Selasa, 19 Mei 2015

Peran Perempuan dalam Meningkatkan Ketahanan Keluarga

Kepedulian Islam terhadap perempuan. Ini bisa kita lihat bagaimana kondisi makhluk Allah sebelum datangnya Islam, tidak ada harganya, padahal dia sama2 makhluk Allah yang laki2. Perempuan di zaman sebelum Islam tidak bisa menjadi ahli waris, dan bahkan dijadikan warisan, seperti barang. Ketika seseorang meninggal dunia, dan seseorang itu meninggalkan istri, itu diwarisi oleh anak2nya, dan bisa ditinggalkan di depan rumah, dan silakan siapa yang mau mengambilnya.

Ada juga laki2 yang memiliki perempuan sampai dengan 10, bagaimana bisa berlaku adil. Setelah datangnya Islam, “kawinilah kalian 1, 2, 3, atau sampai 4.” Saat itu ada yang punya 10, maka oleh Rasulullah diperintahkan supaya pilih 4 saja.

Betapa perhatiannya Al Quran terhadap perempuan, sampai2 ada surat di dalam Al Quran bernama An Nisa. Jadi, kalau ada sesuatu dijadikan nama di dalam Al Quran, itu menggambarkan betapa tingginya urgensinya. Tidak ada surat Ar Rijal, tidak ada. Juga ada nama2 surat yang berhubungan dengan perempuan, seperti Al Mujaadalah, Al Mumtahanah.

Kita ingat ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, siapa orang yang paling utama kita layani?” Rasulullah menjawab sampai 3 kali, “Ibu kamu” baru kemudian, “bapak kamu.”

Ini menggambarkan bahwa kedudukan ibu kita dibandingkan ayah kita adalah 3 banding 1.

Peran perempuan, dalam meningkatkan ketahanan keluarga ini sangat penting, mengingat kondisi keluarga zaman sekarang. Karena tidak semua keadaannya dalam ridho Allah SWT. Kita mendengar dan melihat KDRT, suami membunuh istri atau istri membunuh suami, orang tua membunuh anak atau anak membunuh orang tua. Walau jumlahnya tidak banyak, tapi berguncang Arsy ketika ada satu nyawa yang terbunuh.

2. Kebaikan sebuah masyarakat tergantung pada kebaikan sebuah keluarga.
Ketika kita bersama2 belajar bagaimana peran perempuan meningkatkan ketahanan keluarga, itu adalah peran perempuan dalam masyarakatnya juga.

3. Keluarga adalah lembaga kemanusiaan yang terpenting.
Kalau di dunia ini ada banyak lembaga2 kemanusiaan, maka yang terpenting adalah keluarga.

Kalau dalam keluarga itu sudah terbiasa dzholim, mendzholimi, terdholimi, atau cuek tidak peduli, maka akan muncul di masyarakat ini manusia2 yang tidak peduli dengan kemanusiaan, dengan urusan dunia ini.

Itu lah sebabnya, keluarga harus mendapatkan skala prioritas.

Apa peran seorang perempuan dalam meningkatkan ketahanan keluarga?

Ketika kita berbicara tentang perempuan berarti dia adalah, Ibu, istri, anak perempuan. Apa peran mereka ini, dalam meningkatkan ketahanan keluarga dan sekaligus ketahanan bangsa. Karena pahlawan2 di dunia ini, ulama2 besar, lahir dari keluarga2.

1. Sebagai madrasah.
Menjadi sebuah madrasah, menjadi institusi pendidikan, emnjadi perguruan tinggi. Ketika seorang istri, seorang ibu yang lebih banyak waktunya di rumah dibandingkan bapaknya, dia mampu mentarbiyah anak2nya mempunyai manfaat keilmuwan, ilmu2 syar’I yang sangat penting dalam kehidupan, maka perempuan2 kita telah berjasa dalam membangun bangsa.

Al Ummu madrosatul ‘ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq“,
Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Jika kita ingin menghasilkan mahasiswa2 yang hebat,

Bukankah generasi terbaik, yang dipimpin oleh pemimpin terbaik, RasulullahSAW, mereka sibuk dalam masyarakatnya, berdakwah, mencari nafkah, dsbnya, lalu siapa yang mendidik anak2nya, sedangkan bapak2nya berdakwah keluar rumah? Jawabannya adalah istrinya.

2. Sebagai mitra suami

Mitra dalam menegakkan syariat Allah yang penuh rahmat buat alam semesta dimulai dari rumahnya. Seperti apa peran seorang istri bermitra dengan suami yang soleh seperti itu.

Memang, keluarga itu seperti sebuah perusahaan, dan harus ada pemimpinnya. Siapa mitra direkturnya itu? Dia adalah istri. Ketika ada pembagian tugas, itu bukan berarti ekdudukan istri di bawah suami. Ketika dia mampu menjalankan roda keluarganya, maka

An Nisa 24: Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Redaksi nya seolah2 peran suami lebih, tapi kemudian di ayat itu memakai sama2 mudzakkar, ba’dhuhum ‘ala ba’dhu, sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), untuk menyatakan laki2 dan perempuan.

Rijal, laki2 atau suami itu harus qowwamu na alan nisa, memimpin, mengayomi istrinya. Peran istri memang diayomi suami, tapi tidak bisa dipandang kecil.

2. Istri adalah potret keindahan hamba2 Allah yang memilih kesenangan akhirat daripada dunia.

Nabi mampu membuat senang istri2nya, tapi ternyata istri yang menjadi orang terbaik dalam rumah tangganya, adalah rumah tangga Rasulullah

Al Ahzab 28-29:
28. Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, "Jika kamu mengingini kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.

29. Dan jika kamu menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya dan (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.

Ketika istri2 Nabi, perempuan2 yang mulia di sisi orang paling mulia, disuruh memilih kesenangan dunia atau akhirat, mereka memilih kesenangan akhirat. Rumah tangga mereka adalah rumah tangga paling kokoh. Di situ mereka mempunyai obsesi2 akhirat.

3. Ibu yang tangguh yang afiifah (benteng) dari keluarganya

Seperti kisah Maryam as, sampai2 Maryam adalah satu2nya perempuan yang disebut jelas di dalam Al Quran, supaya dunia tahu bahwa Isa adalah anak Maryam, bukan anak tuhan, karena itu disebut secara jelas nama Maryam di dalam Al Quran.

Semoga rumah tangga kita diberikan kekokohan, yang menjadi panutan bagi keluarga2 yang lain. Aamiin..




Senin, 18 Mei 2015

Kiat2 Agar Tidak Terkena Hukuman dari Allah Gara2 Perbuatan Dzholim

Kita sudah pelajari bahwa kedzholiman merupakan sebab kehancuran sebuah bangsa. Maka kita harus bersungguh2, tidak diam saja terhadap kedzholiman.

Setelah mentadabburi ayat2 Al Quran, semoga kita diberikan ilmu oleh Allah tentang bagaimana cara menghadapi kedzholiman. Dikarenakan Allah sayang pada kita, maka Allah berikan petunjuk agar kita selamat dari hukuman.

1. Mengingkari/menolak setiap bentuk kedzholiman
Jangan sekali2 diam bila melihat kedhzoliman. Karena dalam Bahasa agama, diam dalam melihat kedzholiman adalah seperti setan yang bisu.

QS Al Maidah 105: Hai orang2 yang beriman, waspadalah pada diri kamu. Orang yang dholim itu tidak akan mengganggu diri kalian bila kalian telah mendapatkan petunjuk.

Hadist: Wahai manusia, sesungguhnya kamu membaca ayat ini (Al Maidah 105), sesungguhnya masyarakat apabila melihat orang yang berbuat dzholim, lalu mereka diam tidak mengubahnya, hampir2 Allah akan meratakan seluruh masyarakat itu dengan siksaNya.

QS Al Anfal 25: Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya,

Kita lihat saja, di masyarakat di Indonesia, setiap malam Ahad berpacaran di sebuah Situ (danau) tertentu, lalu Situ itu jebol dan air bahnya menimpa banyak orang, karena masyarakat membiarkan kedzholiman terjadi di Situ tersebut. Akibatnya menimpa bukan kepada orang2 yang dhzolim saja, tapi semua orang.

Takutlah kalian pada malapetaka yang menimpa bukan hanya pada orang yang dzholim saja, tapi

Hadist: Apa bila masyarakat tidak mencegah kedzholiman, padahal dia mampu melakukannya, maka Allah melaksanakan siksaNya.

Bentuk adzab itu begitu banyak. Bukan hanya gunung meletus, tanah longsor saja. Tapi juga anak tidak hormat pada orang tua, orang tua tidak sayang pada anak, ada begal semua orang cuek. Anak didik yang mestinya baik, yang harusnya menjadi pemimpin bangsa, tapi malah kena narkoba, melakukan pesta bikini bigitu. Masyarakat yang anarkis, dsbnya.

2. Jangan Menyerah/Tunduk terhadap orang yang dzholim

Walaupun dia adalah pemimpin kita, walaupun dia adalah orang tua kita. Karena tunduk kepada orang tua, pemimpin, guru, itu dibatasi. Tidak boleh taat kepada makhluk yang berbuat maksiat kepada Allah.

Kita tidak boleh tunduk kepada orang yang berbuat dholim.

QS Syuuro 39: dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri.

Jangan sampai dengan alasan kita bangsa yang santun, lemah lembut, pemaaf, kita tidak menolak perbuatan dzholim. Apa jadinya bangsa kita bila para Ulama kita zaman dulu tidak bangkit berjuang melawan Belanda?

Ketika Azzamah melawan, tidak melampaui.

Para pahlawan kita, ulama kita melawan ketika dijajah, maka itu adalah sesuatu yang terpuji.

Yang tidak boleh itu adalah melampaui batas. Jangan dengan alasan berjuang, tapi kita melampui batas.

Imam Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan, “Ketika mereka didzholimi oleh orang yang dzholim, mereka tidak akan menyerah dengan kedzholimannya.”

Itulah generasi2 terbaik. Jadi sahabat2 nabi itu paling anti dihinakan, tapi ketika mereka mampu untuk memaafkan, maka mereka maafkan.

Itulah aktifitas terbaik, yaitu tidak menyerah terhadap orang2 yang dzholim.

3. Tidak sedikit pun Membela Orang2 yang Dzholim
Allah SWT adalah Tuhan kita semua yang sayang pada seluruh manusia, dengan cara memberikan petunjuk agar kita tidak

Huud 113: Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan.

Ketika kita membela orang yang dzholim, memilih pemimpin yang dzholim, maka kita bisa mendatangkan murka Allah.

Ayat 113 ini berhubungan dengan ayat sebelumnya, yaitu berbicara tentang istiqomah. Istiqomah itu oleh ulama didefinisikan sebagai komitmen, taat dengan seluruh ajaran agama Islam.

Ajaran Islam yang berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan.

Lalu pada ayat 113 ini kita dilarang untuk mendukung orang2 yang dzholim. Apa korelasi kedua ayat ini?

Di antara tanda2 bahwa kita istiqomah adalah, kita tidak cenderung terhadap orang2 yang dzholim.

Maka, agar anak bangsa ini diselamatkan oleh malapetaka kedhzoliman, jangan sekali2 mendukung orang yang dzholim. Walau pun dapat uang, dapat jabatan, dapat kesempatan untuk tenar. Allah katakan, kalian akan mendapat adzab neraka, dan tidak akan ditolong oleh Allah.

Di dalam tafsir Azzamah Syarif mengatakan, “Larangan di sini (jangan kamu condong), maksudnya, jangan sampai kaum muslimin mengikuti selera orang2 yang dzholim.”

Sekedar datang, duduk bersenang senang, ketawa ketiwi dengan mereka, sudah termasuk bentuk kecenderungan terhadap mereka.

Ar Rukun, dalam condong itu, yang sedikit saja, sudah dianggap mendukung. Apalagi kalau membela mati2an.

Semoga kita dijadikan orang2 yang mempunyai harga diri, merdeka, tidak mau condong terhadap orang2 yang dzholim. Itu sebabnya para Nabi para Rasul tidak mau cenderung kepada orang2 yang dzholim, meski harus berhadapan dengan tentara2 orang2 yang dzholim itu.




Jumat, 15 Mei 2015

Negara Tidak Akan Eksis (Tahan) dengan Kedhzoliman

Hud 117: Dan tidaklah Rabb kamu sebuah negri dengan kebinasaan sementara penduduknya adalah orang2 yang memperbaiki (berbuat kebaikan).

Wama kaana robbuka liyuhlikal qura bi dhzulmin wa ahluhaa mushlihuun


1. Ini tandanya, sebuah Negara tidak akan bertahan lama (eksis) bila ada kedholiman2.

Wa ahluhaa mushlihuun (orang2 yang memperbaiki), bukan wa ahluhaa shoolihun (orang2 yang sholeh).

Kalau ada anggota masyarakat, adalah orang2 yang sholeh (sholat, haji, dll perbuatan sholeh lainnya)

Dibutuhkan kesholehan social. Betul, kita memang sholat, tapi ketika melihat anak kita tidak sholat, kita tidak boleh membiarkan.

Kita sholeh, tidak mau minum minuman keras, tetapi ketika kita membiarkan orang lain minum2an keras, kena narkoba dan kita diam, maka hancur Negara kita.

Kalau hari ini anak orang lain, tapi bulan depan, anaknya siapa?

2. Ketika sebuah Negara, penduduknya berbuat ishlah, berbuat perbaikan, maka Negara itu akan selamat.

Wama kaana Rabbuka. Kata Rabb itu mengandung makna:

Ketika Allah berbicara dengan sunnahNya yang diterangkan di ayat ini, tandanya, Allah sangat menjaga, memelihara dan mendidik hambaNya, sehingga diberitahu. Jadi jangan berkata, “Wah, kok Allah bicaranya binasa… binasa… binasa…”

Inilah cara Allah menyayangi hamba2Nya

3. Urgensi Memperbaiki
Menyetop dari kehancuran Negara.
Kalau ingin Negara kita eksis, sehat, kuat. Apa yang kita perbuat? Perbanyak orang2 yang memperbaiki kondisi. Yaitu memperbaiki ekonomi, pendidikan, politik, dsbnya. Ini harus didukung.

Dzulkarnain, tokoh yang diceritakan dalam surat Al Kahfi, diberikan kekuasaan yang sangat kuat. Karena sebuah pemerintahan akan eksis bila jauh dari kedzholiman.

Wama kaana robbuka liyuhlikal qura bi dhzulmin wa ahluhaa mushlihuun

Kedholiman itu menjadi sebab jatuhnya Negara. Negara2 di dunia, sejak dulu hingga hari kiamat nanti, disebabkan kedzholiman. Apakah mendzholimi dirinya, ataukah mendzholimi orang lain.

Dari sunnatulah ini, sebelum kita lanjutkan, kita ambil pendapat ulama tafsir, Al Qurtubhy, mengatakan makna dholim adalah syirik dan kufur. Allah menghancurkan sebuah negri bukan semata2 kekufuran dan syirik saja, tapi dalam sunnatullah kehidupan dunia ini, ditambah lagi dengan al fasaad (kerusakan), bentuk pendidikan ekonomi, pendidikan, budaya, dsbnya, pelanggaran2 itulah yang menjadikan Negara itu hancur, seperti hancurnya kaum Syu’aib, yang bukan hanya kufur saja, tapi mereka curang dalam takaran dagangannya, menipu.

Allah menjadikan laki2 dan perempuan untuk menikah secara sah, tapi kok ada makhluk yang senang sesame jenis. Kaum Nabi Luth, dibinasakan bukan semata2 mereka kafir, tapi karena mereka berbuat liwath (homo). Ini tidak kalah bahayanya dengan teroris, dengan bahaya narkoba. Karena kesemuanya itu menjadi sebab dijatuhkannya bencana di sebuah negri.

Jangan sampai mendiamkan anaknya homo, apa pun agamanya, apalagi kalau orang tuanya beragama Islam, yang sudah pasti benar.

Sekarang bagaiaman kalau pemimpinnya kafir, rakyatnya kafir, tapi berbuat adil, ulama mengatakan bahwa mereka tetap eksis di dunia saja, tapi nanti di akhiratnya akan mendapat siksa. Maknanya adalah adil, pemimpinnya tidak mendholimi rakyatnya, dan rakyatnya juga tidak saling mendholimi.

Sedangkan pemerintahan yang muslim, dan rakyatnya yang muslim tapi berbuat tidak adil, maka Negri itu bisa hancur, tidak kuat. Sebagian ulama mengatakan, “sesungguhnya Allah membiarkan Negara adil itu untuk eksis meskipun mereka tidak beragama Islam. Sedangkan Negara yang pemimpinnya muslim dan mayoritas penduduknya muslim, tapi tidak adil, maka negri itu bisa hancur. Kenapa? Karena dunia itu akan eksis bersama keadilan.”

Di antara kedhzoliman yang menghancurkan Negara adalah 

Tidak tegas dalam menegakkan hukum

Jangan hanya karena Negara lain mengancam kita, kita tidak menegakkan keadilan. Di mana pun hukum jika ditegakkan, maka Negara akan tentram.

Rasulullah mewanti2 jangan sampai kita bermain2 dalam hal hukum. Sampai2 ada Sahabat yang melobi Nabi untuk tidak mengeksekusi orang yang mencuri. Nabi bukan hanya tegas menolak, bahkan menasehatinya.

Bisa dilihat di Sahih Bukhari. Suatu ketika di zaman Rasulullah SAW pada masa ‘Fathul Makah’ (pembebasan kota Mekah), ada seorang wanita Quraisy yang mencuri. Wanita tersebut seorang bangsawan dari Bani Makhzum. Mereka bingung dalam memutuskan perkara tersebut.

Dalam perundingan salah seorang dari mereka mengusulkan untuk membicarakannya kepada Usamah. Melalui Usamah mereka berniat untuk memintakan syafa’at atau ampunan dari Rasulullah SAW atas wanita tersebut. Mereka tahu bahwa Usamah adalah salah seorang yang dicintai oleh Rasulullah SAW. Berharap Rasulullah mengabulkan permintaan Usamah.

Ketika Usamah menyampaikan kepada Rasulullah SAW perihal keinginan mereka. Rasulullah SAW menjawab, “Apakah engkau hendak membela seseorang agar terbebas dari hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT?”

Setelah itu Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah, “Wahai manusia sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah, apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan. Akan tetapi apabila seorang yang lemah mencuri, mereka jalankan hukuman kepadanya. Demi Dzat yang Muhammad berada dalam genggaman-Nya. Kalau seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri. Niscaya aku akan memotong tangannya.”


Ini tema yang mengangkat bahwa kedholiman menyebabkan sebuah negri dibinasakan. Semoga Negara kita adalah Negara yang adil, pemimpin kita adalah pemimpin yang adil, dan rakyat kita adalah rakyat yang saling berbuat adil. Aamiin…

Kamis, 14 Mei 2015

Kehancuran Sebuah Bangsa Disebabkan Kedzholimannya


Sebagai anak bangsa sudah barang tentu menginginkan kita diridhoi oleh Allah, agar tetap eksis di dalam dunia. Kita ingin supaya tidak jatuh dalam kebankrutan. Apa saja yang menjadi

QS Al An’am 45: Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Jadi sampai ke akar2nya dimusnahkan. Ketika kaum Nabi Nuh, Nabi Luth, dan Musa, mereka berbuat dzholim, mereka dimusnahkan sampai ke akar2nya.

Pertama yang sebaiknya kita renungi dari QS Al An’am 45 di atas:
1. kata alladziina, mempunyai makna umum. Artinya, siapa pun yang berbuat dzholim, akan dihancurkan oleh Allah SWT. Ini bisa juga kita lihat di ayat yang lain. Menafsrikan AL Quran dengan Al Quran.

Tidaklah dibinasakan kecuali orang2 yang berbuat dzholim.

Bahkan sampai2 terlihat di dunia ini, bangsa yang dihancurkan oleh Allah hanya yang berbuat dzholim saja, bukan bangsa yang miskin atau terbelakang teknologinya.

Harusnya anak2 kita bersyukur karena telah selesai ujian SMA, tapi malah melakukan perbuatan yang membuat bangkrutnya sebuah bangsa. Bukan sebatas wacana, tapi ulama dan pemerintahnya harus secepatnya mengambil tindakan.

2. Di sini memakai, “hal” dengan “illa”, di sini artinya, Allah mengkhususkan.

Dan sungguh benar2 telah kami binasakan generasi2 terdahulu sebelum kalian.

3. Dihadirkan kata “lammaa” artinya terjadinya suatu perbuatan terjadi dikarenakan adanya perbuatan yang lain. “Disebabkan karena kedzholiman.” Jadi sebab hancurnya sebuah bangsa karena kedzholiman.

4. Kata kerjanya adalah fi’il maadhi’, ini untuk mempertegas bahwa kebinasaan itu sudah terjadi, bukan sebatas ancaman.

Kedholiman yang dilakukan manusia ada dua hal:
A. Terhadap dirinya sendiri.
Seperti apa, atau melalui apa manusia mendzholimi dirinya sendiri?
1. dengan berbuat fasik, keluar, tidak taat pada Allah.
2. dengan perbuatan dosa
3. keluar dari taat kepada Allah.

B. Saling mendzholimi.
Contoh2nya:
1. Pedagang mendzholimi masyarakat, atau juga masyarakat mendzholimi pedagang.
2. Kedholiman penguasa terhadap rakyatnya
a. Tidak memperhatikan hak2 rakyatnya. Rakyat punya hak untuk tidak diganggu hak2nya seperti begal motor, apalagi begal aqidah.
Hak untuk mendapatkan pekerjaan
Hak untuk mendapatkan kesehatan yang layak
b. dengan menghilangkan kehormatan rakyatnya
Rakyat adalah manusia, tidak boleh dihinakan. Cara menghinakan rakyat, adalah mengirim rakyatnya ke luar negri dan didzholimi oleh bangsa lain, atau rakyatnya diserahkan kepada bangsa lain untuk didzholimi dengan tuduhan2 tidak benar. Rakyatnya dibiasakan untuk berbuat maksiat, judi, minum2an, berzina, bahkan mau diberikan tempat khusus agar nyaman berbuat zina, na’udzubillahi mindalik.
Kalau kedholiman itu tidak berhenti, apa yang terjadi?
1. bangsa menjadi lemah.
Yang melemahkan bukan penjajah asing, tapi justru bangsanya sendiri, pemerintahnya sendiri.
2. tidak bisa eksis karena dihancurkan oleh pemimpinnya sendiri
3. mudah dikuasai oleh bangsa2 lain

Akhirnya, sebuah bangsa yang awalnya adalah bangsa yang besar, menjadi bangsa yang tidak punya kepribadian, dikarenakan sudah terlalu lama didzholimi oleh pemimpinnya.

QS Al Anbiya 11: Dan berapa banyak sebuah negri yang kami binasakan, dulunya mereka berbuat dzholim, dan kami gantikan mereka setelah itu.

Hancurnya sebuah bangsa disebabkan oleh kedzholiman, adalah ketetapan Allah yang terjadi terus menerus.

Hancurnya sebuah bangsa tidak selamanya sama, karena setiap bangsa itu punya ajalnya. Perbedaan sebuah bangsa tergantung kondisi dirinya dan musuh2nya. Ini dijelaskan oleh Allah dalam QS Yunus  "wa likulli ummatin ‘ajal" Setiap ummat ada ajalnya.

Penejelasannya, seperti manusia yang sakit, sebelum meninggal, semakin kronis sakitnya, sudah barang tentu semakin mem@ercepat kematiannya, walau ajal itu Allah yang menentukan.

Begitu juga sebuah bangsa, semakin kronis kedzholimannya, semakin cepat hancurnya.

Hancurnya sebuah bangsa itu sebuah keniscayaan, tapi kapan ajal sebuah bangsa, itu berbeda, dan hanya Allah yang tahu.

Ketika Allah berfirman, “wa likulli ummatin ‘ajal” itu maksudnya, setiap ummat dari ummat2 yang dibinasakan karena kedholimannya, itu pasti ada ajalnya untuk menghancurkan mereka.

Kalau ajalnya manusia itu satu saja kita tidak mengetahui, apalagi ajalnya suatu bangsa yang jumlahnya jutaan manusia. Yang terpenting di sini bukan soal kapan ajalnya itu datang, tapi dengan membiarkan kedhzoliman, berarti sama saja membiarkan kebangkrutan suatu bangsa.

Dari sunnatullah yang pasti berlaku dalam sebuah bangsa, bahwa bangsa mana pun yang adil pasti ia eksis. Di antara factor yang menjadikan suatu bangsa itu hancur adalah kedzholiman.

Oleh karena itu jangan kita biarkan kedholiman, baik diri kita sendiri, anak kita, pemimpin kita, bangsa kita.

Semoga kita waspada dari seluruh bentuk kedzholiman2, sehingga bangsa kita dijauhkan dari kehancuran. Aamiin..

Rabu, 13 Mei 2015

Hukuman Bagi Orang Yang Dzholim

1. Dipimpin oleh penguasa yang dzholim
Bisa dijadikan argumentasi, bahwasanya, rakyat yang suka berbuat dzholim, akan menghadirkan pemimpin yang mendzholimi mereka. Solusinya adalah, tinggalkanlah kedzholiman, agar kita bisa mendapatkan pemimpin yang adil, yang peduli, memperhatikan rakyatnya.

Pemimpin itu potret dari rakyatnya. Rakyat

2. Orang2 yang berbuat dzholim tidak akan beruntung, walau kelihatannya punya uang trilyunan, berkuasa, tapi kedzholiman tidak akan membawa kebahagiaan.

Ini kaedah yang pasti benar

QS Al An’am 135: Katakanlah (Hai Muhammad), "Wahai kaumku! Berbuatlah menurut keadaan kamu, aku pun berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui, siapa yang akan memperoleh tempat (terbaik) di akhirat nanti. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung

Ayat ini adalah firman yang ditujukan kepada Rasulullah SAW, agar Nabi menyampaikan kepada kaumnya yang tetap memilih jalan kekufurannya, memberikan peringatan yang sangat keras. “Kalian akan mengetahui siapa yang akan mendapatkan tempat terbaik di akhirat nanti, dan orang2 yang dzholim tidak akan beruntung!”

Di antara sunnatullah dalam kehidupan ini, di mana orang2 yang dzholim dalam bentuk apa pun, dan ingat, kedzholiman yang terbesar adalah syirik, bahwa siapa pun yang berbuat dzholim dan membiarkan kedzholiman, akan rugi di dunia dan akhirat.

Di dunia, akan bangkrut, menjadi bangsa yang rendah, selalu diintervensi oleh bangsa lain, bangsa yang dianggap lemah oleh bangsa lain. Di akhiratnya dia akan masuk neraka.

Ketika kita membaca ayat 135 surat Al An’am, kenapa bunyinya innahuu laa yuflihul dzhoolimuun, padahal ini untuk orang2 kafir, kenapa bunyinya bukan innahuu laa yuflihul kaafiruun…? Karena kedholiman lebih umum daripada kekafiran. Bentuk kedzholiman itu banyak sekali. Tapi kedholiman terbesar adalah syirik. Sehingga, kalau dalam kehidupan dunia orang dzholim itu tidak beruntung, apalagi orang kafir, yang merupakan yang terbesar dalam kedzholimannya. Maka ungkapan innahuu laa yuflihul dzhoolimuun, lebih besar faedahnya.

Orang2 yang dzholim yang tidak akan beruntung itu, di antara bentuk kedzholimannya itu adalah mereka kufur terhadap nikmat Allah. Nikmat harta, jabatan, justru digunakan untuk memerangi orang2 yang sholeh. Mereka itu mendzholimi diri mereka sendiri.

Menyekutukan Allah dengan barang, akik, setan, jin, padahal mereka semua adalah hamba yang tidak bisa memberikan bahaya dan tidak bisa memberikan manfaat. Itu adalah bentuk mendhzolimi diri sendiri. Mendhzolimi masyarakat, tidak memberikan hak2nya.

Tidak diberikan haknya, itu juga berbuat kedzholiman. Jadi orang2 yang berbuat dzholim, apakah itu terhadap orang lain, atau kah terhadap diri sendiri, mereka tidak akan beruntung.

QS Ghaafir 51: Sesungguhnya kami akan menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat),

QS Shaaffat 171-173: 
171. Dan sungguh, janji Kami telah tetap kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,
172. (yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan.
173. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang,

Yang beruntung dan akan dimenangkan oleh Allah hanyalah para Rasul dan orang2 beriman.

Selasa, 12 Mei 2015

Ujian yang Menimpa Jamaah Muslimah

 Di antara karakteristik agama Islam adalah berjamaah.

Jamaah muslimah, yang tugasnya agar selalu mengikuti perintah Allah, selalu amar ma’ruf nahi munkar.

Definisi ma’ruf adalah sesuatu kebaikannya diketahui melalui Din Islam dan akal yang sehat.

Jamaah muslimah adalah sebuah jamaah yang mencegah dari kemunkaran.

Munkar adalah setiap sesuatu yang diingkari oleh akal sehat dan Islam.

Jamaah Muslimah yang seperti itu, pasti diuji oleh Allah. Ujian pasti menimpa jamaah muslimah

QS Ali Imran: 186. Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.  

Firman ini ditujukan kepada kaum muslimin yang waktu itu dipimpin oelh Rasulullah. Pemimpinnya adalah Rasulullah saja masih diuji, apalagi kita.

Jamaah muslimah, apa pun namanya, apakah ormas Islam, atau apa saja, pasti diuji oleh Allah. Apakah harta bendanya, ataukah dirinya, atau apa saja, yang penting kita harus bersabar.

Ketika Allah menyebutkan harta bendamu dan jiwa kamu, apa korelasinya dalam kehidupan? Artinya, para aktifis dakwah, tidak sedikit anggota2nya menerima ujian yang sangat banyak dari harta benda mereka dan juga diri mereka. Diuji dengan harta benda, yaitu sulit dalam hal keuangan. Diuji dengan diri mereka sendiri, yaitu diuji berupa penyiksaan, dipenjara, dengan tujuan bermacam2. Diuji dengan citra yang buruk, dirusak karakternya, dengan tuduhan2 yang berbagai macam.

Tujuan2 yang menimpa para kader2 amar ma’ruf nahi munkar.

1. Sebagai filter untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Adalah sunnatullah, bahwa kaum muslimin harus berjamaah bersatu padu, ini bukan hanya terjadi di zaman sekarang saja. Bukankah Yusuf as dituduh dengan tuduhan bermacam2, padahal yang melakukan bukan beliau. Sehingga beliau dimasukkan ke penjara, jadi tidak selamanya masuk penjara itu karena berbuat salah. Ada orang yang karena berjuang, lalu ia dimasukkan ke penjara.

Rasulullah adalah manusia terbaik, tapi dituduh dengan tuduhan2 yang bermacam2.

QS Al Anfal 30: Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Apalagi di zaman yang sudah canggih seperti ini, tidak sedikit aktifis2 dakwah dituduh dengan tuduhan2 batil, dan diberitakan berulang2 sehingga merusak citra aktifis dakwah, ulama para jamaah muslimah. Kita harus tahu tentang hal ini, sehingga tidak kaget ketika menghadapi hal tersebut. Walau kita kaum muslimin diminta untuk selalu berdoa agar dijauhkan.

Ujian yang menimpa orang2 yang berjuang melalui amar maruf nahi munkar, berjuang untuk menegakkan ajaran yang penuh rahmat ini, jadi ini sebenarnya seleksi alami, menjadi filter untuk membedakan, mana yang jujur dan mana yang tidak.

2. Agar terbuka kedok orang2 munafik

QS Ali Imran 179: Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman dan bertakwa, maka kamu akan mendapat pahala yang besar.

Di sini ada korelasi awal ayat dengan penutup ayat, yaitu dengan tetap bersabar menghadapi ujian2 di dalam suatu jamaah, maka akan Allah akan berikan pahala yang besar.

Sebuah organisasi terjadi friksi2 karena di situ berkumpulnya manusia yang beragam macamnya. Maka dari itu ujian yang menimpa jamaah muslimah, ada tujuan yang sangat besar, yaitu agar supaya jelas perbedaannya, siapa lawan siapa kawan, siapa yang qowwi mana yang dhoif.

Contoh, jamaah Rasulullah diuji dengan perang badar, di situ terlihat mana yang qowwi imannya dan mana yang pulang kembali karena dhoif imannya.

Berita kebaikan dari ujian itu adalah untuk membedakan antara yang benar dengan yang bohong. Juga untuk membedakan mana yang menginginkan dunia dan mana yang menginginkan akhirat. Juga untuk membedakan antara yang baik dengan yang buruk.

Adanya ujian yang menimpa ulama, kadernya jamaah muslimah, agar mengetahui tambang yang asli, minyak yang asli, dsbnya, agar tidak bercampur dnegan lumpur yang kotor.

Aturan Allah, dan kehidupan dunia ini memang bertemu. Sunnah kauniyah tidak akan tabrakan dengan Sunnah kauliyah.

Apa hikmah dari ujian yang menimpa orang2 yang baik, yang berjuang di jamaah muslimah, sebagaimana menimpa jamaah rasulullah.

Jadi kalau kita ingin tahu apakah organisasi itu kuat atau rapuh, dilihatnya bukan ketika menang, kaya, banyak asetnya, tidak. Tapi ketika diuji dengan kesulitan, intimidasi. Ketika mereka solid, satu barisan, itulah kekuatan yang sebenarnya.

Akan terbuka kedok orang2 munafik. Ketika aman2 saja, tidak terlihat mana yang munafik, karena mereka masih sholat, masih dzikir walau dzikirnya Cuma sebentar. Tapi ketika diuji oleh Allah, maka ketahuan, “jangan keluar kalian di musim panas.”

Orang2 munafik itu selalu mementahkan ajaran Islam, memprovokasi orang2 Islam agar tidak menjalankan perintah agamanya.

Katakan, “neraka Jahannam lebih panas dari panas yang terik!”

3. Agar terbuka kedok orang2 yang datang di jamaah tersebut.
Apalagi kalau jamaah itu besar, asetnya juga besar, suaranya juga besar, akan terlihat apakah orang2 yang datang itu untuk mendapatkan pangkat jabatan, atau untuk menjadi intel memata2i kaum muslimin, atau juga tujuan2 duniawi yang murahan.

Itu semua terlihat melalui ujian2. Karena unsur totalitas yang jujur, berbeda dengan unsur2 yang palsu, bahkan mereka bekerjasama dengan musuh2 Allah sebagaimana sudah banyak diterangkan di dalam Al Quran, padahal mereka mengaku beragama Islam.

Semoga kita diselamatkan dalam ujian2 seperti ini. Aamiin..


Senin, 11 Mei 2015

Ujian Bagi Orang2 Kafir

Tema ini merupakan pencerahan bagi kita, agar kita kaum muslimin tidak mengira bahwa yang diuji bukan hanya kita, tapi juga orang2 kafir. Karena ada yang mengatakan, “berat ya jadi orang Islam, diuji dengan tsunami, dengan ujian2…”

Ujian itu adalah realitas kemanusiaan, artinya, siapa pun

QS Al Insan: Sesungguhnya kami ciptakan manusia dari air nuthfah yang bercampur, agar kami mengujinya.

Menggunakan “al” untuk insan, artinya, semua manusia
Kata insan, termasuk di dalamnya juga orang2 kafir.


QS Al A’raf 94-95:

94. Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.

95. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan", maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.

Orang2 kafir zaman dahulu diuji juga dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, membahayakan, dan buruk baginya.

Allah menguji orang2 kafir dengan al ba’tsa wad dhorro’, dengan kesulitan dalam diri mereka, dan fisik mereka, dan rezeki2 mereka, dan harta2 benda mereka.

Kita harus meyakini, bahwa bukan orang beriman saja yang terkena bencana banjir, angin, orang kafir juga terkena. Ini tujuannya apa?

Apa rahasia dari ujian yang menimpa orang2 kafir?

1. Agar mereka berheni dari kekufurannya.
Tidak sedikit di dunia ini, ketika orang kfir diterpa musibah, kalah dalam perang badar, dsbnya, akhirnya mereka masuk Islam. Bukankah Khalid bin Walid dulu kafir? Abu Sufyan dulunya memerangi Rasulullah?

Ketika Allah menguji orang kafir dengan kesulitan2, di antara hikmahnya, adalah, agar mereka berhenti dari kekufurannya.

2. Tujuannya agar mereka berhentu dari sikap ingkar menentang Allah SWT, agar mereka mau bertobat.

Dalam kajian2 lalu kita sudah pelajari, bahwa ketika sebuah ummat tidak semuanya dihabiskan, ada yang tertinggal, itu agar mereka berpikir, merenungi, dan akhirnya tertarik kepada Islam, dan berhenti keingkarannya, dan kembali fithrah.

3. agar memohon kepada Allah dengan kerendahan hati

QS Al An’am 42-43:
42. Dan Sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.

43. Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.

Alat untuk mempertegas:
1. lam
2. qod
3. fi’il madhi, sudah terjadi di masa lalu, dan akan terjadi pula di masa yang akan datang

Akan tetapi faktanya, hati mereka keras. Ini yang menjadikan mereka sulit mendapat hidayah Allah. Ndablek. Diberi peringatan berulang2, apakah tsunami, gunung meletus, tawuran, dsbnya. Ketika masyarakat sebuah bangsa tidak cepat kembali pada Allah.

Ketika ada kajian keIslaman, di mana pun, maka hati kita lunak, lembut, hati kita bersih, mudah sadar.

Tujuan ibadah kita sudah barang tentu jangka panjangnya adalah mendapat ridho Allah, dan jangka pendeknya adalah membersihkan jiwa kita.

Maka puasa, tujuannya bukan sebatas kita lapar, tapi untuk bertaqwa.

Belajar kajian seperti ini bukan rekreasi pikran, tapi tujuannya adalah dalam rangka membersihkan jiwa.

Abasa wa ta walla… Tugas Rasulullah selain membacakan ayat2 Allah, tapi juga untuk membersihkan jiwa.

Al Baqarah 151: Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Dalam kajian ini kita sudah bersama2 diberi kemudahan oleh Allah untuk memahami sunnatullah, yaitu ujian bagi orang2 beriman, dan ujian bagi orang2 kafir. Sekarang adalah ujian bagi orang2 yang mengaku beriman. Dari mana kita tahu bahwa ada orang yang hanya mengaku2 saja beriman.

Dan di antara manusia ada yang berkata, “kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, tapi mereka tidak beriman.

Mengaku beriman, tapi paling benci dengan ajaran Islam. Itu hanya sekedar mengaku. Orang yang mengaku beriman ini, supaya Allah juga menguji mereka, agar ketahuan, antara yang imannya palus dengan yang imannya murni.

Itulah arti kata fitnah, yang untuk menguji mana yang asli dan mana yang palsu

Al Ankabut 2-3:
2. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?

3. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Di antara ujiannya adalah:

1. jihad
Orang2 munafik tidak menyukai jihad. Mereka akan pergi bila datang perintah jihad

2. keberpihakan pada kebenaran
Ketika diuji dengan keberpihakan, maka mereka akan memilih orang2 kafir, dengan mengatakan, “orang2 kafir lebih hebat, lebih benar daripada orang2 beriman.”

Ada sedikit yang perlu kita renungi agar tidak salah dalam memahaminya, yaitu bagian penutup dari Al Ankabut ayat3,
Ini jangan dipahami, bahwa Allah baru tahu mana yang bohong dan mana yang benar keimanannya, setelah diuji keimanannya. Tanpa diuji Allah juga sudah tahu. Tapi hal ini adalah untuk pelajaran bagi kita, supaya kita bisa jelas melihat. Allah tidak menghukum seseorang apa yang ada di hatinya saja, tapi juga yang terlihat jelas terang benderang.

Ini pelajaran bagi kita semua, untuk tidak menghukum seseorang hanya karena hatinya, karena yang tahu hati seseorang hanyalah Allah SWT.