Rabu, 10 Juni 2015

Petunjuk dan Kesesatan

QS Al Baqarah 120: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Pendidikan Islam mempunyai dua sayap, yaitu Janji dan Ancaman. Isi Al Quran itu kalau bukan janji, ya tentang sangsi. Bila hanya diberikan sangsi2 saja, hati kita bisa ciut. Sama juga halnya, jika diberikan janji2 saja, kita bisa terlena. Jadi harus ada keduanya.

Mari kita lihat bagaimana ulama menafsirkan ayat ini:

1. Di antara ancaman Allah, adalah Allah bebas darinya. Allah tidak mau memberikan pertolongan.

Sebanyak apa pun penolong di dunia ini, sebesar apa pun pendukung dan penolongnya, tapi bila sudah berhadapan dengan kekuatan Allah, maka pertolongan pendukung2nya itu menjadi kecil.

Mari kita buktikan. Siapa waktu itu yang merasa lebih hebat dari Firaun? Siapa yang berani menentang Firaun? Firaun yang memiliki tentara2 yang banyak. Tapi ketika sudah berhadapan dengan Allah, maka itu tidak ada artinya.

Firaun dewasa ini, di Negara mana pun ia berada, ia selalu merasa angkuh, lupa bahwa dirinya adalah hamba, bahwa dia harusnya memberikan instruksi sesuai ajaran Tuhannya. Tapi kini mereka dihinakan oleh pengikutnya, yang dulu takut kepadanya.

2. Petunjuk Allah adalah Islam
Islam adalah petunjuk yang wajib diikuti. Sedangkan selain Islam adalah dholal (sesat).

Ibnu Katsir mengatakan, bahwa ayat ini adalah ancaman yang keras bagi umat Islam agar tidak mengikuti Yahudi dan Nashoro. Kita mempunyai Nabi, punya Al Quran yang suci, maka kalau kita jujur dalam berIslam, jangan mengikuti ajaran agama lain.

Kalau mengikuti Yahudi, mengikuti Nashoro, itu sudah termasuk golongan mereka.

Pada intinya, beragama adalah al ibtida, mengikuti Rasulullah.

Kita tidak boleh menyerupai sebuah kaum, karena ajaran umat Islam sudah lengkap.

Kita ingat, siapa yang tidak tahu Umar bin Khattab. Begitu di tangan beliau ada Taurat, Nabi mengatakan, “buang itu Umar”
Siapa yang meragukan imannya Umar.

Apalagi umat Islam sekarang, kalau memegang kitab lain, lalu tengok sana tengok sini. Untuk sementara secara umum, banyak sektor2 yang dikuasai oleh Yahudi dan Nashoro, sudah barang tentu kita harus lebih hati2.

Wajar bila Ibnu Katsir mengatakan, bahwa ayat ini adalah ancaman yang keras bagi ummat Islam.

Bagaimana kalau seseorang beragama Islam, tapi mengikuti Yahudi, Nashoro, itu tandanya dia adalah dholim. Dholim itu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

3. Kita semua kaum muslimin tidak boleh mengikuti golongan orang2 yang bathil
Tidak boleh mengikuti kebathilan, hawa nafsu yang bathil. Jangan sampai kita silau dengan bungkus yang menyilaukan, padahal kebathilan tetap kebathilan. Meski yang melakukan itu adalah orang yang disebut ‘alim, atau yang mengatakan itu adalah orang yang disebut pakar.

Ada satu kaedah yang sudah pasti benar, karena itu datang dari Allah SWT, karena kebenarannya pasti. “Tidak ada kesedihan, ketakutan, bagi orang yang benar2 mengikuti petunjuk Allah.”

QS Al Baqarah 38: Kami berfirman:”Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati,

Mari kita lihat bagaimana para ulama tafsir menjelaskan ayat ini.

Allah berfirman, “barangsiapa mengikuti petunjukKu,” Ibnu Katsir mengatakan tentang ini, barangsiapa yang benar2 mengikuti kitab2 suci yang diturunkan oleh Allah, mengikuti para Rasul, maka orang2 seperti itu tidak akan takut menghadapi apa2 di akhirat nanti. Kita pasti ke akhirat.

Tapi bagi orang2 yang mengikuti petunjuk Sunnah, dijamin oleh Allah, tidak akan ada ketakutan. Karena ketakutan itu adalah hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Seperti takut miskin, takut hidupnya susah. Sedangkan sesuatu yang pasti akan datang, adalah yang di akhirat.

Dan mereka tidak akan bersedih. Bersedih itu adalah untuk sesuatu yang telah terjadi.

Mereka tidak akan takut mengenai akhirat mereka, dan mereka tidak akan bersedih dengan dunia mereka.

Meski mereka tidak mendapat jabatan di dunia, mereka tidak bersedih, karena dunia bukan obsesi terbesarnya. Obsesi terbesarnya adalah akhirat.

Doa yang dibaca oleh sebagia ulama kita dalam doa qunut. “Jangan sampai dunia, kekuasaan, popularitas adalah cita2 tertingginya.”

Kaum muslimin yang jujur dalam Islamnya, berdoa agar neraka dijauhkan dari mereka. Jangan Kau hadirkan kepada kami yang tidak takut kepadaMu ya Allah…

Ini lah doa orang2 yang jujur.

Dunia bukan segala2nya. Semoga kita semua diberikan petunjuk oleh Allah, karena petunjuk Allah akan membuat kita tidak bersedih.

Selasa, 09 Juni 2015

Jalan Menuju Kemandirian

Dalam kajian2 sebelumnya kita telah sama2 belajar tentang pentingnya bangsa kita menjadi bangsa yang mandiri, bangsa yang emmimpin diri sendiri, bukan dipimpin bangsa lain.

Bagaimana caranya?

Al Quran dan As Sunnah, sumber yang pastiu benar adanya, telah mengajarkan:

1. Planning
Jangan terjebak pada pekerjaan yang spontanitas, tanpa perencanaan. Sebuah perencanaan yang teliti yang melahirkan sebuah kemandirian.

Perencanaan yang benar2 berangkat dari perhitungan yang matang. Jangan sampai anak bangsa ini terjebak dalam istilah, “saya kira…” Harus berdasarkan angka2 yang kongkrit bukan angka siluman

2. Pengetahuan yang jelas

3. Skala prioritas
Karena realitasnya bangsa ini adalah bangsa manusia yang tidak bisa terlepas dari keterbatasnnya, sedangkan kebutuhan ada banyak

4. Potensi2 yang tersedia
Umat yang besar ini hidupnya bukan di atas awan, yang berdasarkan kata2 “kalau tidak salah”.

5. Kemampuan untuk mengembangkan

6. Obsesi ke depan
Anak kita yang lahir sekarang, kita didiidk untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang, sehingga obsesi kita adalah melihat puluhan tahun ke depan.

1. Planning
Para pemimpin kita zaman dulu, sudah dipersiapkan sejak usia 7 tahun, didatangkan guru2 untuk mempersiapkan ia menjadi pemimpin di masa depan.

Bukankah Nabi dipersiapkan Allah untuk menjadi pemimpin. Kenapa harus bersusah2 selama 13 tahun di Mekkah, dan kemudian hijrah ke Madinah, lalu kenapa bukan Madinah yang menjadi kota, tapi kenapa Mekkah, dsbnya.

Ini adalah bentuk perencanaan. Beliau ketika diusir dari Mekkah, tidak meminta tolong kepada Yahudi, Nasrani, Romawi, karena benar2 ingin membangun kemandirian.

Kekuatan ekonomi di Mesir bukan tanpa perencanaan, tapi karena Yusuf as mempersiapkannya dengan persiapan yang matang.

QS Yusuf 47-49:
47. Dia (Yusuf) berkata, "Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.

48. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu siapkan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.

49. Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras anggur."

Nabi Yusuf planning pertanian sbb:
Tujuh tahun semangat dalam bertani
Tujuh tahun kedua mempertahankannya
Satu tahun untuk memetik hasil

Jadi 15 tahun untuk merencanakan ekonomi.

Yusuf bukan semata2 seorang nabi, tapi Nabi yang memiliki perencanaan.

Ini bisa dimulai dari individu2 juga, mulai dari anggota keluarga hingga bangsa, terbiasa dnegan planning2.

2. Pengembangan Sistem Kehidupan
Sistem yang ada, harus selalu dikembangkan. Karena kita hidup menuju sekian ratus tahun ke depan, sehingga harus dilihat kembali.
Kita bersyukur kepada Allah dan para ulama yang telah merebut kemerdekaan dari Belanda. Tapi kita melihat masih banyak peninggalan Belanda. Bagaimana orang2 masih mau menggunakan hukum2 yang ditinggalkan oleh penjajah. Manusia mana pun yang telah merdeka, masak masih mau menggunakan peraturan peninggalan penjajah.

APalagi kita kaum muslimin yang mempunyai Allah, dengan Al Quran dan As Sunnah. Karena Al Quran bukan untuk umat Islam saja, tapi untuk seluruh manusia.

Meliputi juga system pendidikan kita. Pelatihan2 kita harus diperbaharui, dinamis. Kita ingin punya mobil yang besar, sementara di sekolah anak2 kita, mobil yang dipelajari masih mobil peninggalan zaman dahulu. Di negara2 lain, yang ingin menjadi Negara maju, dia beli mobil terbaru, kemudian dipreteli, dipelajari untuk bsia mengikuti bagaimana membuat mobil yang terbaru.

Kita ini dididik untuk menjadi pemimpin, bukan sekarang, tapi juga ke depannya.


3. Potensi Sumber Daya Manusia

Di dalam masalah2 yang berkaitan dengan manajerial, keuangan, harus dikembangkan. Di zaman Nabi ada uang emas dinar, dan dirham, sehingga tidak kenal penyusutan nilai mata uang yang melorot. Jika kita ingin baik, maju, adalah sebuah pengulangan yang baik2. Yang baik2 itu kita kembangkan, jangan sampai mengikuti yang buruk2.

QS At Taubah 122: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Di dalam ayat ini, Allah memberikan petunjuk kepada kaum muslimin, tidak boleh kaum muslimin seluruhnya perang pergi berjihad. Padahal kita tahu afdholul amal itu jihad. Tapi harus ada yang tetap di tempatnya untuk belajar ilmu agama.

Tidak semuanya menjadi Ibnu Abbas, tapi ada juga yang menjadi Khalid bin Walid.

Ada ornag yang punya potensi seperti Umar bin Khattab yang bisa melihat ummatnya. Karena ia melihat fenomena di masyarakat, kalau panglima perangnya Khalid, orang2 berkata, “asyik panglima perangnya adalah Khalid”. Khawatir dengan penyelenwangan aqidah, maka Umar mengganti panglima perang. Bukan akrena Umar tidak suka kepada Khalid.

Tidak ada istilah bangsa tertentu tidak terkalahkan. Karena ada yang mengatakan, Yahudi tidak terkalahkan. Padahal dulu Abdurrahman bin Auf miskin, tapi kemudian ia menjadi saudagar kaya karena ia bekerja dengan perencanaan yang matang.

Salman Al Farisi seorang ahli strategi perang. Ada juga Abu Dzarrin yang zuhud.

Sahabat2 Rasulullah mempunyai berbagai potensi.

Ketika kaum muslimin tidak mengadakan perencanaan, maka yang terjadi adalah, kita berada di satu lembah, dan Islam ada di lembah lainnya.

Kemandirian itu ada jalannya. Tidak akan terjadi secara spntanitas, dibutuhkan adalahnya planning dan pengembangan.

Ketika berada di masyarakat yang ebrmasalah ekonominya, kita bersungguh2 membangun ekobominya. Ketika umat Islam yang bolong2 kekuatan militernya, maka kita semua harus membantu menjadi militer yang kuat sehingga tidak dirampas bangsa lain. Ketika yang bolong2 aqidahnya, maka kita membangun aqidah bangsa itu agar tidak dibegal aqidah mereka.

Semoga bangsa kita menjadi bangsa yang mandiri.

Senin, 08 Juni 2015

Amar Ma’ruf Nahi Munkar



Setiap anggota masyarakat, diberikan semangat untuk menasehati saudaranya, melakukan banyak ekbajikan, dan mencegah kemungkaran.

Apa itu ma’ruf, dan apa itu munkar?

Al ma’ruf adalah sesuatu yang kebaikannya diketahui melalui Islam dan melalui akal sehat. Jadi ukuran yang baik itu bukan selera manusia, atau golongan tertentu, sesuatu itu baik. Ukurannya adalah Allah, dan juga sudah barang tentu akal yang sehat.

Kalau Allah sudah menyebut itu ma’ruf, lalu diberitakan setiap saat bah

Al munkar adalah setiap sesuatu yang ditolak oleh Islam, oleh akal sehat. Meskipun sesuatu itu dianggap bisa menambah devisa, menambah anggaran Negara. Tapi bila itu mungkar, maka harus ditolak.

Sementara seseorang yang senang dengan kemungkaran, itu adalah kesenangannya pribadi, dan membahayakan orang lain.

Amar ma’ruf nahi munkar itu tidak bisa dilakukan oleh individu, maka dari itu di dalam Al Quran redaksinya selalu dalam bentuk jamak.

QS Ali Imran 104: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Harus ada ummat yang mempunyai power, kekuasaan, energy, untuk bisa amar ma’ruf nahi munkar.

Kalau amar ma’ruf mungkin, walau tidak selamanaya, seseorang bisa menyuruh orang lain sholat, berbuat baik kepada orang tua, itu masih ringan. Tapi bila mencegah kemungkaran, itu tidak bisa dengan individu, apalagi bila kemungkaran itu dilakukan oleh pemerintah, oleh pengusaha yang kuat dan kaya.

Ini harus dilakukan oleh orang2 yang robbaniyyin. Ini memang berat, tapi itulah orang2 yang sukses. Di Al Quran digambarkan seolah2 orang2 yang sukses, masyarakat yang beruntung adalah masyarakat yang selalu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Ulaaikahumul muflihun.

Ketika dasar2 dalam kehidupan bermasyarakat, di antaranya adalah amar ma’ruf nahi munkar, pertanyaannya adalah, apa urgensi amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan bermasyarakat? Karena kalau Allah ememrintahkan sesuatu, pasti ada urgensinya. Di antaranya yang Nampak adalah:

1. Daerah yang ma’ruf itu akan semakin luas.
Sehingga ketika kita di rumah, maka yang lebih dominan adalah yang baik2. Ketika kita di kantor, yang lebih dominan adalah yang baik2. Karena masyarakatnya adalah masyarakat yang cinta yang ma’ruf.

Ketika ma’ruf tegak di masyarakat, maka daerah kemungkaran semakin sempit. Ruang gerak setan semakin sempit.

Seandainya, naudzubillahi mindzalik, terjadi perzinaan, itu terjadi sembunyi2. Sedangkan bila kemungkaran sudah meluas, orang2 berzina secara terang2an, bahkan zina diiklankan, dan orang2 pezina dijadikan idola. Sehingga orang tua tidak tenang, ayah tidak tenang bila anaknya kuliah di luar kota, dsbnya.

Itu sebabnya petunjuk Allah dalam masyarakat, dalam berbangsa dan bernegara, harus ada Hisbah, sebuah tim yang dibentuk oleh Negara untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Sehingga tidak seperti sekarang, jam sekolah ada anak2 jalan2 di mall,

Setiap muslim, walau tidak ditunjuk menjadi hisbah oleh pemerintah, ia tetap menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.

Sehingga, hisbah itu ada dua:
1. Ditunjuk secara lagal formal oleh pemerintah sehingag tidak terjadi ketimpangan2 dalam masyarakat
2. Setiap muslim adalah hisbah, sehingga tidak akan diam melihat kemungkaran.

2. Ummat Islam menjadi ummat terbaik
Ayat ini jelas, tidak membutuhkan tafsir, seperti dalam Ali Imron 110.

QS Ali Imron 110: Kamu adalah umat yang terbaik yang ditampilkan untuk seluruh umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Apa yang dikerjakan ummat terbaik ini? Yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Begitu pentingnya amar ma’ruf nahi munkar, daripada wa tu’minuuna billah (beriman kepada Allah), padahal iman pada Allah itu penting.

Untuk menjaga keimanan sebuah keluarga, masyarakat dan bangsa, dibutuhkan amar ma’ruf nahi munkar. Ada korelasi dengan iman kepada Allah, sehingga didahulukan amar ma’ruf nahi munkar dengan iman kepada Allah.

Bagaimana masyarakat yang kita cintai karena Allah ini, agar benar2 diridhoi Allah.

3. Selamat dari fitnah, malapetaka, musibah, laknat.
Masyarakat mana pun di dunia ini, di mana kaum muslimin rajin amar ma’ruf, maka akan diselamatkan Allah dari malapetaka.

QS Al Anfal 25: Takutlah kalian akan fitnah (malapetaka), yang tidak hanya meinpa orang2 dzholim di antara kalian saja, tapi seluruh masyarakat, yaitu ketika masyarakat membiarkan kemungkaran.

Kalau ada musibah, tidak mengenai orang2 dholim saja, tapi semua orang. Karena ketika ia membiarkan, itu tandanya ia setuju.

Apabila masyarakat emlihat kemungkaran, lalu tidak mengubahnya, maka Allah akan mengubah masyarakat seluruhnya.

QS. Al A’raf 164-166:
164 Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa".
165. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik
166. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: "Jadilah kamu kera yang hina
Ketika orang2 beramar ma’ruf nahi munkar, ada saja orang yang usil, mengkritik, mengomentari, “kenapa kamu sibuk2 menasehati orang lain?” Maka dijawab oleh aktifis da’wah yang beramar ma’ruf nahi munkar, “agar kami bisa menjawab

Tidak ada bangsa2 zaman dahulu yang sering disebut2 di dalam Al Quran melebihi Bani Israil.

Al Maidah 78-79
78. Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.
79. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

Kenapa mereka dilaknat Allah? Karena mereka tidak emlaksanakan tugas amar am’ruf nahi munkar.

Mereka dijauhkan dari rahmat Allah, maka bangsa yahudi dikutuk oleh Allah, dijadikan kera (Al Maidah 166), apakah kera dalam makna sesunguu


4. Diberikan kekuasaan, kepemimpinan di muka bumi

Al Hajj 39-41:
39. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu
40. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata:` Tuhan kami hanyalah Allah `. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa
41. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan

Orang2 yang kami berikan tamkin, apa yang emreka lakukan?
1. membayar zakat
2. amar ma’ruf nahi munkar.

Semoga masyarakat Indonesia, diberikan petunjuk oleh Allah, untuk sama2 amar ma’ruf nahi munkar, sehingga nanti yang lebih dominan adalah yang ma’ruf. Aamiin..


Jumat, 05 Juni 2015

Mengenal Nabi Muhammad SAW Lebih Dekat Lagi

Kenapa ini tema yang sangat penting? Karena kebenaran kita dalam berislam, tergantung dari sejauh mana kita mengenal Rasulullah.

1. Nabi yang rahmah
Karena nabi adalah orang yang sangat menyayangi ummatnya. Tidak ada kebaikan yang diketahui Nabi, kecuali disampaikan. Dan juga tidak ada bahagia yang tidak disampaikan kepada kita agar kita tahu bahayanya.

QS At Taubah 128: Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

QS Al Anbiya’ 107: Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Di sini menggunakan adatul hasyr, yaitu ma dan illaa, tidaklah Kami utus Muhammad, kecuali untuk rahmat bagi seluruh alam.

Seluruh risalah nabi adalah rahmat. Sebagai contoh saja, mari kita lihat beberapa contohnya.

Pertama sebagai contoh, ketika Nabi berumah tangga, maka seluruh rumah tangga Nabi adalah rahmah. Nabi adalah orang yang paling romantis. Bahkan untuk memanggil istrinya saja, dia pilih panggilan yang paling romantis. Sebagai contoh saja, Nabi memanggil Aisyah dengan “yaa humairoh” (si pipi kemerah2an).

Kedua, di dalam bermasyarakat. Tidak ada masyarakat yang anggotanya saling mencintai melebihi seperti di zaman Rasulullah.

QS Al Hujurat 10: Sesungguhnya orang2 beriman itu bersaudara

Bahkan sahabat2 Nabi yang ditarbiyah oleh Rasulullah, bukan hanya mencintai saudaranya, bahkan sampai ke puncak yang lebih tinggi yaitu al ittsaar (mendahulukan saudaranya). Penduduk yang ada di Madinah, siap memberikan harta bendanya, rumahnya, kaumnya untuk diberikan kepada dakwah Islam.

QS Al Hasyr 9: Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang orang yang beruntung
                 
2. Risalah Nabi dalam Memerintah Bangsa dan Negara adalah adil dan aman

Kenapa sebuah masyarakat yang dipimpin Nabi adalah masyarakat yang aman? Karena mereka adalah orang2 yang beriman. Jika orang2 itu beriman, jauh dari syirik, maka dia akan diberikan rasa aman.

QS Al An’am 82: Orang2 yang beriman, yang tidak menodai imannya dengan syirik, itulah orang2 yang mendapatkan rasa aman.

Orang2 yang dholim di masa itu, bisa dihitung dengan jari. Bandingkan dengan Negara yang dipimpin oleh orang yang tidak mengikuti aturan Allah, di mana2 terjadi kkegoncangan.

Ketika Usamah bin Zayid, orang yang dicintai Nabi, anaknya sangat dicintai, dan bapaknya sangat dicintai, melobi

Demi Allah, seandainya Fathimah anaknya Muhammad mencuri, saya sendiri yang akan memotong tangannya.

Sehingga tidak ada yang mendemo Nabi, karena rakyatnya merasakan adil dan aman

3. Nabi yang memberikan teladan

Nabi yang tidak cukup untuk dikagumi. Kalau hanya untuk dikagumi, orang kafir pun mengagumi Nabi. Bahkan ada oran kafir yang menempatkan Nabi sebagai orang hebat no 1 di dunia. Walau kita bisa mendebat orang2 rangking lainnya di bawahnya.

Tapi Nabi bukan sekedar untuk dikagumi. Nabi untuk diteladani. Diteladani dalam kehidupan keluarganya, kehidupan berbangsa dan bernegaranya.

Bagaimana agar kita mampu meneladani Nabi, tidak sekedar mengagumi?

1. Unsur keistimewaan
Guru agar diteladani siswanya, orang tua agar diteladani oleh anaknya, dstnya, mereka harus mempunyai nilai lebih.

Nabi dijaga oleh Allah agar selalu istimewa.

2. Kesamaan.

Nabi adalah manusia, ummatnya juga manusia. Itulah sebabnya Allah tidak mengutus Rasul dalam bentuk malaikat seperti yang diminta orang2 kafir. Tapi Nabi adalah manusia sama seperti ummatnya, agar mudah diteladani.

Al Furqon 20: Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.

4. Nabi yang seluruh hidupnya adalah dakwah

Seluruh kehidupannya adalah dakwah. Allah mengutus Rasulullah sebagai dai yang mengajak kepada Allah, bukan untuk fanatic kepada dirinya dan golongannya.

Ketika kita wajib meneladani Rasulullah, maka seluruh hidupnya adalah dakwah.

1. Seluruh fase hidupnya adalah dakwah
Ketika masih sulit hidupnya, ia berdakwah, ketika sudah mudah hidupnya ia berdakwah.

2. Rumah tangga nabi adalah rumah tangga dakwah.
Dakwah itu melalui keteladanan. Sebelum kita ceramah, maka kita melakukannya terlebih dahulu. Kita harus menjadi teladan.
Itulah sebabnya ketika sedikit saja ada masalah di dalam rumah tangga Rasulullah, yaitu karena Nabi di rumah Zainab bintu Jahsyn (istri Nabi), diberikan madu, nabi senang madu. Ternyata Hafshah tidak senang Nabi minum madu di rumah istri lainnya. Hafshah mengajak Aisyah untuk mengatakan, “ini bau minuman apa? Bau yang tidak enak.” Karena dikatakan seperti itu, sampai2 Nabi mengharamkan madu. Langsung Allah tegur, kenapa Nabi mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah.


QS At Tahrim 5: Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan

Ibunda kita sampai diancam oleh Allah hanya karena masalah minum madu. Kalau Nabi mencerai kalian, Nabi akan menikah dnegan istri2 yang lebih baik dari kalian.

Kenapa sampai diancam cerai gara2 madu? Karena rumah tangga Nabi adalah rumah tangga teladan.

Untuk menggambarkan betapa gegernya rumah tangga tersebut, kita bisa lihat bagaimana percakapan antara Muhajirin dan Anshar di Madinah. “apakah karena akan datang Raja Ghassan?”
Ini juga menggambarkan bahwa Arab pada masa dahulu itu tidak ada apa2nya kalau bukan karena Islam, karena orang Arab pada masa itu mengekor pada Romawi dan juga takut kepada bangsa2 lain, yang saat itu Raja lain yang ditakuti adalah Raja Ghassan.

Dijawab, “bahkan ini lebih dahsyat lagi dari Raja Ghassan.”

Ini untuk menggambarkan betapa dahsyatnya kejadian di dalam rumah tangga Nabi, sampai2 diceritakan seperti di atas.


Semoga kita mengenal dan mencintai Nabi Muhammad SAW setiap saat, bukan hanya di saat tertentu saja, bulan tertentu saja. Aamiin…

Kamis, 04 Juni 2015

Sikap Orang2 Beriman Terhadap Orang2 Kafir Yang Netral

Al Quran yang jelas adil. Oleh karena itu, setelah kita mengetahui dari kajian2 sebelumnya, bahwa orang2 beriman harus beda dengan orang2 yang bukan muslim, karena kitab sucinya juga berbeda.

Sikap orang beriman kepada saudaranya adalah loyal, sehingga tidak boleh ada sikap memusuhi, walau berbeda jamaah. Karena orang beriman itu wala’ (loyalitas) nya kepada Allah.

QS Al Maidah 55: Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)

Pertanyaannya, bagaimana sikap orang beriman terhadap orang kafir yang tidak memusuhi, memerangi Islam?

1. Sikap ini dijelaskan Allah dalam QS Al Mumtahanah ayat 8.

Al Mumtahanah 8: Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang- orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang berlaku adil

Allah tidak melarang kita untuk berbuat baik, untuk berbuat adil kepada mereka.

Islam tidak memerintahkan orang beriman untuk memerangi orang kafir karena kekufuran mereka. Tidak!

Laa ikrooha fiddiin (Tidak ada paksaan di dalam Agama).

Agar kita tidak sebatas memahami secara teori, mari kita lihat bagaimana realitas umat Islam dalam berbangsa dan bernegara, sebagai muslim yang punya tetangga orang kafir, apakah terputus hubungan mereka begitu saja? Tidak!

Hadist: Asma’ binti Abi Bakr ra menanyakan kepada Rasulullah tentang ibunya yang masih musyrik. "Yaa Rasulullah, ibu saya datang ingin bertemu denganku, apakah aku boleh menemuinya?"
Jawab Rasulullah, "iya silakan."

2. Perbedaan aqidah tidak menjadikan seorang muslim bersikap tidak adil kepada orang kafir.

Kisah lainnya:

1. Rasulullah memerintahkan sahabatnya, dalam rangka menjaga agamanya dan juga nyawanya, memerintahkan sahabat2nya agar hijrah ke Habasyah (Ethiopia), yang saat itu masyarakatnya beragama Kristen.

Ini menggambarkan nabi sangat perhatian terhadap sahabatnya, tidak mungkin membiarkan sahabat2nya terintimidasi.

2. Rasulullah benar2 obyektif, yaitu tidak menyamaratakan semua orang kafir. Orang2 Habasyah juga orang2 kafir, tapi di sana orang2 kafirnya beda dengan Quraisy, disebutkan bahwa orang2 Habsyah adalah orang yang jujur. Raja Najasy, Raja Habasyah saat itu, akhirnya masuk Islam, tapi menyembunyikan keIslamannya, karena mayoritas rakyatnya masih Nasrani. Ketika Raja Habasyah meninggal, Rasulullah tahu cara berterima kasih, Nabi mensholatkan jenazahnya dengan cara sholat ghaib.

3. Kisah yang berkaitan dengan Ibnu Abi Ma’bad. Rasulullah bisa berkomunikasi dengan baik. Ketika di perang Uhud kaum muslimin kalah, walau sebagian ulama mengatakan tidak kalah, karena setelah itu bangkit kembali.

Ketika Ma’bad datang sebagai utusan Abu Sufyan kepada Rasulullah, dan Rasulullah dapat berkomunikasi dengan baik, dan menyampaikan kepada Abu Sufyan, “Kalian pulang saja, karena Muhammad sudah menyiapkan pasukan yang besar.” Ini yang membuat

3. Al Quran memberikan arahan kepada orang2 beriman untuk toleransi kepada orang2 yang bukan muslim.

QS Al Jatsiyah (45) ayat 14 dan 15:
14. Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

15. Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan tentang ayat ini: Allah memerintahkan orang2 beriman untuk sabar terhadap orang2 kafir, agar tidak membalas kejahatan orang2 kafir, dan ini terjadi di awal2 Islam. Tujuannya, agar ini bisa menjadikan hati mereka lebih lembut. Dan itu terbukti, tidak terlalu lama, seluruh jazirah Arab menjadi Islam semua, karena akhlaq orang2 Islam.

Sebuah jamaah yang terdiri dari Rasulullah, diusir dari tanah airnya, dirampas hartanya, lalu hijrah ke Madinah, dan ketika kembali ke Mekkah, Nabi dan sahabat2nya tidak balas dendam.

Bagaimana perlakuan kaum muslimin ketika sudah menjadi jamaah yang besar? Nabi dan sahabat2nya tidak balas dendam, tidak menghancurkan berhala2 orang2 kafir. Nabi justru mempersilakan penduduk Negri Mekkah secara bebas, padahal mereka itu selama 13 tahun menyiksa Nabi dan para sahabat. Kalau ini bukan sejarah, bukan suatu hal yang sudah benar2 terjadi, mungkin orang akan mengatakan bahwa Al Quran hanya khayalan saja. Tapi kenyataannya, ini sudah terjadi dan ajaran Al Quran adalah nyata.

Jangan sampai ada orang yang takut dengan Islam, jangan sampai ada yang sentimen terhadap Islam. Tidak ada bahasa balas dendam di dalam Islam. Yang ada hanyalah, mereka diberikan kesempatan berpikir untuk melihat keindahan Islam, atau mereka tetap dalam kekufuran.

Tidaklah sama antara toleransi (at tasaamuh) dengan keberpihakan/loyalitas (al walaa’). Di satu sisi ajaran Islam adalah ajaran yang toleransi, karena kita tidak boleh memaksa orang lain untuk masuk Islam. Tapi itu bukan berarti ia memberikan loyalitasnya kepada mereka.

Toleransi menggambarkan kebebasan, termasuk kebebasan berakidah, beragama.
Sedangkan loyal adalah inti dalam ajaran akidah Islam.

Tidak boleh dicampur. Jangan sampai karena toleransi kepada non muslim, ia membenci saudara Islamnya, apalagi dalam rangka mendapatkan kepentingan2 dunia.

Dan sebaliknya, karena loyalnya kepada Islam, membuatnya tidak toleransi kepada non muslim. Kedua2nya tidak boleh.

Namun, saat pencampuradukan toleransi dan loyalitas itu terjadi, apa penyebabnya?

1. Al ghuluw (berlebihan)
Siapa pun di dunia ini kalau sudah ghuluw (berlebihan), maka ia akan masuk dalam pemahaman yang salah. Termasuk juga orang Yahudi, yang berlebihan sehingga meyakini Uzair anak tuhan. Orang2 Nasrani juga berlebihan, karena meyakini Isa sebagai anak tuhan.

QS At Taubah 30: Orang-orang Yahudi berkata, "Uzair itu putera Allah." Dan orang-orang Nasrani berkata, "Al Masih putera Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?

Kita kaum muslimin, jangan berlebihan, sehingga mencampuradukkan dua hal yang berbeda.

2. Niat yang buruk
Bisa jadi orang itu tahu bahwa toleransi itu berbeda dengan loyalitas, tapi karena punya hawa nafsu, maka dia mencampuradukkannya.


Sikap kaum muslimin sudah jelas toleransi kepada orang2 kafir yang tidak memerangi Islam.

Selasa, 02 Juni 2015

Ujian dalam Kehidupan Dunia

Di antara sunnatullah, adalah ujian (al ibtila). Tidak ada dalam kehidupan ini sepi dari ujian. Untuk memahami bahwa ujian itu ketentuan Allah yang pasti terjadi, mari kita kembali kepada ayat2 Allah agar kita mempunyai persepsi yang benar tentang ujian, sehingga kita mempunyai sikap yang benar ketika menghadapi ujian Allah.

1. Ujian adalah sebuah realitas kemanusiaan

Setiap manusia pasti diuji oleh Allah SWT, apakah ia orang beriman atau bukan, apakah ia orang kaya atau bukan. Sehingga redaksi kata yang dipilih adalah al insan

QS Al Insan 2: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur (nuthfah) yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

QS Al Mulk 2: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.

Ketika Allah menciptkan kematian dan kehidupan adalah untuk menguji siapa dari manusia yang terbaik amalnya.

Setiap manusia pasti diuji oleh Allah, dengan rasa sakit, haus, dan sebagainya

QS An Nisa 104: Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Dalam peperangan, ketika orang muslim luka, merasa sakit, begitu juga dengan yang non muslim. Semua sama.

Semua manusia sama, sehingga ketika kita diuji, kita tidak merasa sebagai orang yang paling menderita.

2. Ujian adalah realitas keimanan

Setiap mukmin pasti diuji Allah untuk mengetahui apakah imannya benar atau tidak, asli atau palsu.

QS Al Ankabut 2: Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

Ketika seseorang beriman, maka pasti ia diuji oleh Allah SWT. Ternyata tidak selamanya ujian itu buruk. Tidak selamanya ujian itu berupa sakit, karena sehat juga ujian. Tidak selamanya ujian itu berupa kemiskinan, karena kaya juga ujian. Tidak selamanya kekalahan itu ujian, karena kemenangan juga ujian, dstnya.

Ujian kemudahan justru lebih berat. Ketika sehat, sedikit orang yang emngingat Allah, dan ketika sakit ia banyak mengingat Allah. Ketika ia sulit, ia banyak mengingat Allah, dan ketika kaya, ia lupa mengingat Allah, seperti halnya Qarun.

QS Ibrahim 6: Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir`aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu".

Ketika Allah memberikan nikmat kepada Bani Israil berupa keselamatan dari kejaran Firaun, justru di situ ujian yang terbesar.

Ini memberikan pelajaran bagi kita bahwasanya kesenangan itu juga ujian. Sehingga kita waspada ketika diberikan kesenangan, kita harus tahu bahwa itu juga ujian.

Sungguh mengagumkan urusan orang beriman, ketika diberi ujian dia sabar, dan itu baik baginya, dan ketika diberi nikmat ia bersyukur.

3. Ujian adalah realitas dakwah

Setiap mukmin diwajibkan untuk berdakwah, mengajak kepada Allah, dengan hikmah, dengan ansehat yang baik, dengan cara berdiskusi yang terbaik, bukan dengan cara yang menyakiti seseorang.

Ternyata tidak ada profesi yang lebih baik daripada dakwah. Tapi orang yang berdakwah itu pasti diuji Allah.

1. Diuji dari internal
Diuji dengan orang2 internal dirinya, orang tua yang menyayanginya, anak2 yang membanggakannya, diuji dengan istrinya, dengan saudara2nya, dengan harta benda miliknya.

Jika dia tidak lulus dari ujian ini, maka akan keluar dari taat kepada Allah, dan ia menjadi orang yang fasik.

QS At Taubah 24: Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

Jadi ada 8 perkara yang merupakan ujian yang ebrasal dari internal aktifis dakwah:
1. bapak2nya
2. anak2nya
3. saudara2nya
4. istrinya
5. keluarga besarnya
6. Harta bendanya
7. Bisnisnya
8. Rumah2nya

Sehingga kita jumpai orang berdakwah mengikuti selera masyarakat, bukan mengikuti aturan Allah. Kalau ini terjadi, bisa2 kita tidak mendapatkan petunjuk dari Allah.

Ancaman Allah SWT bagi orang2 yang berdakwah yang lebih menyintai dunia daripada Allah, Rasululllah dan berjuang di jalan Allah, maka digunakan kata “bi amrihi”, yaitu sesuatu yang misterius yang mengancam seseorang dalam berdakwah.

Ketika kita jujur dalam berdakwah, komitmen, maka kita akan memilih jalan dakwah.

2. Ujian yang datang dari luar

Ujian yang berasal dari orang2 yang tidak senang Islam, tidak senang Al Quran, yaitu berupa:
1. Ditangkap dan dipenjarakan,
2. Dibunuh
3. Diusir

QS Al Anfal 30: Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Dan Allah mengingatkan dengan ungkapan “wa idz” yang artinya, “ingatlah di saat itu”, ini adalah ketentuan Allah yang akan berulang.

Ketika seseorang berdakwah, sesungguhnya ia menyebarkan kasih sayang kepada orang seluruh dunia. Tapi ingatlah bahwa dakwah bukanlah hamparan karpet merah. Karena dakwah akan mengganggu kesenangan mereka, hobi mereka, dsbnya.

Rasulullah SAW, pernah mau dibunuh oleh penduduk Quraisy, atas inisiatif dari setan yang berubah bentuk menjadi orang tua dari daerah Najn. Dia memanas2i orang2 Quraisy agar membunuh Nabi. Begitu pula realitas bagi para dai hingga saat ini.

3. Ujian adalah realitas ukuran standarisasi

Ukuran untuk melihat siapa yang paling tegar menghadapi ujian, itulah orang2 terbaik.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Nabi bersabda: “Manusia yang paling dahsyat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang2 yang shaleh, kemudian orang2 yang baik setelah zaman para Nabi dan orang2 sholeh.”

Orang yang tegas dalam memegang agamanya, maka akan ditambah lagi ujiannya. Kita pahami redaksi hadist ini, “ziidahalu,” yaitu orang itu diuji lagi demi kebaikan dirinya.


Jadi ketika orang mukmin diuji oleh Allah, lalu ia lulus ujian, maka ia akan lebih diuji lagi, dan ujian itu baik bagi dirinya, agar ia lebih tegar.

Senin, 01 Juni 2015

Sifat Sifat Orang Kafir dalam Kehidupan Dunia

Ketika Al Quran menjelaskan begitu panjang mengenai sifat2 orang kafir, ini bukan lah suatu kebetulan, karena Al Quran dibersihkan dari segala bentuk kebetulan. Ini supaya bisa diambil hikmahnya, yaitu orang2 beriman agar tidak menyerupai sifat2 orang kafir.

1. Beriman sepotong-sepotong

Beriman kepada Nabi fulan, tapi kufur terhadap Nabi yang lainnya.

Ini bisa kita lihat di dalam
QS An Nisa 150-151:

150. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, "Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)", serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir),

151. Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.

Mereka mengatakan, kami beriman dengan sebagian, dan kufur kepada sebagian.

Sifat seperti ini, kalau tidak waspada, bisa jadi ada orang2 beriman yang sifatnya mendekati orang kafir, yaitu memotong2 keimanan. Sebagai ornag beriman, kita mengakui dan m

Walau ia mengaku beriman, tapi ia sebenarnya kufur. Karena keimanan itu harus utuh, tidak bisa iman sebagian dan kufur kepada sebagian yang lainnya.

Ulaa ika humul kaafiruuna haqqo (mereka itu lah sebenar2nya orang kafir)

Allah menolak orang2 yang memilah2 keimanan, dan menegur mereka dengan teguran yang keras, dan menjadikan adzab yang berat di akhirat.

QS Al Baqarah 85-86
85. Apakah kamu mempercayai sebagian kitab dan kamu kafir dengan yang sebagian? Maka tidaklah ada ganjaran buat orang-orang yang berbuat demikian daripada kamu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia ini, dan pada hari kiamat akan di kembalikan mereka kepada sesangat- sangat azab. Dan tidaklah Allah lengah dari apa yang kamu kerjakan.

86. Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan akhirat, maka tidaklah akan diringankan dari mereka siksaan itu, dan tidak-lah mereka akan ditolong.

Allah hinakan orang beriman yang sepotong-sepotong.

Kaum muslimin yang dimuliakan dengan Al Quran dan Sunnah, jangan sampai mengikuti orang2 kafir, yaitu memilah memilih sesuai dengan hawa nafsunya.

Kalau ajaran toleransi di dalam Al Quran, dia mau terima, tapi kalau ajaran jihad, dia tidak mau. Atau sebaliknya. Justru ajaran jihad diterima, tapi ajaran toleransi ditolak. 

Kalau sudah memilah2 sesuai hawa nafsu seperti ini, maka akan terjadi kehinaan di dunia, dan di akhirat adzab yang keras.

2. Sebagian yang lain melindungi sebagian lainnya

Orang2 kafir di dunia ini hidup dalam satu masyarakat yang utuh, tidak terbelah, mereka saling mendukung dalam mempertahankan kekafirannya, dan saling mendukung dalam memerangi kaum muslimin, apa pun agamanya. Allah yang paling tahu sifat orang2 kafir.

QS Al Maidah 51: Hai orang2 yang beriman, jangan kamu jadikan Yahudi dan Nashoro sebagai wali-wali kamu.

Wali di antara maknanya adalah teman dekat, pemimpin, pelindung.

Karena mereka saling membantu, sebagian yang satu dengan sebagian lainnya.

Bila kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sudah menjadi bagian dari mereka. Mengaku beriman, tapi keberpihakannya kepada orang kafir.

Kita menyintai dan membenci itu adalah dalam rangka aqidah.

Ayat ini ditutup dnegan “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang2 dholim”

Ini artinya, orang2 yang menjadikan orang2 kafir sebagai teman dekat, maka Allah tidak akan memberikannya hidayah.

Meski seluruh dunia mengatakan ia benar.

QS Al Anfal 73: Orang-orang kafir itu, sebagiannya menjadi teman sebagian yang lain.

Jadi logikanya, orang beriman, harus lebih solid. Jangan sampai orang beriman cakar2an. Orang2 kafir saja bersatu padu dengan teman2nya, masak kamu orang beriman tidak bersatu padu. Kalau itu terjadi, maka akan terjadi fitnah yang besar.

3. Mengingkari janji

QS Ar Ra’d 25-26:
25. Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkannya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan berbuat kerusakan di bumi, mereka itulah memperoleh kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Jahannam).

26. Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit dan sementara) dibanding kehidupan akhirat.

Apa saja janji yang mereka rusak?
1. Wasiat/perintah Allah kepada makhluknya.
Ketika Allah memberikan perintah yang harus dicegah, maka mereka langgar.

2. Ayat ini yang berbicara ttg sifat orang kafir merusak janjinya, ini turun tentang ahlul kitab dan orang2 munafik di sekitar mereka. Yaitu mereka tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad, padahal di kitab sucinya, sudah tertulis akan adanya nabi terakhir bernama Ahmad. Jadi bukan karena mereka tidak tahu, tapi karena iri dan dengki.

Sesungguhnya Allah menjelaskan dalam ayat ini, seluruh orang yang syirik, kufur dan nifaq. Mereka semuanya merusak janji dengan Allah, janji tauhid, janji beriman. Ketika di dalam kandungan, sudah diambil janji, bahwa mereka beriman kepada Allah.

QS Al Anfal 55-57:
55. Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman.

56. (yaitu) orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, kemudian setiap kali berjanji mereka mengkhianati janjinya, sedang mereka tidak takut (kepada Allah)

57. Maka jika engkau (Muhammad) mengungguli mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, agar mereka mengambil pelajaran.

Allah sendiri yang mengatakan bahwa orang kafir adalah seburuk2nya makhluk bernyawa.

Kalau janji dengan Allah saja dirusak, apalagi janji dengan manusia.


Tidak sedikit umat Islam yang kalah dalam pertarungan karena mereka kalah terhadap janji2 orang kafir.