleh seorang muslim dan ia menjawab “bagaimana mungkin saya dimurkai Allah, buktinya saya kaya, justru kamu itu yang dilaknat karena kamu miskin.”
Naudzubillahi min dzaalik.

2. Harta akan membuatnya kekal di dunia.

Mereka mengira bahwa harta benda itu bisa menjadikan mereka kekal. Sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya, meskipun harus merampok, menjajah Negara lain.

Di dalam surat Al Humazah, Allah menjelaskan bagaimana orang-orang kafir yang siang malamnya hanya dipakai untuk menghitung harta benda. Mereka mengira bahwa harta bendanya itu bisa menjadikan dia kekal, mengantarkannya pada tingkatan keabadian di dunia ini. Seolah2 jika ia telah menguasai harta benda, ia bisa kekal di dunia ini. Maka Allah sebut; “yah sabu anna maa lahuu akh ladah” (dia mengira hartanya itu bisa mengekalkannya).

Ini memberikan kinayah (kiasan) atau sindirian, bahwasanya orang2-orang kafir itu tenggelam dalam nafsunya, bersenang2 tanpa batas, seolah2 dia tidak akan mati.

Orang yang tahu bahwa dirinya akan mati, tidak mungkin berani berbuat maksiat.

3. Kikir, bakhil terhadap harta.
Mencintai harta benda dengan cinta yang gila, sehingga berpikiran kalau sedikit saja harta bendanya berkurang, dia pikir dia akan mati, bakhil! Maka orang yang bakhil itu menderita, dia hitung-hitung terus harta bendanya

QS An Nisa 37: "(Yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya pada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan".

Di ayat di atas Allah mulai dengan kata “Alladziina” ini maknanya untuk umum, yaitu siapa saja. Siapa saja yang kikir, yang pelit, yang hartanya tidak digunakan untuk berjuang di jalan Allah, apalagi ia sampai menghalang-halangi manusia untuk berbuat baik, berinfak di jalan Allah, dan menyembunyikan nikmat Allah yang diberikan padanya, maka orang2 kafir itu akan disiksa dengan siksa yang menghinakan.

Orang yang berbuat kikir seperti itu adalah orang-orang kafir yang menutupi nikmat Allah, sehingga ketika perbuatan ini hina, Allah akan balas dengan kehinaan

Semoga kita semua dijadikan oleh Allah sebagai orang-orang yang cerdas, yang tidak tertipu dengan harta benda. Aamiin..


Jumat, 28 November 2014

Kehidupan Orang-Orang Kafir di Dunia (Perhiasan)

Seseorang yang mentadabburi Al Quran, dengan menghayatinya secara mendalam, maka dia tahu bahwa kehidupan ini cepat sirnanya, kesenangan yang menipu. Karena manusia memang tertipu oleh dunia. Ayat-ayat di bawah ini adalah beberapa contohnya, tanpa maksud membatasi, karena sebenarnya ayat tentang kehidupan dunia itu banyak:

QS An Nisa 77: “Katakanlah (wahai Muhammad), "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dizalimi sedikitpun.”

QS Ali Imran 185: “Dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang menipu.”

Sudah barang tentu bagi orang-orang beriman yang mengenali Al Quran, memahami hal ini. Tapi bagaimana dengan orang-orang kafir?

Kufur itu maknanya tertutup. Kenapa tertutup? Karena orang kafir hidupnya tertutup, yaitu tertutup dari ajaran Allah, tertutup dari kenikmatan besar, yaitu Islam.

Mereka melihat dunia adalah segala-galanya. Mereka melihat dunia sebagai sebuah ukuran yang harus dipertahankan.

Mereka hidup dengan cara mengimani kebathilan dan mengkufuri kebenaran.

Al Ankabut 67-68:Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia sekitarnya saling merampok. Mengapa (setelah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah? Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan kepada Allah atau orang yang mendustakan yang hak ketika (yang hak) itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahanam ada tempat bagi orang-orang kafir?”

Kalau kita melihat ayat-ayat lainnya, kenapa orang kafir hidupnya bisa terbalik, yaitu menyukai kebatilan dan membenci kebenaran, sehingga salah melihat kehidupan dunia? Karena orang-orang kafir itu selalu mengikuti hawa nafsunya.

QS Al Qashash 50: “Jika mereka tidak memenuhi panggilanmu Muhammad, maka ketahuilah mereka mengikuti hawa nafsunya.”

Itulah sudut pandang orang kafir terhadap kehidupan dunia. Mereka bersenang2 seperti binatang. Mereka itu seperti binatang bahkan lebih sesat daripada binatang.

Kenapa? Karena binatang masih punya ghoriiza (insting), sehingga tahu bagaimana supaya tidak tersesat. Sedangkan orang kafir mempunya akal, tapi tidak mereka pergunakan agar tidak tersesat.

Bagaimana pandangan orang2 kafir terhadap kehidupan dunia ini.

Al Quran mengulang-ulang penjelasannya tentang pandangan orang kafir terhadap kehidupan dunia. Kenapa berulang-ulang? Agar orang-orang beriman tidak mengikuti mereka. Tidak mengikuti selera mereka. Karena keimanan tidak sebatas pengakuan, tapi harus dibuktikan.

Jika orang-orang beriman mengikuti mereka, maka Allah tidak akan menolong mereka.

QS Al Baqarah 120: “Dan tidak akan ridho kepadamu Yahudi dan Nashara, sebelum kamu mengikuti millah mereka. Katakan bahwa petunjuk Allah itu petunjuk yang sebenarnya. Jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu datang padamu, maka tidak aka nada yang menolong kecuali Allah.”

Nabi saja bila mengikuti mereka, maka Nabi tidak akan ditolong oleh Allah, apalagi kita.

Meskipun status kita beragama Islam, tapi orang2 kafir mengiginkan kita mengikuti jalan mereka, baik itu gaya hidupnya, politiknya, dll.

Al Baqoroh 112: “Dipandang indah untuk orang-orang kafir, kehidupan dunia. Dan mereka mengejek orang-orang beriman, padahal orang-orang beriman bertaqwa itu di atas mereka di hari kiamat.”

Orang-orang kafir itu melihat dunia, di mana mereka terjebak dalam kehidupan dunia. Karena ziinah (hiasan) itu bisa menipu sehingga perbuatan buruk itu seolah-olah indah. Mereka melakukan kejahatan-kejahatan yang merupakan pelanggaran-pelanggaran di mata Allah, diperindah dengan alasan HAM, seni budaya, dan banyak istilah-istilah yang padahal perbuatan itu adalah perbuatan yang membahayakan dirinya dan orang lain.

Ziinah itu bukan sesuatu yang hakiki, namanya juga perhiasan. Diperlihatkan seolah-olah indah. Bukan sesugguhnya indah.

Orang-orang kafir tidak mengetahui, bahwa di dunia ini yang seolah-olah dipandang indah, itu sekedar ujian (ikhtibaar).

QS Al Kahfi 7-8: “Sesungguhnya kami jadikan segala apa saja yang ada di muka bumi ini. Agar kami menguji mereka siapa yang terbaik amalnya.”

Orang beriman sadar betul bahwa hidup ini ujian. Sehingga orang-orang beriman ini selamat. Orang-orang kafir tidak tahu bahwa ini ujian, sehingga orang-orang kafir tidak akan lulus di akhirat nanti.

Apakah semua hiasan (ziinah) itu tercela?

Ketika sudah mengetahui bahwasanya orang-orang kafir itu tertipu oleh ziinah kehidupan dunia, maka pertanyaannya apakah seluruh ziinah ini jelek, buruk? Ternyata tidak.

Kalau kita baca aya-ayat Al Quran tentang ziinah, ternyata statusnya banyak.

1. Hiasan yang tertolak, tercela.
Hiasan yang dibikin oleh setan.

QS Al Anam 43: “Dan setan telah memperindah bagi orang2 kafir apa yang mereka kerjakan.”
Mereka menyembah berhala seolah-olah berhala itu sesuatu yang indah.

Ketika orang-orang kafir memerangi kaum muslimin, dibuat indah seolah-olah itu demi ketertiban dunia. Seolah-olah negara itu sebagai polisi dunia. Semua terlihat indah, padahal itu semua perbuatan tercela. Dan setan memang sudah bersumpah untuk menggoda umat manusia agar berbuat perbuatan jahat. Sehingga hal2 yang menyerupai orang-orang kafir itu terlihat indah, seolah-olah ini HAM, dan sebagainya.

QS Al Hijr 39-40: Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka"

Setan sudah berjanji akan menyihir muka pikiran otak manusia, sehingga sesuatu yg jahat seolah-olah terlihat indah. Yang tidak bisa ditipu oleh setan hanyalah orang-orang yang ikhlas.

2. Sesuatu yang memang indah, disenangi, terpuji.
Memperindah keimanan, di mana orang-orang beriman melihat iman itu indah, aman, izzah kehormatan kebanggaan. Keindahan seperti ini adalah ziinah muhabbabah.

QS Al Hujuraat 7-8: “Akan tetapi Allah membikin senang kepadamu iman. Dan Allah perindah, hiasi iman itu di hati kalian.”

Ziinah seperti ini adalah sesuatu yang diharuskan karena ini adalah keindahan yang hakiki.

Orang-orang yang beriman tidak boleh mengharamkan sesuatu yang indah dari Allah.

QS Al A’rof 32: “Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”

3. Keindahan Alam.
Keindahan alam yang sudah barang tentu tidak dilarang oleh Allah untuk kita nikmati.


Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari menyerupai orang-orang kafir. Aamiin.

Kamis, 27 November 2014

Sifat-Sifat Surga

Seperti apakah surga itu? Meskipun para sastrawan, pujangga, yang ahli menulis keindahan, itu mencoba menuliskan keindahan surga, mereka tidak akan mampu menjelaskan keindahan surga yang sebenarnya. Karena keindahan surga di atas segala yang bisa kita bayangkan.

Hadist tentang surga:
 "Fala ta'lamu nafsu maa ukh fia lahum min qurrati a'yunin jazaa'an bimaa kaanuu ya'malun. (maka tidak seorang pun yang mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari kesenangan yang memuaskan hari sebagai pembalasan apa yang telah mereka lakukan .”

Dalam sahih Bukhari, beliau meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, berkata Rasulullah: Allah berfirman “Telah Aku sediakan untuk hamba-hambaKu yang soleh, sesuatu yang mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengar, sesuatu yang tidak pernah terbertik di hati, yang manusia tidak pernah mengan-angankannya.”

Ibnu Abbas, pakar tafsir yang ditarbiyah langsung oleh Rasulullah, mencoba menafsirkan tentang surga. “Kalau ada sesuatu yang namanya sama, antara yang ada di surga dengan yg di dunia, itu sekedar kesamaan nama, tapi esensinya berbeda. Itulah sifat Jannah secara umum.

Bagaimana dengan ayat2 Al Quran yang menjelaskan tentang surga? Itu sekedar mendekatkan manusia dengan surga. Bahasa yang dipakai adalah bahasa yang dipahami oleh manusia, karena Al Quran adalah untuk manusia. Tapi esensi yang sebenarnya adalah hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Sifat-sifat Jannah yang diterangkan di Al Quran:

1. Pintu2 surga

QS Shad 49-50: “(Segala sifat-sifat yang mulia) ini, adalah menjadi sebutan penghormatan (bagi mereka) dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa, disediakan tempat kembali yang sebaik-baiknya (pada hari akhirat kelak). Yaitu beberapa buah Syurga tempat penginapan yang kekal, yang terbuka pintu-pintunya untuk mereka.”

QS Az Zumar 73: “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya"

Sudah barang tentu segala hal yang berupa ghaib, tidak ada ruang ijtihad, tidak ada ruang bagi manusia untuk menganalisa. Begitu pula tentang pintu2 surga ini, tidak perlu dianalisa.

Di dalam hadist-hadits Nabi, pintu syurga disebutkan ada delapan.

Sahih Bukhari: Di dalam surga mempunyai delapan pintu, di dalamnya ada pintu Ar Royyan. Pintu Ar Royyan ini tidak dimasuki oleh orang-orang kecuali oleh orang yang berpuasa.

Ini menggambarkan bahwa puasa itu sesuatu yang khusus.

Hadist Qudsi: “Setiap amal manusia untuk dirinya, kecuali shiyam (puasa), shiyam itu untukKu (Allah), dan Aku lah yang membalasnya.”

Ini menggambarkan kepastian pahala berpuasa. Karena orang yg berpuasa itu ikhlas, dia diam2 melakukannya, sehingga Allah katakan “berpuasa itu untukKu.”

Hadist: “Barangsiapa yang berkata, Tidak ada Illah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Isa as adalah hamba Allah, dan kalimat Allah disampaikan pada Maryam, maka Allah akan memasukkan dia ke salah satu pintu surga yang delapan.

Ini menggambarkan bahwa pintu surga ada delapan.

Ternyata setiap amal soleh itu mempunyai pintu tersendiri. Maka setiap pintu surga diberi nama dengan nama amal soleh itu.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Shahih mereka berdua hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,“Barangsiapa yang menginfakkan ‘sepasang hartanya’ di jalan Allah maka dia akan dipanggil -oleh malaikat- dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah! Inilah kebaikan -yang akan kamu peroleh-.’ Barangsiapa yang tergolong ahli sholat, maka dia akan dipanggil dari pintu sholat. Barangsiapa yang tergolong ahli jihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang tergolong ahli sedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa yang tergolong ahli puasa, maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan.” Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Wahai Rasulullah, bahaya apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Lantas, apakah ada orang yang dipanggil dari kesemua pintu itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Ada. Dan aku berharap semoga kamu termasuk di dalamnya.”

Ini menandakan syumulliyatul amal (amal yang menyeluruh), sebagaimana yang dikerjakan oleh Abu Bakar As Shiddiq, sehingga ia bisa dipanggil dari pintu surge yang mana pun dikarenakan ketika bicara tentang sholat, maka Abu Bakar adalah jagonya, ketika berbicara tentang sodakoh, maka beliau ahlinya, dan ketika bicara tentang berjihad, Abu Bakar juga jagonya. Masya Allah!

2. Istana-istana surga dan kemah-kemahnya.

Allah ketika membangun surga, ternyata di dalamnya terdapat rumah-rumah, gedung-gedung, istana-istana yang indah-indah yang membuat tentram penghuninya. Istana-istana itu disebut oleh dengan sebutan ghurufaat.

QS Saba’ 37: “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).”

QS Al Furqan 75-76: “Mereka itu akan diberi balasan yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.”
“Ibaadurrahmaan (yang selalu berdoa agar selalu diberikan istri dan anak-anak yang qurrota a’yun dan berdoa agar dijadikan pemimpin orang bertaqwa) akan dibe

QS Az Zumar 20: “Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi (surga), di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi (surga), yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.”

Di dalam kemah-kemah itu terdapat bidadari-bidadari yang dipingit.

Ungkapan yang dipingit, menggambarkan betapa berkualitasnya sang bidadari.

Ingat! Al Quran diturunkan dalam Bahasa Arab, sehingga bisa dipahami dengan baik oleh orang Arab. Orang Arab memahami bahwasanya wanita yang menjaga dirinya di dalam rumahnya adalah wanita yang sangat terpelihara kesuciannya.

Orang di surga tidak capek untuk mencari kenikmatan. Karena kenikmatan itu yang menghampiri dirinya.

Kenikmatan dunia, bagaimana pun kayanya ia, maka kekayaan itu harus diusahakan. Kalau di akhirat, justru bidadarinya, makanannya yang datang menghampirinya.

Surga2 itu sudah ada yang dipersiapkan untuk sahabat-sahabat Rasulullah, dan di antaranya ada juga yang untuk istri Rasulullah, Khadijah ra.

Jibril berkaata: Ya Rasulullah, ini Khadijah
Berilah berita gembira bahwa Allah telah membangun istana untuknya di surga.

Begitu juga untuk Umar bin Khattab.

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW beliau bersabda, “Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (surga), maka aku pun bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’ Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.” Umar ra menangis dan berkata, “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah.” Subhanallah! Kala Umar masih hidup di dunia bersama Rasulullah dan para sahabatnya, namun istana untuknya telah disiapkan di tanah surga


Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan surgaNya. Aamiin.

Rabu, 26 November 2014

Tingkatan Surga dan Penghuninya

Kita tidak boleh ragu sedikitpun bahwasanya perbedaan tingkat keimanan seseorang sangat berhubungan dengan tingkat kebahagiaan mereka di surga nanti, walau nanti semua yang berada di surga pasti bahagia.

Surga itu bertingkat-tingkat. Sama dengan neraka, ada tingkatan-tingkatannya.

Setiap derajat di surga, ada penghuninya.

Kita sebagai orang beriman, sudah barang tentu harus selalu meningkatkan keimanan kita. Itulah sebabnya Rasulullah mengatakan “Jaddiduu iimaanakum” (perbaharuilah keimanan kalian).

QS Ali Imran 162-163: “Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”

QS Al Anfal 2-4: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”

QS Al Isra’ 21: “Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.”

Ini beberapa ayat tentang surga itu bertingkat sesuai dengan kualitas keimanan mereka di dunia ini.

Pemahamana ini bukan sekedar wisata intelektual, tapi sebagai panduan kita agar terus memperbaiki derajat keimanan kita.

QS An Nisa 69-70: “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui.”

Para Nabi, shiddqin, syuhada, dan sholihin

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: barang siapa yang melakukan amal sholeh, melaksanakan perintah Allah dan RasulNya, menjauhi larangan Allah dan RasulNya, maka dia akan menemani para Nabi, setelah itu shiddiqin, setelah itu syuhada, setelah itu sholihin di surga nanti..

Sebagaimana kita ketahui bahwa para Nabi derajatnya paling tinggi. Di antara para Nabi yang satu dengan yang lainnya juga tidak sama. Ini artinya, melebihkan satu daripada yang lainnya, juga terjadi di antara para Nabi.

QS Al Baqarah 253: “Itulah para Rasul, Kami lebihkan mereka dari sebagian yang lain.”

QS Al Isra’ 55: “Dan sungguh benar-benar Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian Nabi-nabi dari sebagian lainnya.”

Ketika kita mengetahui, di antara para Nabi juga ada yang lebih mulia dari Nabi yang lainnya, ini juga membuat kita yakin bahwa di antara manusia kita juga harus menjadi yang terbaik di antara manusia lainnya. Dalam hal mendapatkan surga, kita jangan mau mengalah.

Ketika kita berdoa “waja ‘alna lil muttaqiina imaama,” bukan berarti kita berambisi menjadi pemimpin, Bukan! Tapi agar keimanan kita tinggi.

Apa Nama Kedudukan yang Tertinggi di Surga?

Di syurga ada satu kedudukan yang musthofa (terpilih). Tingkatan syurga paling tinggi, hanya satu, yaitu untuk kedudukan Nabi yang paling mulia, itu disebut Al Wasiilah, dan itu diberikan kepada Nabi kita Muhammad SAW.

Seperti sudah dibahas pada pertemuan yang lalu, Sunnah Nabi mengikuti bacaan adzan dan berdoa setelahnya, agar meminta Wasiilah. Kenapa? Karena kedudukan wasilah yang tinggi di surga.

Hadist: “Tidak selayaknya diberikan kepada hamba-hamba Allah selain saya orangnya, dan hamba-hambaku yang memintanya, maka akan mendapatkan syafa'atku.”

Apa itu Wasiilah?
Nabi menjawab: derajat tertinggi di syurga. Dan tidak akan mendapatkannya kecuali satu orang saja, dan saya mengharapkan saya lah orangnya.

Setelah kita tahu secara umum, para Nabi yang tertinggi derajatnya, maka yang kedua adalah orang-orang yang shiddiq. Siapa Shiddiquun?

Mereka itu adalah kaum masyarakat yang kedudukannya di bawah para Nabi dalam keutamaannya. Jadi hamba2 Allah yang utama yang derajatnya di bawah para Nabi. Ar Rozi dalam tafsir al Kabir mengatakan, mufassir

1. Orang yang percaya, tidak ada keraguan sedikitpun.
2. Sahabat-sahabat Nabi yang paling utama.
3. Abu Bakar As Siddiq
4. Ibrahim adalah nabi yang siddiq.

Bagaimana kita memahami Nabi Ibrahim dan Abu Bakar ra yang juga sama2 siddiq? Sudah barang tentu derajat Nabi Ibrahim lebih tinggi dari Sahabat.

3. Asy Syuhada, yaitu orang2 yang tewas karena menegakkan kalimat Allah.
Bagaimana kalau orang yang berangkat karena
Barangsiapa yang berjuang agar kalimat Allah paling tinggi, itulah yang di jalan Allah SWT.
Memang luar biasa ujian Allah terhadap orang2 yang syahid, sehingga wajar derajat mereka tinggi di syurga nanti.

QS An Nisa 95-96: “Tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

QS At Taubah 19-20: “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Allah menegaskan dalam ayat2 di atas keistimewaan pejuang-pejuang itu, yaitu Allah tegaskan dengan sebutan “tidaklah sama” dan sebutan “beberapa derajat” dan sebutan “dari sisi Allah.”

4. As Shoolihuun, umumnya orang-orang mukmin yang sholeh.

Yang sholeh luar dalam, baik ketika terang-terangan maupun ketika tidak ada orang. Mereka memproduksi kebaikan-kebaikan.
Sholih dalam aqidah dan amal. Di situ tidak ada syirik, kufur, nifak. Jadi kalau ada orang Islam yang ragu terhadap isi Al Quran dan As Sunnah, itu tandanya ia tidak sholeh.

Maka jelaslah bagi kita semua bahwa sifat orang mukmin ini berbeda-beda, sehingga ketika kita bandingkan orang yang syahid dengan orang yang soleh, kita tahu, bahwa setiap orang yang syahid pasti ia soleh, tapi tidak setiap yang soleh adalah syahid. Karena ada orang yang soleh tapi tidak berani berjihad, jadi kedudukannya tetap di tingkatan soleh.


Seorang mukmin yang cerdas, pemahaman ini tidak sekedar sebagai pengetahuan, tapi harus menjadi kurikulum kehidupannya, sehingga kita benar-benar berjuang di jalan Allah, mengikuti para Nabi dan Rasul, sehingga kita akan dikumpulkan bersama mereka di syurga. Karena seseorang itu bersama dengan orang yang dicintai. Aamiin…

Selasa, 25 November 2014

Kehidupan orang-orang Beriman di Syurga

Kehidupan yang baik,
Kehidupan yang indah
Kehidupan yang kekal.

Apa yang orang-orang beriman dapatkan di syurga, seimbang dengan yang mereka kerjakan di dunia. Orang-orang beriman ketika hidup di dunia, dipersempit ruang geraknya karena ada batasan-batasan syariat agar tidak mengikuti hawa nafsu.

QS An Nahl 97: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Ketika orang-orang beriman memperbaiki kehidupan dunianya, maka di akhirat nanti akan memnhdapatkan balasannya

QS Hud 108: “Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”

Kenikmatan di syurga

QS. Al Muthoffifiin 22: “Innal abrooro lafii na’iim” (Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga)
Orang-orang beriman di sini disebut dengan kata Abror, berasal dari kata Birr (kebaikan) dan Bar (daratan), yaitu agar orang-orang beriman memproduksi kebaikan seluas-luasnya, seluas daratan di dunia ini. Berbuat Al birr (kebajikan), bukan dengan kesempatan sisa, tenaga sisa, usaha sisa. Tapi yang terbaik.           

Apa itu Jannah?
Jannah yang diartikan syurga, adalah kebun yang ada pohon-pohon dan pohon kurma.
Jinaan adalah bentuk single dari Jannah.

Dalam Bahasa Arab, tidak disebut Jannah, kecuali bisa di dalam kebun itu terdapat pohon kurma dan pohon anggur. Dari ungkapan ini kita mengetahui betapa indahnya Jannah, negri yang penuh dengan kenikmatan di akhirat nanti.

Secara maknawi, disebut Jannah, yang maknanya Tertutup. Kenapa? Yaitu karena ketika di dunia, pahalanya masih belum terlihat, masih tertutup.

Siapakah yang Pertama-tama Masuk ke dalam Syurga?

A. As Saabiquun (Orang-orang Terdahulu)

QS Al Waqi’ah 10-12: “Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan”

Di dalam ayat di atas disebutkan As Saabiquun (orang-orang terdahulu), yaitu orang-orang yang didekatkan oleh Allah. Ulama berbeda pendapat tentang siapakah yang dimaksud dengan As Saabiquun ini.

1. Para Nabi
2. Orang-orang yang terdahulu beriman kepada Allah dan RasulNya, yaitu Muhajirin dan orang-orang yang berhijrah di masa awal.

QS At Taubah 100:Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar”

Wa a ‘addalahum jannaatin (Allah menyediakan bagi mereka surga-surga).

3. Orang-orang yang sempat menjalankan sholat menghadap ke dua kiblat, yaitu Masjidil Aqsha (kiblat pertama) dan kemudian Masjidil Haram (kiblat kedua).

4. Orang yang lebih awal ke masjid daripada yang lainnya. Orang yang pertama keluar berjuang di jalan Allah.

Dari ke empat pendapat di atas, terlihat secara zhohir terlihat para ulama berbeda pendapat, tapi ini bukan perbedaan hakiki. Ini menggambarkan orang-orang yang awal adalah yang terbaik. Jadi, jika ada kebaikan, jadikan kita orang yang pertama2 melakukannya.

B. Ash Haabul Yamiin (Mendapatkan buku catatan dengan tangan kanan)

QS Al Waqi’ah 27-40: “Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang mengalir terus-menerus, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk, Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta dan sebaya umurnya, untuk golongan kanan, segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.”

Mereka adalah orang-orang Islam yang dulu di dunia memproduksi kebaikan2 sehingga di akhirat mendapatkan buku catatan dengan tangan kanan.

C. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang pertama masuk Syurga.

Hadist: “Saya adalah Nabi yang terbanyak pengikutnya dan saya adalah orang pertama yang mengetuk pintu syurga.”

Hadist: “Ketika aku mengetuk pintu syurga, penjaga bertanya, siapa engkau. Aku menjawab, Saya Muhammad. Penjaga mengatakan, “aku diperintahkan tidak membukanya sebelum engkau masuk.”

D. Orang-orang fakir dari kelompok Muhajirin yang berhijrah dalam rangka berjuang ke Madinah.

Orang-orang fakir ini lebih dahulu masuk syurga daripada orang-orang kaya.

Hadist: “Sesungguhnya orang-orang fakir dari kalangan orang Muhajirin lebih dulu masuk syurga daripada orang-orang kaya, selisihnya 40 tahun.”
Siapa yang terakhir masuk syurga, sekaligus terakhir keluar dari neraka?
Hadist dari Abdullah bin Masud ra, dialog antara Allah dengan hamba-Nya. Hadist ini panjang.
“Sungguh saya mengetahui orang yang keluar dari neraka dan terakhir masuk syurga. Orang yang keluar dari neraka dalam keadaan merangkak itu dikatakan, “masuklah kamu ke dalam syurga.” Tapi orang itu mengkhayal, dalam pikirannya syurga sudah penuh, sehingga ia mengatakan, “Ya Allah, Syurga sudah penuh.”
Kata Allah, “Masuklah.”
Hal ini berulang sampai tiga kali.
Dan ketika ia sudah masuk syurga, Allah berfirman, “masuklah kamu ke syurga, kamu akan mendapatkan dunia dan seluruhnya dan 10 kali lipatnya.”

Bayangkan! Orang yang terakhir masuk syurga saja, masih mendapatkan kenikmatan yang sebegitu besarnya.

Tapi hal ini jangan sampai membuat kita berkata, “Ya sudah, saya masuk syurga yang terakhir saja deh.” Jangan seperti itu! Kita tidak akan sanggup merasakan neraka.

Kita berdoa pada Allah agar kita termasuk 70 ribu orang yang masuk syurga tanpa hisab. Maka dari itu, kita berdoa: “Waja ‘alna lil muttaqiina imaama.” Agar kita menjadi lebih bertaqwa lagi, karena kita meminta supaya menjadi pemimpinnya orang bertaqwa. Kalau yang dipimpin saja adalah orang bertaqwa, berarti pemimpinnya harus lebih bertaqwa daripada yang dipimpin.

Berbuat baik itu jangan dengan yang sisa-sisa. Sisa umur, sisa jabatan, sisa dana. JANGAN! Orang-orang beriman yang cerdas adalah selalu yang berlomba-lomba untuk memproduksi kebaikan-kebaikan, sehingga syurganya nanti adalah syurga Firdaus. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamiin..