Senin, 20 April 2015

Jalan Menuju Kemandirian

Dalam kajian sebelumnya kita telah bahas tentang pentingnya kemandirian. Sehingga bangsa kita memiliki kemandirian, bangsa yang memiliki izzah (kemuliaan).

Bagaimana agar kita benar2 mandiri? Mandiri dalam ekonomi, pendidikan, politik, dan seluruh aspek kehidupan.

1. Planning

Jangan sampai kita terjebak dalam pekerjaan yang spontanitas. Kemandirian dilakukan harus dengan perencanaan yang matang. Perencanaan seperti apakah itu? Yaitu perencanaan yang berangkat dari perhitungan yang matang, sehingga tidak berangkat dari perkiraan2. Yang dibutuhkan adalah:

a. harus dengan angka2 yang benar, dan kongkrit.
b. pengangkuat yang benar tentang kebutuhan2 yang harus dipenuhi
c. sejauh mana urgensinya,
d. menentukan prioritas mana yang didahulukan dari hal2 yang dianggap urgen itu
e. potensi atau kemampuan yang tersedia, harus dihitung juga.
f. sarana apa yang mudah untuk memenuhi kebutuhan2 kita
g. obsesi kita ke depan. Sudah tentu anak yang kita didik sekarang, bukan untuk menjadi pemimpin sekarang, tapi pemimpin masa depan. Jadi kita lihat obsesi beberapa puluh tahun ke depan.

Seorang khalifah didatangkan guru khusus sebagai bekal untuk ia memimpin beberapa puluh tahun ke depan.

Kenapa Rasulullah harus berjuang selama 13 tahun di Mekkah dan kemudian tempat berjuang selanjutnya adalah Madinah, dan bukan Mekkah yang menjadi ibu kota, tapi Madinah?

Ini adalah bentuk perencanaan Allah agar Nabi menuju kepada kemandirian. Nabi ketika diusir dari Mekkah, tidak meminta tolong kepada Yahudi, Nashoro, Persia maupun Romawi. Itu semata2 karena Nabi ingin membangun kemandirian.

Bagaimana dengan perencanaan ekonomi sebuah Negara, bisa kita lihat dalam kisah yusuf yang mempersiapkan ekonomi Mesir sehingga menjadi Negara yang besar. Ketika negara2 lain sedang menghadapi musim paceklik, 

Terjemah QS Yusuf 47-49:
47. Dia (Yusuf) berkata, "Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.

48. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu siapkan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.

49. Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras anggur."

Perencanaan Nabi Yusuf:
Tujuh tahun bersemangat agar masyarakatnya benar2 bertani
Tujuh tahu agar bertahan di masa paceklik dengan sedikit gandym yang disimpan
Satu tahun memeras anggur dan hujan sudah mulai turun, berakhir masa paceklik.

Beliau 15 tahun telah mempersiapkan ekonomi yang kuat. Bukan semata2 karena beliau seorang Nabi, tapi Nabi yang manusiawi, Nabi yang benar2 merancang perencanaan.

Ketika individu, keluarga, masyarakat, Negara sudah benar2 mempunyai planning yang mendalam, dengan kaafah (kemampuan diri) yang tepat.

2. Pengembangan Sistem yang ada di tengah kehidupan Bangsa dan Negara

Kita bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kapada para pahlawan dan ulama kita yang memperjuangkan kemerdekaan dari Belanda. Tapi kenapa seseorang yang merdeka masih mau menggunakan UU yang dibuat oleh penjajah.

Manusia manapun yang mendapatkan kemerdekaan dan ini tidak gratis, melainkan melalui perang, maka kita harus melihat kembali system yang ada.

Sudah diberikan contoh oleh Rasulullah, tidak perlu melihat dari luar. Solusinya adalah Al Quran dan As Sunnah, karena itu adalah rahmat bagi seluruh alam semesta.

Meliputi dimensi system:
Pendidikan,
Pelatihan2

Ini semua harus diperbaharui agar dinamis. Kita inginpunya mobil yang besar, sementara di sekolah anak2 kita, mobil yang dipakai untuk belajar, masih mobil peningalam zaman dulu.

Di Negara lain, dia beli itu mobil, pesawat, untuk mengikuti dan bahkan melebihi Negara pembuatnya.

Kita ini dididik oleh Al Quranul karim bukan hanya memimpin untuk sekarang, tapi juga ke depan hingga yaumul akhir.

3. Seluruh potensi dalam bidang kehidupan, harus dikembangkan.

Kalau kita meyakini, dan memang harus yakin, bahwa tidak ada ekonomi yang lebih baik daripada ekonomi Rasulullah. Mata uang yang dipakai adalah emas dan dinar, yang tidak akan terkena imbas mata uang asing. Kenapa kita tidak menggunakannya?

Pengulangan2 yang baik2 itu harus kita kembangkan, jangan memulai sesuatu yang buruk.

Potensi2 manusia yang harus didistribusikan sesuai dengan kemampuannya. Tidak harus semuanya mengerjakan satu jenis pekerjaan yang sama.

Terjemah QS At Taubah 122:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Padahal kita tahu jihad adalah amal utama setelah iman, tapi tidak boleh semuanya pergi jihad. Dibagi tugas.

Tidak semuanya harus menjadi Ibnu Abbas, yaitu seorang yang faqih, tapi ada juga yang menjadi Khalid bin Walid, yaitu seorang panglima perang yang hebat

Bukan berarti Khalid bin Walid adalah segala2nya. Karena pada masa Umar bin Khattab, panglima perang diganti, bukan lagi Khalid bin Walid, karena pada masa itu ada semacam keyakinan di kalangan ummat bahwa “kalau Khalid memiimpin, kita pasti menang.” Padahal yang memenangkan adalah Allah, bukan Khalid.

Abdurrahman bin Auf, adalah pedagang yang sukses. Ketika beliau datang dari Mekkah sebagai kaum Muhajirin, lalu akan diservis oleh orang Anshor, beliau menolak dengan mengatakan, “tunjukkan aku di mana pasar.”

Abdurrahman bin auf yang dulunya miskin, bisa juga menjadi kaya.

Ternyata generasi terbaik yang dididik oleh Rasulullah, tidak dipola untuk seragam, Ada samlman al farisi yang ahli strategi perang, dan ada juga yang zuhud.

Jika kita tidak memperhatikan perencanaan, maka yang akan terjadi adalah, kita kaum muslimin, berada di suatu ,lembah, tapi Islam yang begitu indah, begitu syumuul, tidak berada di lambah yang sama.

Kemandirian itu tidak spontanitas. Dibutuhkan adanya perencanaan dan pengembangan.


Ketika di suatu masyarakat yang bermasalah adalah aqidahnya maka kita perkuat aqidahnya. Ketika suatu Negara yang bermasalah adalah kekuatan militernya, maka kita harus membantu sehingga kita menjadi bangsa yang kuat yang memiliki izzah sehingga tidak dibegal oleh bangsa lain.

Minggu, 19 April 2015

Edisi Akhir Pekan 19 April 2015: Sudut Pandang Islam dalam Dunia Kerja (Perlindungan terhadap pekerja)

1. Al Islam adalah agama kasih sayang

Islam adalah agama kasih sayang sebagaimana yang digambarkan di dalam QS Al Anbiya 107, bahwa inti dari risalah yang dibawa Rasulullah adalah rahmah buat alam semesta

Terjemah QS Al Anbiya 107: Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Rahmah memiliki makna yang luas. Seluruh aspek kehidupan kita harus diisi dengan kasih sayang (rahmah).

Umat manusia, terutama para pengusaha dan pejabat, hendaknya bersungguh2 memberikan kasih sayang kepada para pekerja. Kasih sayang ini hadir dari kepekaan dalam berIslam.

Islam adalah agama rahmat, apalagi kepada orang2 yang lemah, yang susah. Orang2 yang bekerja sebagiannya adalah orang yang susah ekonominya.

Sebenarnya esensi mendapatkan keuntungannya bukan dari sisi pekerjanya, tapi justru dari sisi orang yang mempekerjakan.

Hadist, “Sesungguhnya kamu ditolong dan diberikan rezeki oleh Allah, disebabkan melalui orang2 yang lemah di antara kalian.”

Ketika karyawannya peka dengan agamanya, pengusahanya peka terhadap agamanya, maka tidak akan terjadi lagi berita2 tentang kedzholiman dalam hal bekerja seperti yang akhir2 ini kita dengar.

“Berbuatlah kasih sayang kepada makhluk di muka bumi, maka kamu pasti dikasihi oleh yang ada di langit.”

Sehingga orang2 yang ada di bawah kita, apakah suami kepada anak dan istrinya, pemerintah kepada rakyatnya, atasan kepada bawahannya, dsbnya itu seharusnya dilakukan dengan kasih sayang.

Hubungan Allah dengan seluruh hambaNya adalah hubungan kasih sayang. Dan inilah yang harus kita tiru. Itulah sebabnya awal dari membaca Al Quran, yang dibaca adalah Bismilllahirrohmaanirrohiim.

2. Al Islam adalah agama kerja.

Tidak ada tempat dalam ajaran Islam bagi pemalas. Tidak ada tempat bagi seseorang yang tidak bersungguh2.

Terjemah QS At Taubah 105: Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Untuk menggambarkan betapa besarnya kedudukan orang2 yang bekerja, sampai2 ayat yang membicarakan masalah bekerja ini diawali dengan kata “qul”

Di antara konsekuensi logis dari bekerja adalah al ihtimam bil umam. Instruksi Allah itu konsekuensinya wajib, maka ketika instruksi bekerja itu adalah wajib, kita juga wajib memperhatikan pekerja kita. Karena kualitas hasil kerja adalah tergantung dari perhatian terhadap pekerjanya. Seperti misalnya, tidak boleh menunda membayar gaji pekerjanya.

3. Pekerjaan yang ahsan (yang terbaik)
Ketika Islam berbicara tentang kerja, dan pekerjaan, maka hal itu bukan sekedar “yang penting kita sudah bekerja.” Tapi di Al Quran disebutkan pekerjaan yang dilakukan adalah yang ahsan (yang terbaik)

Terjemah QS Al Mulk 2: untuk menguji kalian, siapa yang terbaik amalnya.

Bukan sebatas siapa yang baik amalnya. Bukan juga seperti yang dikatakan sebagian orang, “ah, yang penting saya sudah digaji.”

Apa yang dimaksud dengan ahsanu amala?

1. ikhlas
Yang segala2nya bukan uang, tapi amalnya diterima Allah karena dia ikhlas bekerja.
Sama juga dengan menggaji karyawan. Apakah menggaji dengan ahsan? Kalau emnggaji dengan cara nge boss, mengumpat, dsbnya, maka itu tidak ahsan. Bahkan dalam memanggilpun dicontohkan Rasulullah, dengan panggilan penuh kasih sayang.

Nabi bersabda, “jangan panggil budakmu dengan kata wahai laki2ku, perempuanku, tapi panggillah wahai pemudaku/pemudiku”

Karena panggilan seperti itu memberi semangat.

2. yang paling benar kinerjanya.

Ukuran yang paling benar adalah mengikuti Rasulullah.

Nabi menggaji pegawainya, sebelum kering keringat pekerjanya.
Selama 10 tahun Anas ra berkeja kepada Nabi tidak pernah dikatakan secara kasar.

Kasih sayang seperti ini akan memberikan dampak yang lebih luas kepada umat manusia dalam dunia kerja.

Pertanyaan #1. Antara ikhlas dengan pekerjaan. Terutama di bidang yang hubungannya dengan agama, misalnya guru ngaji. Kan ada yang berkata, “itu kan berdakwah, dia mengajarkan orang beragama Islam,” karena bila dianggap harus ikhlas, maka dari segi profesionalitas ia diberikan gaji yang rendah..

Jawab:

Tidak ada amal perbuatan dalam hal ibadah, kecuali itu ada niat yang namanya ikhlas. Ikhlas itu tidak sebatas menjadi guru ngaji, tapi juga menjadi presiden dsbnya.

Karena itu adalah syarat diterimanya amal.

Jangan sektoral dalam memahami amsalah. Jangan berkata seolah2 kalau ikhlas tidak berhubungan dg porfesionalisma. “Sudahlah gak usah professional, kan yang penting kita ikhlas.” Tidak!

Ikhlas juga harus ihsan (profesionalisme). Ketika kita menghadirkan yang terbaik untuk bos kita, atasan kita, itu juga harus ikhlas karena Allah.

Jangan sampai ada dikotomi antara iklhas dengan ihsan, karena di dalam Islam semuanya adalah kesatuan.

Sayang saja kalau kerja kita dinilai dengan uang saja.

Tidak lah kesenangan dunia dibandingkan dengan akhirat, itu perbandingannya hanya sedikit.

Berapa pun asset dikumpulkan dalam dunia kita, kalau tidak berefek apa pun dengan kebaikan akhirat kita, tidak ada maknanya.

Kalau seluruh aseet yang bernilai gunungan milyar, tapi bila ditimbang dg timbangan akhirat, itu beratnya hanya sebesar nyamuk.

Bukan semata2 guru ngaji saja, tapi juga pekerjaan apa saja harus bekerja secara ikhlas.

Gaji guru TK di zaman Umar bin Khattab, kalau diuangkan ke zaman sekarang, sekitar 13 juta se bulan.

Jadi ini ditujukan kepada para pemberi gaji, agar ihsan dan ikhlas dalam memberi gaji. Yang lebih bagus, gaji yang banyak dan ikhlas memberikannya, daripada gaji yang sedikit tapi tidak ikhlas.

Pertanyaan #2. Kalau kita menyimak berita ternyata para pekerja hanya diimingi kerja di LN, tapi ternyata mereka hanya disekap di dalam negri.

Bagaimana Islam memandang hal ini?

Jawab:

Pertama, di dalam ajaran Islam, yang berkaitan dengan berbangsa dan bernegara, dan juga berkaitan dengan dunia kerja, itu tidak cukup dengan iming2 dari yang mempekerjakan, tapi juga harus ada al hisbah dalam amar maruf nahi munkar. Tugas al hisbah adalah petugas resmi dari pemerintah yang memerintahkan orang berbuat maruf dan mencegah orang berbuat munkar. Seperti dalam masalah pekerja ini, al hisbah memerintahkan pemberi kerja agar memberikan gaji dengan baik, dan al hisbah juga dapat bertugas mencegah terjadinya penyekapan terhadap pekerja, dll.

Ini sebenarnya tugas setiap muslim, tapi akan lebih kuat lagi, bila ditunjuk pekerja khusus yang disebut al hisbah tadi dengan UU. Karena tidak semua atasan yang sadar memberikan gaji pada waktunya, dan juga tidak selamanya pekerja bekerja dengan baik, dengan benar.

Pertanyaan #3. Itu sebenarnya adalah fardhu ain, tapi al hisbah harus ada payung hukumnya. Kalau ada komunitas2 yang melakukan amar maruf nahi munkar, itu bisa tidak ya?

Jawaban:
Pada dasarnya, seluruh kerja itu berdasarkan amal jama’i, sama2 bekerja dan bekerja sama. Jadi bukan hanya tugas pemerintah saja, tapi juga kesadaran rakyat amar maruf nahi munkar. Kalau berjalan sendiri2, maka dikhawatirkan adalah pelaksanaannya di lapangan. Jadi yang lain jangan hanya berkomentar saja, atau saling menyalahkan, memvonis. Apalagi kalau sudah masuk ke dalam media, malah dijelek2kan, karena tidak semua media suka dengan Islam.

Jadi insan media, ulama, pemerintah, harus menjadi satu kesatuan dalam amar maruf nahi munkar.

Pertanyaan #4. Bagaimana Islam memandang hubungan antara pekerja

Islam juga agama keadilan.
Tidak ada tempat di dalam Islam bagi kedzholiman

Berbuat adillah, karena adil itu dekat kepada taqwa.”

Keadilan antara pekerja dengan yang mempunyai usaha.
Jangan sampai yang dituntut adil hanya pengusaha, tapi karyawannya juga harus juga adil.

Jangan sampai kita sebagai guru, hanay sebatas dapat gaji. Murid ngantuk dibiarkan, jangan sampai seperti itu.

Jangan lah kamu berkhianat terhadap amanat2 kalian.”

2. Adil dalam hak dan tanggungjawab.
Yang dituntut untuk bertanggung jawab bukan hanya atasannya saja, tapi juga karyawannya. Harus diperhatika hak pemilik perusahaan agar peusahaan maju, dan juga hak karyawannya agar tetap sehat, aman dalam pekerjaannya.

Jangan sampai sebuah perusahaan menganggap enteng nyawa pekerjanya. Karena yang biasanya melayang nyawa dalam pekerjaan adalah pekerjanya. Padahal sama saja, nyawa pemilik perusahaan sama mahalnya dengan nyawa pekerjanya.

Kita harus mendahulukan kewajiban daripada hak. Seperti iyya kana’ buduu wa iyya kanastain.

Jangan hanya terus mendemo hak, tapi tidak meningkatkan kualitas kerjanya

3. Berlaku adil dalam mencari solusi dalam permasalahan.

Dalam dunia pendidikan, tidak semuanya mulus2 saja. Ada saja masalah, kenaikan harga, dsbnya.

Di antara contoh dari Negara tetangga, ketika perusahaan itu ada sesuatu, yang diambil solusinya bukan mengusir karyawannya, tapi dengan memotong sedikit gaji para petinggi2 sehingga para karyawan tetap bisa bekerja.

Jadi tidak ada lagi istilah orang itu berpihak pada pihak guru, atau orang itu berpihak pada yayasan, dsbnya. Kita semua harus berpihak pada keadilan.

Ini adalah wata aawanu alal birri wattaqwa, walaa ta ‘aawanu alal istmi wal ‘udwan.
Saling tolong menolong dalam berbuat kebajikan dan taqwa, bukan dalam dosa dan permusuhan.


Sabtu, 18 April 2015

Edisi Akhir Pekan 18 April 2015: Kekerasan bukan Warisan Islam

Islam hadir ke dunia ini untuk membangun akhlaq yang mulia. Sehingga akhlaq atau moralitas, atau tradisi2 yang berkaitan dengan kekerasan dan kekejaman, adalah jauh dari Islam. Bahkan Islam justru melarang hal itu.

Sebelum datangnya Islam, yang terjadi adalah kekerasan dan kebiadaban di masyarakat Quraisy. Kekerasan terhadap istri, sehingga tidak ada harganya di mata suami, bisa saja suami punya istri sampai 10. Kekerasan terhadap anak perempuan, kalau lahir dikubur hidup2. Kekerasan terhadap anak yatim, yang dikawini untuk menguasai hartanya. Kekerasan kepada budak2, dsbnya.

Ketika Islam datang, semuanya diatur, sehingga dibatasilah menikah hingga 4 saja, dilaranglah membunuh anak, dstnya.

Terjemah QS Al Qolam 4-5:
4. Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.
5. Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,

Dengan akhlaq yang mulia ini, jauh dari kekejaman, jauh dari kekerasana, maka akan terjadi akselerasi dakwah di negri itu.

Karena pada hakekatnya, manusia itu adalah penonton. Ketika melihat Nabi didzholimi tapi kok Nabi tetap berbuat baik, maka masyarakat yang melihat hal itu kemudian mendukung Islam. Dunia melihat Islam ketika yang ada adalah akhlaq yang baik, bukan kekerasan dan kekejaman.

1. Seolah2 inti ajaran Islam adalah akhlaq.
Hadist,Sesungguhnya aku diutus, (tiada lain, kecuali) supaya menyempurnakan akhlak yang mulia”
Berakhlaq mulia dalam segala sisi kehidupan, dalam segala kondisi. Baik itu di dalam berumah tangga, dalam bermasyarakat, dalam bernegara. Juga dalam dunia politik, bisnis, pendidikan, dsbnya.

2. Akhlaq yang mulia, yaitu jauh dari kebohongan, kekerasan, dsbnya, adalah ukuran/mizan/timbangan keimanan seseorang.
Yang paling mulia

Al Hujraat 13: Inna akromakun indallaahu atsqooqum
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. 

Termasuk kebaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga Allah akan turunkan barokah dari langit dan dari bumi.

Tidak ada tempat bagi kekerasan di dalam Agama.

Ketika kekerasan kekejaman dilarang oleh Allah SWT, maka hal itu dilarang dalam seluruh aspek kehidupan.

1. Tidak boleh membahayakan diri sendiri
Hadist, “Janganlah kalian menceburkan diri kamu sendiri ke dalam kebinasaan.”

2. Dalam rumah tangga
Ini bukan berarti dalam rumah tangga tidak ada masalah. Di dalam rumah tangga Rasulullah, rumah tangga terbaik juga ada masalah, tapi cara menanganinya adalah cara Allah. Maka suami dan istri harus berlomba2 dalam mewujudkan mawaddah wa rohmah.

Jangankan kepada suami atau pun istri, bahkan kepada orang yang membantu di rumah kita, yang zaman dulu ada budak, bahkan sampai memanggilnya saja harus yang lemah lembut. Apalagi terhadap istri.
Hadist, “Jangan kau panggil, wahai budakku, tapi panggillah wahai pemudaku”.
Meskipun budak tidak sama dengan pembantu, tapi dalam memanggil pembantu pun harus lemah lembut.

Memanggil dengan panggilan yang buruk saja dilarang, apalagi sampai mencederai fisik, menghancurkan masa depannya, dsbnya.

Penyebab kesalahan dalam memahami Islam, adalah:

1. salah dalam menggunakan referensi,
Baik itu referensi bukunya, gurunya, temannya, atau bahkan mungkin malah menggunakan mimpinya sebagai referensi. Ini salah. Referensi yang benar adalah Al Quran dan Al Hadist.

Misalnya, ada sebagian orang yang tidak suka terhadap para Sahabat Rasulullah. Padahal Allah SWT ridho terhadap para Muhajirin dan Anshar. Lalu ada orang yang tidak ridho kepada para sahabat ini, dengan mengatakan bahwa hidup mereka itu berdarah2. Bagaimana mungkin dia tidak ridho kepada para Sahabat, sedangkan Allah yang menciptakan diri si orang yang tidak ridho ini saja, meridhoi para Sahabat?

Terjemah QS At Taubah 100: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.


2. Salah dalam metodologinya

Harus husnudzhon terhadap Al Quran dan As Sunnah.
Jangan mengikuti pemikiran seseorang. Jangankan mengagumi pemikiran Barat, apalagi mengikutinya.

3. Bagaimana pertanyaan “ada perbedaan pendapat antara para sahabat?”

Perbedaan itu adalah yang temporer, sedangkan kehidupan mereka yang lebih dominan adalah mereka rukun dalam berlomba2 dalam kebaikan.

Kalau kamu menginfakkan emas sebesar gunung, tetap tidak mampu menandingi amal kebaikan para Sahabat.

4. Mereka semua ahli ijtihad
COntoh, ketika Ali menuntut agar secepatnya ditegakkan hukum atas pembunuh Ustman, sementara belum jelas siapa otaknya, Maka sama2 punya dalil, dan mereka adalah ahli ijtihad.

Seandainya terjadi kesalahan dalam ijtihadnya, namanya juga meraka manusia, dan itu bedanya mereka dengan Nabi. Maka para ulama mengatakan, “semoga kesalahan2nya tenggelam dalam lautan kebaikan2nya”

Sehingga kita tidak berlebihan dalam menilai. Juga terhadap orang tua kita, guru kita.

Pertanyaan #1. Ketika perang itu tidak langsung menyerang, tapi sebelumnya ada ayat yang turun tentang itu. Pak Kiyai akan menerangkan lebih lanjut tentang hal ini ya.

Jawaban:
Al Quran adalah kitab yang termulia, terbaik, tetapi Al Quran juga kitab yang realistis. Idealnya, kalau kita mengikuti ajaran Islam secara benar, dunia ini harus aman, tapi realitasnya ada orang2 yang bathil yang ingin melenyapkan kebenaran.

Ketika orang2 kafir Quraisy itu bukan sekedar kafir, karena laa ikrooha fiddin (tidak ada paksaan dalam agama), tapi kenyataannya mereka ingin melenyapkan Islam.

Nabi sudah hijrah ke Madinah, tapi masih dikejar dan diserang.

Ketika di periode Makkah selama 13 tahun, muslim diteror dan bahkan sudah ada yang dibunuh (yaitu Sumayyah ra), Sahabat ada yang bertanya, “dulu kita mulia di zaman jahiliyyah, tapi kenapa setelah masuk Islam kita disakiti, mari kita perangi mereka.” Tapi Nabi menjawab, “kita belum disuruh untuk perang, maka saat ini dirikan sholat dan kerjakan zakat saja,”
Ini menandakan bahwa perang bukanlah keinginan Nabi, tapi sepenuhnya adalah perintah Allah. Allah pencipta manusia, yang paling tahu manusia, walau sesungguhnya manusia itu tidak suka perang, tapi ada saatnya diperintahkan.

Terjemah QS Al Baqarah 216: Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Contoh lainnya adalah ulama2 kita. Siapa sih yang suka dengan perang? Tapi Belanda harus diatasi dengan perang. Perang harus diatasi dengan perang. Itu mempertahankan diri.

Tahapan berperang di Islam
1. diberitahu dulu supaya masuk Islam
2. diperintahkan untuk bayar pajak, dan Nabi melindungi kafir dzmmy (yaitu yang membayar pajak) dilindungi oleh Nabi.,


Tidak mungkin ketika sedang sholat, diperangi.

Ketika orang2 yang dzholim curang dalam pemilu, dunia diam saja, bahkan belum selesai penghitungannya, sudah diucpakan selamat. Sedangkan bila yang menang adalah muslim, pemilu itu dikudeta, padahal panitianya mereka juga.

Konflik adalah sesuatu yang tidak kita inginkan, tapi adalah realitas yang tak terbantahkan. Yang dibutuhkan saat menghadapi konflik:

1. Sebuah keniscayaan atas pemahaman fiqh ikhtilaf

Tidak semua perbedaan harus menghasilkan konflik. Perbedaan yang merupakan perbedaan fariatif, maka tidak boleh melahirkan konflik.

Ada yang satu qunut dan yang satu tidak qunut. Jangan

Ada yang satu partai Islam yang satu bukan, harusnya sama2 berdakwah

Perbedaan yang dilarang adalah perbedaan yang memecahbelah hati umat Islam.

Perkara berbeda partai Islam, berbeda gurunya, itu sah sah saja. Yang tidak boleh memecah belah, padahal Allah yang menyatukan hati para kaum mukmin.

Kalau kamu menginfakkan wahai Muhammad, maka kamu tidak bisa menyatukan hati emreka, Allah lah yang menyatukan hati mereka.

Umat tidak boleh dipecah belah hanya karena kekuasaan, ketenaran,

2. Harus memiliki hikmah dalam menghadapo perbedaan yang kontradiksi

Misalnya, ketika beda agama, beda orientasi politiknya, maka yang harus dipahami adalah: jangan memaksakan kehendak.
Bahkan memaksakan orang masuk Islam, itu tidak boleh. Laa ikroo ha fiddiin (tidak ada paksaan dalam agama) ini yang dimaksud adalah segala bentuk pemaksaan dalam agama. Ada yang mengatakan, “kalau nanti yang berkuasa orang Islam, nanti bagaimana nanti? Ini kan Negara multi agama, multi budaya, dsbnya.”
Jawabannya, “jangan khawatir. Karena di dalam Islam tidak boleh ada pemaksaan dalam menjalankan perintah ajaran Islam bagi yang non muslim.”

3. Harus waspada dari melakukan pelarangan terhadap kemungkaran, jangan sampai timbul kemungkaran yang lebih besar lagi.

Memang manusia tidak boleh diam dalam melihat kemungkaran, tapi jangan sampai menciptakan kemungkaran lebih besar lagi.

Rokok tidak boleh, lalu karena cara memeranginya salah, malah membuat orang itu memilih narkoba sekalian.

Pacaran tidak boleh, tapi karena cara memberitahukannya salah, malah membuat anak itu malah zina yang lebih jauh lagi. Naudzubillahi minm dzalik.

Kita harus lebih memperhatikan masalah yang lebih besar, yaitu masalah persatuan ummat. Jangan sampai masalah yang kecil, ribut, membuat kita lupa dengan yang lebih besar, yaitu persatuan umat Islam.

Imam Syafii meninggalkan qunut ketika menjadi imam di jamaah yang tidak qunut. Padahal Imam Syafii biasanya qunut. Karena qunut itu Sunnah, sedangkan menjaga ukhuwwah adalah wajib.



Jumat, 17 April 2015

Kemandirian Sebuah Bangsa

Upaya2 untuk mewujudkan kemandirian ini oleh ulama fiqh disebut sebagai fardhu kifayah. Kalau tidak mandiri, maka medianya dijajah, hukumnya dijajah, ekonominya dijajah, dll.
Setiap ilmu, setiap amal, setiap industri, setiap keahlian, apa pun namanya, yang ini merupakan kebutuhan seluruh manusia, maka wajib dipelajari dan diajarkan. Tidak ada dikotomi antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Itu lah yang disebut ilmu dalam Al Quran dan As Sunnah. Kita memang mementingkan ilmu syariyyah, tapi kita tetap wajib mempelajari ilmu2 lainnya.
Sehingga kaum muslimin tidak akan dijajah oleh bangsa lain.
Walau ulama fiqh menyebutkan ini sebagai fardhu kifayah, tapi bisa kita naikkan menjadi fardhu ain.
Al Munaafiqun 8:
Ayat ini menegaskan bahwa izzah itu milik allah, Rasulullah dan kaum muslimin.
Kaum muslimin pada zaman Rasulullah tidak mendatangkan penasehatn strategi dari bangsa romawi, persia maupun yahudi, tidak mendatangkan alat perangnya dari negri lain, itu lah sebabnya Muslim pada masa Rasulullah memiliki izzah.
Kemandirian menghasilkan izzah.
An Nisa 141:
Di sini Allah SWT menekankan "Allah tidak akan membiarkan orang2 kafir menguasai kaum muslimin."
Kapan itu? Yaitu ketika kaum muslimin mempunyai istiqlal (kemerdekaan). Dia bukan boneka. Umat Islam ketika dijadikan oleh Allah sebagai sayyid (pemimpin), maka dia harus memimpin dunia. Dia bukan menjadi abdi dalem, tapi menjadi Abdullah.
Kapankah itu? Yaitu ketika kita benar2 mandiri.
Ketika umat Islam diberikan instruksi oleh Allah menjadi ustadzul alam (guru dunia), maka itu semua akan terjadi dan pasti terjadi.
QS Al Baqarah 143:
Yang demikian, kami jadikan kalian kaum muslimin, ummatan washata.
Makna washat,tidak selamanya artinya tengah, karena kalau hanya diartikan tengah saja, nanti orang menjadi tidak mempunyai sikap. Kalau ada kebathilan, kita tidak boleh berada di antara bathil dan haq.
Maka di antara makna washat, adalah yang terbaik, yang tertinggi, seperti hadist nabi tentang syurga firdaus, yaitu yang tertingga, yang terbaik.
Umat Islam, selain yang tengah, juga menjadi yang terbaik.
Artinya, di dalam ayat ini Allah SWt mewajibkan kita menjadi syuhada (saksi). Yang namanya saksi itu harus tahu. Hubungan antara kepemimpinan dengan izzah (kemuliaan). Tidak ada kemuliaan bagi sebuah bangsa, sementara peralatan militernya impor dari negara lain, di mana negara tersebut bisa kapan saja menjualnya, berapa saja semaunya ia menjual, bisa juga kapan saja dia embargo.
Atau juga yang berkaitan dengan pangan dan kebutuhan2 lainnya.
Tidak ada kepemimpinan yang sejati. Ketika ummat ini tidak mempunyai kemandirian, maka apa saja dia impor.
Tidak ada kepemimpinan yang hakiki bagi bangsa yang dalam kepemimpinannya itu menggantungkan dirinya pada para pakar dari bangsa lain.
Kita tidak akan bisa menguasai kekayaan kita sendiri, kalau kita mengandalkan penasehat ekonomi, politik, militer dari orang lain.
Maka dari itu ketika Umar bin Khattab ditawarkan penasehat2 dari orang kafir, maka Umar menolaknya, "apakah saya tidak dapat memimpin negaraku?"
Kenapa umat Islam tidak bisa dikalahkan oleh Romawi, Persia, karena Nabi mandiri, tidak mengandalkan bangsa lain.
Tidak ada kemandirian sebuah bangsa yang tidak memiliki pertanian yang mandiri. Bagaimana jika kita mempunyai selera makanan, yang diimpor bahannya dari luar negri, suatu saat akan kesulitan mendapatkan makanan kesukaannya itu.
Bagaimana sebuah bangsa bisa bangkit berkuasa penuh, ketika industri dan barang2 berat itu diimpor dari negara lain. Padahal kita punya anak2 bangsa yang hebat2 di luar negri. Kenapa mereka tidak disuruh pulang.
Ulama menulis buku, tentang fenomena hijrahnya orang2 muslimin hijrah ke negara2 kafir, karena hal itu akan memperkuat negara2 itu dan melemahkan negrinya sendiri.
Potensi2 yang luar biasa ini harus dimotivasi agar kembali ke negaranya agar negaranya menjadi negara yang besar.
Tidak mungkin negara ini menjadi guru dunia, sementara ummat ini tidak punya alat untuk menyampaikan ilmunya, seperti media. Sementara kaum muslimin yang punya pemahaman Islam yang bagus, tapi tidak bisa disampaikan ke seluruh dunia.
Semoga kita menjadi ummat terbaik, yang ditampilkan menjadi guru dunia.

Kamis, 16 April 2015

Beberapa Sarana Yang Diharamkan oleh Allah dalam Rangka mengembangkan Modal



Di dalam kajian sebelumnya, kita diperintahkan oleh Allah untuk mengembangkan harat kita sehingga tidak terjadi hal2 yang tidak ada gunanya, tidak terjadi pengangguran, dll. Yang namanya asset jika tidak dikembangkan, maka akan mengalami penurunan. Itu semua harus terikat oleh cara2 yang baik. Tidak boleh mengatakan, “ini uang saya, terserah saya mau mengembangkan dengan cara apa pun.”

Kaum Nabu Syuaib pernah mengatakan, “ini harta saya, kenapa kamu sibuk2 dengan ini ya Syuaib?”

Hud 87: Mereka berkata, "Wahai Syu'aib! Apakah shalatmu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki. Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai."

Jangan sampai, anak bangsa ini terperangkap dengan hal2 yang sekedar nilai2 nominal. Akhlaq itu penting. Seolah2 inti ajaran Islam itu adalah akhlaq.

Nabi bersabda; “sesungguhnya aku diutus semata2 untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

Padahal ada pendidikan, politik, militer, bisnis. Tapi kenapa yang disebut hanya akhlaq? Karena akhlaq sangat penting. Ketika orang2 mengatakan politik itu kotor. Yang benar adalah orang2nya yang kotor,

1. Ar Riba
Kenapa riba itu haram? Karena orang yang punya asset ketika ia riba, yang ada di benaknya adalah, bagaimana uangnya bertambah2 tanpa mempedulikan orang lain. INi menghasilkan orang yang egois. Bagaimana jadinya suatu bangsa bila orang2 nya hanya egois. Bagaimana mau mengatasi bahaya2 di negrinya, bahaya kekerasan, bahaya begal, dsbnya.

Kalau masih riba, maka yang terjadi adalah yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin.

Dalam QS Al Baqarah 278, Allah mengingatkan seluruh hambaNya yang beriman untuk meninggalkan riba.

Terjemah QS Al Baqarah 278: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

Mari renuni ayat ini:
1. Allah memanggil kita dengan panggilan yang mesra, “hai orang2 beriman,” menggambarkan bahwasanya ketika Allah menyintai hamba2Nya, dipanggil dengan panggilan kasih sayang.
2. Panggilan kasih sayang itu isinya juga kasih sayang, yaitu “tinggalkan sisa2 riba” sehingga harta itu bersih, tidak ada noda2 riba.
Dan ungkapan
3. Meninggalkan riba merupakan diskursus keimanan. Ketika kaum muslimin benar2 riba, tidak ada sedikitpun yang tersisa, itu tandanya dia beriman. Bukti kita beriman, selain sholat adalah meninggalkan riba.
4. Dalam penutupnya berbunyi, inkuntum mukminin (jika kalian benar2 beriman).

Agar kita semua anak bangsa ini diselamatkan dari kejahatan riba.

Riba adalah sebuah kebangkrutan,sedangkan sedekah itu membangun.

Agar kita selamat dari riba, karena riba secara dzhohir memang kelihatan enak dan menarik, dan memang orang2 kafir itu hanya tahu yang dzhohir saja dan mereka lalai dengan kehidupan akhirat.

Berbeda dengan kaum muslimin, yaitu harta yang halal didapatkan juga dengan cara yang halal dan digunakan juga untuk yang halal.

Bagaimana bisa diam saja tapi kemudian mendapatkan uang. Orang miskin dapat uang tapi dia tenang2 saja.

Tidak sedikit, orang yang tahu hukum Islam tapi diterjang juga. Siapa yang tidak tahu korupsi itu haram, begal itu haram, zina itu haram? Semuanya tahu itu haram, tapi tetap diterjang juga, karena tidak ada keimanan di dalam hati.
Terjemah QS Al Baqarah 279: Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.

Ayat ini merupakan ancaman Allah bagi para pelaku riba, “kalau tidak juga kemu berhenti dari riba, maka Allah mengumumkan perang terhadapmu.”

Orang yang masih riba, masyarakat masih riba, dan Negara yang masih riba berarti sama saja menyatakan perang besar terhadap Allah.

Betapa kotornya menjijikkannya riba, maka yang terkena laknat bukan hanya pelakunya saja, tapi juga penulisnya, semua yang kecipratan.

Nabi bersabda, “Rasulullah melaknat yang makan riba, penulis riba, dan dua saksi riba.”

Diusir dari rahmat Allah. Jadi kalau ada orang bekerja, lalu di situ mempraktekkan riba, walau gajinya banyak, ratusan juta, maka dia dilaknat Allah. Hartanya tidak menjadi rahmat, keluarganya tidak menjadi rahmat, fisiknya tidak menajdi rahmat.

Siapa pun yang mendiamkan kemungkaran, maka dia ibarat setan yang bisu.

2. ihtikar (menimbun)
Nabi bersabda, “Tidaklah menimbun barang, kecuali orang yang berdosa.”

Banyak orang yang ingin kaya melalui menimbun. Memang Allah memuliakan hambaNya yang memanfaatkan asetnya, tapi haruslah yang sesuai dengan akhlak, karena menimbun itu menyengsarakan orang lain.

Hadist riwayat Imam Ahmad, “barangsiapa menimbun makanan selama 40 hari, maka benar2 Allah antipasti dengannya.”

Dia anti dengan Allah dan Allah juga anti padanya.

Berarti orang yang menimbun makanan, maka dia sudah terputus dari seluruh maknanya.

Bagaimana menurut ulama fikih, apakah ini sebatas makanan, atau apa saja? Ulama fikih berbeda pendapat itu hal yang biasa. Kaidah “tidak bolhe membahayakn dairi dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Maka larangan menimbun tidak terbatas pada makanan saja.

“Ketika sesuatu itu membahayakan manusia ketika ditimbun, maka itu ihtikar”

3. Curang
Ini juga sarana yang diharamkan oleh Allah dalam rangka mengembangkan harta kita.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra, “barangsiapa yang curang, maka ia tidak termasuk umatku.”

Curang dalam bisnis, timbangan, takaran. Terkadang kita beli buah murah, tapi timbangannya kurang. Ingatlah, ini perbuatan curang. Ancamannya adalah huwail (kebinasaan). Dalam tafsir, huwail adalah nama neraka, “Huwailul lil muthaffifin”.


Semoga kita semua diberkahi Allah SWT, dengan meninggalkan riba, menimbun, dan curang. Aamiin..

Rabu, 15 April 2015

Konsekuensi Logis Kepemimpinan

Di antara konsekuensi logis kepemimpinan adalah:

1. Mendayagunakan seluruh asset yang dimiliki bangsa.

Masyarakat membutuhkan pertanian, perkebunan, maka tidak boleh dibiarkan begitu saja. Sama halnya masyarakat membutuhkan hasil2 pabrik. Kalau asset2 itu dibiarkan begitu saja, tidak dikembangkan, maka ini menyalahi kaidah Al Ikhtikhlaf (kepemimpinan).

Terjemah QS Al Baqarah 30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".


Alangkah indahnya seluruh tanah itu ditanam. Sehingga tidak ada lagi orang yang kelaparan, tidak ada lagi orang yang tidak makan buah.

Batapa sedikit lahan yang ditanam saat ini. Orang sibuk membicarakan kepadatan penduduk, padahal kita masih punya banyak lahan yang tidak ditanami.

Tidak diperbolehkan orang2 yang punya harta (dinar, emas, perak), yang disimpan begitu saja tanpa dimanfaatkan.

Harta adalah alat sosial, maka ketika harta tidak dikembangkan, padahal harta membantu kehidupan so

Ancaman Allah kepada orang2 yang menimbun harta benda, sehingga orang lain tidak bisa memanfaatkannya, maka ancaman Allah sangat besar.

Terjemah QS At Taubah 34-35:
34. Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib-rahib mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil, dan (mereka) menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih,

35. (ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahannam, lalu dengan itu diseterika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."


Ancaman yang sangat dahsyat bagi orang2 yang menimbun harta, karena melanggar kebutuhan dasar umat manusia.

1. Ayat ini dimulai dengan ungkapan “waaladziina” jadi yang dimaksud adalah “siapa pun” yaitu untuk umum. Siapa pun orangnya yang menimbun harta, apakah mereka orang Arab, atau non-Arab. Apakah mereka pejabat, atau pun orang biasa, semuanya masuk dalam kategori ini.

2. Bahayanya meninggalkan infak di jalan Allah, yaitu Allah akan menyiksa mereka dengan adzab yang Alim (siksa yang pedih).

Allah tidak memerintahkan kita untuk seluruhnya diinfaqkan di jalan Allah. Masalahnya manusia ini hanya mau atau tidak mau, bukannya kuat atau tidak kuat. Tidak ada instruksi Allah kecuali di dalam batas kemampuan manusia. Maka Allah tidak memerintahkan manusia untuk membunuh dirinya, meninggalkan tanah airnya, dsbnya. Karena itu hanya mampu dilakukan oleh orang2 tertentu, sedangkan Islam bukan hanya untuk orang tertentu saja, tapi Islam untuk semuanya.

Di dalam ayat ini, karena begitu bahayanya menimbun harta, disebutkan secara detil jenis siksanya itu:

1. orang itu dipanggang di neraka bersama harta kekayaannya.
2. disetrika jidatnya, perutnya, punggungnya dengan harta bendanya
3. inilah harta yang kamu simpan. Ungkapan ini, adalah merupakan adzab tambahan, karena ungkapan yang menakutkan adalah bagian dari adzab.
4. ungkapan, “maka rasakanlah harta yang kamu timbun2 itu”


Maka wajar pemerintah mana pun di dunia ini, pemerintah tegas menghadapi orang2 yang sibuk menimbun harta dan mengambil hak orang lain.

Dengan harta, asset yang didayagunakan, akan dapat menyedot tenaga2 yang butuh pekerjaan. Maka kalian diberikan penghormatan oleh Allah, karena melalui harta kalian, melalui tanah kita, melalui kebun kita, orang2 yang penggugran mendapatkan pekerjaan.

2. Ketika asset itu dipergunakan untuk program2 yang bermanfaat, maka hal itu berarti menghidupkan roda ekonomi.

Di situ lah terjadi kesejahteraan. Jadi sebenarnya ini bukan sekedar masalah kemiskinan saja, tapi pengelolaan.


3. Mengangkat strata eknomi kita semua.
Bagaimana ketika seluruh orang sadar dengan keIslamannya, mendayagunakan seluruh zakat, infak dengan sebenar2nya, sehingga di zaman Umar bin Abdul Aziz, sulit menemukan orang yang menerima zakat, karena strata eknomi masyarakatnya tinggi.

Ketika Nabi memberikan berita gembira, yaitu 7 golongan yang akan diberikan naungan di akhirat nanti, yang pertama adalah Imam yang Adil.

Imam yang Adil itu seperti Umar bin Abdul Aziz.

Ketika kita berbicara tentang negara2 Afrika Utara, negara2 Arab, negara2 Asia Tenggara, semuanya adalah negara2 yang kaya. Pertanyaannya, kenapa masih ada yang miskin? Karena kekayaannya tidak dipergunakan secara benar.

Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah dalam memanfaatkan asset secara benar. Aamiin…


Selasa, 14 April 2015

Bahayanya Pekerjaan yang Haram



Terjemah QS Al Baqarah 188: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.

1. Di dalam Islam, sesuatu yang haram, akan tetap haram, walaupun seorang hakim telah memutuskan bahwa yang diputuskan itu halal sesuai dengan yang dzhahir yang dia lihat.

Tidak akan yang haram itu menjadi halal, karena hakim memutuskan dia menang. Meskipun yang menjadi hakim itu adalah Rasulullah.

Di dalam hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda, “sesungguhnya kalian mengadu kepada saya, maka bisa jadi salah satu di antara kalian, hujjahnya lebih kuat daripada yang lainnya, lalu aku putuskan dia itu menang, karena itu yang terlihat secara dzhohir, maka hal yang haram itu akan menjadikan dirinya dibakar di neraka. Terserah dia apakah akan diambil atau tidak.”

Nabi sebelum memutuskan hukum, memberikan arahan dulu, pencerahan dulu, agar jangan sampai yang ada di dalam benak orang di dalam pengadilan ini adalah hanya menang, tapi harus lah tahu bahwa yang terpenting adalah apakah halal atau haram. Sehingga Nabi slelau memberikan pengarahan seperti di atas sebelum peradilan dimulai.

Inilah pentingnya kita tahu bahayanya sesuatu yang haram. Walaupun keputusan hakim itu menentukan bahwa ia yang menang, tapi yang haram tetaplah haram, walau keputusan hakim menyatakan itu halal. Meskipun hakimnya itu Rasulullah, karena beliau memutuskan perkara itu sesuai yang dzhohir2nya saja.

Islam menanamkan Al Quran dalam sanubari kaum muslimin, tidak mementingkan menang tapi haram. Yang penting adalah harus halal.

Ketika seorang hakim memutuskan perkara sesuai dzhohirnya, harus dipahami bahwa “Allah selalu mengawasi muslim” maka harusnya muslim takut berbuat curang, sehingga yang ada di dalam pikirannya bukan lah soal menang.  Karena yang tahu apa yang ada di dalam hati adalah Allah.

Yang harus lebih kita waspadai akan bahayanya pekerjaan dan harta yang haram adalah orang2 yang kuat, memanfaatkan kelemahan orang lain.

2. Seorang pemimpin, karena rakyatnya bodoh, menipu rakyatnya. Alasannya, karena bangsa ini ingatannya pendek.

Hal ini bukan saja persoalan kepemimpinan dalam bangsa dan Negara saja, tapi juga dalam keluarga. Yaitu ketika memakan harta benda anak yatim, termasuk laki2 memakan harta benda istrinya, atau saudara laki-laki memakan harta benda anak perempuannya. Itu semua dahsyat adzabnya dari Allah.

Ketika kita menolong orang2 yang lemah, pada dasarnya itu membawa barokah.

“Sesungguhnya kamu dimenangkan oleh Allah, sebab ada orang2 yang lemah di antara kalian.”

Nabi adalah pemimpin yang paling terdepan kepeduliaannya dengan orang yang lemah.

Beliau sangat perhatian dengan anak yatim sehingga di akhirat nanti posisi beliau begitu dekat dengan mereka.

Beliau juga begitu perhatian dengan janda beranak banyak, sehingga menikahi meereka, sedangkan yang dinikahi masih gadis hanyalah Aisyah.

3. Seluruh energy di dunia ini milik rayat, air, matahari, hasil bumi harusnya mudah diakses oleh rakyat.

4. Mengambil harta orang banyak
Jangan mentang2 harta ini punya orang banyak, lalu kita mengambilnya. Korupsi itu adalah perbuatan yang merugikan banyak orang. Kalau kita minta maaf, minta maaf kepada siapa?

Di antara orang yang berdosa kepada manusia lalu bertobat, tidak cukup hanya dengan istighfar, tapi harus minta maaf lalu mengembalikan harta yang dia ambil itu.

Korupsi itu dosa yang sangat besar. Dia berdosa terhadap orang banyak. Harta orang banyak yang telah dia ambil. Maka jangan sekali2 kita melakukan korupsi ini.

Oleh karena itu, datanglah Al Quran dengan ancaman yang sangat dahsyat bagi orang yang mengambil ghanimah (rampasan perang) secara halus, sehingga tidak diketahui orang2.

Terjemah QS Ali Imran 161: Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.

Harta benda itu haram baik bagi pejabat besar, maupun pegawai rendahannya, sama2 haram!

Jangan sampai orang yang diberikan jabatan, kemudian jabatan itu digunakan untuk menipu rakyat, untuk mendapatkan hadiah karena jabatannya. Seseorang yang mempunyai hati yang bersih, dia mengetahui bahwa itu bukan hadiah, tapi itu adalah sogokan!

Sebagian rakyat memberikan hadiah kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, lalu beliau menolaknya, ketika ditolak, si pemberi berkata, “sesungguhnya Rasulullah menerima hadiah, kenapa engkau tidak menerimanya?” Jawabannya Umar, “sesungguhnya hadiah yang diberikan kepada Rasulullah adalah benar2 hadiah, sedangkan hadiah yang diberikan kepada saya adalah riswah (sogokan)!”

Pemimpin tahu bahwa ia diberikan hadiah karena dia punya wewenang agar dia memberikan pertimbangan tertentu saat menetapkan keputusan.

Nabi marah ketika melihat aturan Allah dilanggar. Orang yang melihat kemungkaran lalu diam, maka dia adalah setan yang bisu.

Ibnu lub diyah, ketika datang dari tugasnya membawa harta benda, berkata, “ini untuk kalian, dan ini hadiah untukku.” Maka Nabi menolak perkataan itu.

Coba kalau seseorang itu hanya duduk2 saja di rumah bapaknya, di rumah ibunya, artinya dia tidak pergi bekerja untuk mengumpulkan zakat, apakah mungkin dia dapat hadiah? Tidak mungkin! Itu adalah haram.

Itu dalam kehidupan sekarang disebut sebagai gratifikasi.


Semoga kita semua tidak tergoda dengan harta yang banyak kalau itu haram. Aamiin..