Derajat Syuhada di Akhirat:
1. Di syurga itu ternyata ada beberapa tingkatan derajat/kedudukan. Derajat orang2 syahid di medan jihad itu memiliki seratus tingkat di akhirat.
Hadist: ”Sesungguhnya di syurga terdapat 100 tingkatan yang disediakan Allah bagi yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara satu tingkat dengan tingkatan yang lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian minta kepada Allah mintalah Surga Firdaus”
Ini dalil bahwasnya orang2 yang sayihd, mendapatkan 100 derajat di syurga
2. Begitu mujahid tewas di medan jihad, di saat itulah seluruh dosanya diampuni Allah, kecuali hutang. Maka berhati2lah dengan hutang. Siapa sih manusia di dunia ini tidak ingin diampuni oleh Allah?
Hadist: dari Amr ibnu Ash, Rasul bersabda: “bagi yang syahid diampuni seluruh dosanya kecuali hutang. Tewas di medan jihad bisa menghapuskan seluruh dosa kecuali hutang.”
3. Warna luka orang yang darah itu warna darah, merah. Tapi harumnya, seperti harum misik, yang terwangi.
Hadist: “Darahnya itu merah, lukanya merah, tapi harumnya adalah harum minyak misik.”
4. Diselamatkan dari adzab kubur
5. Rasa aman di saat hari kiamat
6. Diberikan mahkota kehormatan di kepalanya bahwa dia berbeda dengan yang lainnya
7. Dikawinkan oleh Allah dengan 72 bidadari
8. Diberikan hak untuk memberikan syafaat pertolongan 70 keluarganya, atas izin Allah.
9. Mereka disebut oleh Allah, sejajar dengan para Nabi.
QS An Nisa 69-70: orang2 yang syahid menjadi temannya pada Nabi, dekat dengan Nabi,
Siapa yang tidak bangga ketika namanya disebut bersama nama para Nabi,
Lalu, siapa sajakah yang disebut syahid?
Apakah setiap yang tewas, disebut syahid?
Di antara orang2 yang disebut oleh Islam sebagai syahid, ternyata ada banyak:
1. Terkena wabah tho’un
2. Orang yang meninggal karena sakit perut
3. Orang yang mati karena tenggelam
4. Orang yang mati karena terkena bangunan atau lainnya.
5. Orang yang syahid di jalan Allah SWT
6. Orang yang terbunuh secara zholim, dalam rangka mempertahankan harta bendanya.
Hadist: “Barangsiapa yang terbunuh karena menjaga harta bendanya, maka dia itulah orang syahid.”
7. Orang yang terbunuh, dalam rangka mempertahankan jiwanya.
Ini bukan orang yang berantem. Dia terbunuh karena membela jiwanya, atau kehormatan dirinya, anaknya, atau keluarganya. Insya Allah dia meninggal dalam keadaan syahid.
8. Orang yang jatuh dari kendaraannya, lalu mati, maka ia syahid.
Tujuan berkendaraannya adalah dalam rangka berjuang di jalan Allah.
9. Orang yang mati karena terkena penyakit lambung, maka ia juga syahid.
10. Seorang ibu yang meninggal, di perutnya masih ada anak, artinya, ia meninggal karena melahirkan.
Selain orang2 yang berperang di jalan Allah, masih ada syahid2 lainnya. Ketika sama2 disebut syahid, apakah pahalanya sama, statusnya sama?
Sudah tentu berbeda. Kita harus mampu memahami Islam secara menyeluruh, dengan melihat kajian lainnya, setelah melihat ayat2 dan hadist2 yang begitu banyak.
Pendapat Imam Nawawi, ketahuilah orang yang syahid itu ada 3 macam:
1. orang yang terbunuh disebabkan memerangi orang2 yang kafir. Hukumnya di dunia tidak dimandikan. Kenapa tidak dimandikan? Karena masih hidup, bersih. Bahkan dikuburkan bersama pakaian yang ia pakai. Tidak perlu juga disholati karena sudah dapat garansi dari Allah pasti masuk syurga.
2. mereka dapat pahala seperti orang syahid, tapi ketika ia meninggal, ia mendapatkan hukum di dunia, yaitu dimandikan dan disholati, sama seperti orang beriman lainnya. Tapi pahala mereka di akhirat adalah pahala orang yang syahid. Ini orang yang mati karena tenggelam, sakit perut, melahirkan, dsbnya.
3. Orang yang curang dalam pembagian ghonimah (harta rampasan perang)-nya. Ketika ia mati, ia tidak dimandikan dan disholati, karena secara kasat mata ia seperti syahid di medan perang, tapi pahala di akhirat tidak sama, karena ia tidak jujur dalam pembagian ghonimah.
Resume Tafsir Al Hayah DR.Ahzami Samiun Jazuli, setiap hari di TV One jam 04.00 WIB.
Tampilkan postingan dengan label syahid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syahid. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 November 2014
Minggu, 16 November 2014
Keistimewaan Kehidupan Orang2 Syahid
Orang-orang yang syahid itu memang istimewa, sehingga kita akan memaparkan di bawah ini keistimewaan2nya.
QS Ali Imran 169-172: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”
Kalau kita tadabburi ayat ini secara mendalami secara mendalam, ia berbicara tentang keistimewaan kehidupan orang2 yang syahid, yaitu:
1. Orang2 yang syahid itu kelihatannya sudah meninggal, dan kita tidak boleh mengatakan mereka meninggal, karena mereka adalah orang2 yang hidup dan diberikan rezeki oleh Tuhannya. Ketika mereka diberikan rezeki terus menerus, itu tandanya mereka masih hidup. Rezeki di sini sudah barang tentu rezeki yang sesuai dengan kehidupan ruh ruh mereka. Yang kita berbicara di sini adalah tentang alam barzakh, rezeki yang berupa kehidupan alam syurga, seperti yang sudah kita sebutkan di kajian sebelumnya.
2. Mereka itu bergembira dengan apa saja yang dianugerahkan oleh Allah dari anugerah Allah. Inilah karakteristik mereka, ketika mendapatkan rezeki dari Allah, mereka sambut dengan kegembiraan. Karena tidak ada anugerah yang lebih besar daripada anugerah Allah. Maka dari itu kita di dunia pun harus pandai2 mensyukuri pemberian Allah. Kita tidak ambisius mencari penghargaan/anugerah dari manusia. Tapi ketika itu anugerah dari Allah, justru kita ambisius mencarinya.
3. Mereka memberikan berita gembira kepada orang2 yang belum pernah jumpai, yaitu generasi setelah mereka. Mereka bisa memberikan informasi betapa bahagianya kehidupan orang2 yang syahid. Seperti apa cara komunikasi mereka, yaitu di antara dua orang hamba yang alamnya berbeda, yaitu yang satunya sudah syahid dan yang satunya lagi masih hidup di dunia? Wallohua’lam, hanya Allah yang Maha Tahu.
4. Mereka bergembira tentang keadaan dirinya sendiri setelah syahid.
Mufassir Ar Rozi, mengatakan kenapa sampai dua kali disebutkan “berita gembira” ini? Berita gembira yang pertama adalah berita gembira tentang syahidnya dirinya kepada keluarga dan saudara2nya. Sedangkan berita gembira yang kedua ini adalah untuk dirinya sendiri.
Berita syahid ini adalah berita gembira, dan menjadi keistimewaan orang2 yang syahid. Hal ini tidak didapatkan oleh orang2 yang tidak syahid.
Kapan seseorang itu benar2 syahid? Yaitu ketika orang itu berperang di jalan Allah, benar2 demi tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi, bukan karena harta jabatan, dsbnya.
Setelah itu kita diberikan berita gembira, tentang kedudukan orang2 yang syahid di akhirat. Seperti apakah kehidupan mereka di akhirat itu?
QS An Nisa 95-96: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Mari kita renungi secara mendalam, sehingga kita diberikan tadabbur yang shahih.
1. Kedudukan orang2 yang syahid itu tidak ada bandingannya. Derajat orang2 beriman yang hanya duduk2 (tidak ikut berjuang di jalan Allah) tidak akan sama dengan derajat orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya, walaupun mereka sama2 beriman.
2. Allah mengutamakan (keutamaan orang syahid disebutkan sampai dua kali dalam satu ayat, ini untuk mempertegas) hendaknya umat muslim di dunia ini mengetahui kedudukan orang2 yang syahid di akhirat nanti, yang lebih utama dibandingkan orang2 yang lainnya.
3. Karena mereka itulah yang menjaga eksistensi agama, menjaga ummat, menjaga Negara, sehingga kedudukan mereka tidak bisa disamakan dengan orang2 lainnya. Mereka memperjuangkan eksistensi agama Allah. Mereka menjaga kehormatan bangsa. Siapa yang berjuang? Adalah atas peran orang2 yang syahid. Coba pikirkan, seandaianya para ulama2 kita hanya duduk2, hanya berceramah, tidak ikut turun berjuang? PIkirkan! Apakah kira2 penjajah akan pergi, atau akan datang bertambah?
Ternyata mereka turun berjuang, sehingga bangsa ini masih eksis hingga saat ini. Maka wajar jika kehidupan mereka berbeda dibandingkan orang2 lainnya. Dengan perjuangan di jalan Allah, maka tempat2 ibadah baik itu milik muslim maupun agama lain, akan dijaga. Maka wajar ketika Umar bin Khattab memenangkan peperangan atas suatu daerah, beliau membiarkan kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah.
QS Al Hajj 39-40: "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa."
Seandainya kalau bukan ajaran yang bernama jihad, di mana orang yang tewas di dalamnya itu disebut syahid, tentunya tempat2 ibadah (berbagai agama) itu akan dirobohkan. Para mujahid tidak melakukannya, karena nasehat dalam perang adalah: jangan kau bunuh orang2 yang sedang beribadah di tempat ibadahnya.
Jihad itu rahmat. Menyatukan ummat, membangun. Berbeda dengan teroris yang merusak.
Kaum muslimin hendaknya memahami jihad secara benar, dan melihat jihad harus positif, karena seluruh kehidupan umat Islam itu rahmat. Sholat itu rahmat, puasa, haji, membantu saudara, memaafkan, membela Negara, semuanya adalah rahmat.
Maka dari itu dimensi rahmat adalah sangat luas.
Kemerdekaan di Indonesia tidak gratis, mereka melalui perjuangan, maka wajar jika di akhirat nanti kedudukan Asy-syahid lebih tinggi daripada ummat Islam lainnya.
Ulama tafsir mengatakan ketika dikatakan al jihad, maka itu adalah al jihad fii sabiilillah (perang di jalan Allah), tapi ada juga jihad yang memiliki arti lainnya, seperti membangun Negara ini.
QS Ali Imran 169-172: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”
Kalau kita tadabburi ayat ini secara mendalami secara mendalam, ia berbicara tentang keistimewaan kehidupan orang2 yang syahid, yaitu:
1. Orang2 yang syahid itu kelihatannya sudah meninggal, dan kita tidak boleh mengatakan mereka meninggal, karena mereka adalah orang2 yang hidup dan diberikan rezeki oleh Tuhannya. Ketika mereka diberikan rezeki terus menerus, itu tandanya mereka masih hidup. Rezeki di sini sudah barang tentu rezeki yang sesuai dengan kehidupan ruh ruh mereka. Yang kita berbicara di sini adalah tentang alam barzakh, rezeki yang berupa kehidupan alam syurga, seperti yang sudah kita sebutkan di kajian sebelumnya.
2. Mereka itu bergembira dengan apa saja yang dianugerahkan oleh Allah dari anugerah Allah. Inilah karakteristik mereka, ketika mendapatkan rezeki dari Allah, mereka sambut dengan kegembiraan. Karena tidak ada anugerah yang lebih besar daripada anugerah Allah. Maka dari itu kita di dunia pun harus pandai2 mensyukuri pemberian Allah. Kita tidak ambisius mencari penghargaan/anugerah dari manusia. Tapi ketika itu anugerah dari Allah, justru kita ambisius mencarinya.
3. Mereka memberikan berita gembira kepada orang2 yang belum pernah jumpai, yaitu generasi setelah mereka. Mereka bisa memberikan informasi betapa bahagianya kehidupan orang2 yang syahid. Seperti apa cara komunikasi mereka, yaitu di antara dua orang hamba yang alamnya berbeda, yaitu yang satunya sudah syahid dan yang satunya lagi masih hidup di dunia? Wallohua’lam, hanya Allah yang Maha Tahu.
4. Mereka bergembira tentang keadaan dirinya sendiri setelah syahid.
Mufassir Ar Rozi, mengatakan kenapa sampai dua kali disebutkan “berita gembira” ini? Berita gembira yang pertama adalah berita gembira tentang syahidnya dirinya kepada keluarga dan saudara2nya. Sedangkan berita gembira yang kedua ini adalah untuk dirinya sendiri.
Berita syahid ini adalah berita gembira, dan menjadi keistimewaan orang2 yang syahid. Hal ini tidak didapatkan oleh orang2 yang tidak syahid.
Kapan seseorang itu benar2 syahid? Yaitu ketika orang itu berperang di jalan Allah, benar2 demi tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi, bukan karena harta jabatan, dsbnya.
Setelah itu kita diberikan berita gembira, tentang kedudukan orang2 yang syahid di akhirat. Seperti apakah kehidupan mereka di akhirat itu?
QS An Nisa 95-96: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Mari kita renungi secara mendalam, sehingga kita diberikan tadabbur yang shahih.
1. Kedudukan orang2 yang syahid itu tidak ada bandingannya. Derajat orang2 beriman yang hanya duduk2 (tidak ikut berjuang di jalan Allah) tidak akan sama dengan derajat orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya, walaupun mereka sama2 beriman.
2. Allah mengutamakan (keutamaan orang syahid disebutkan sampai dua kali dalam satu ayat, ini untuk mempertegas) hendaknya umat muslim di dunia ini mengetahui kedudukan orang2 yang syahid di akhirat nanti, yang lebih utama dibandingkan orang2 yang lainnya.
3. Karena mereka itulah yang menjaga eksistensi agama, menjaga ummat, menjaga Negara, sehingga kedudukan mereka tidak bisa disamakan dengan orang2 lainnya. Mereka memperjuangkan eksistensi agama Allah. Mereka menjaga kehormatan bangsa. Siapa yang berjuang? Adalah atas peran orang2 yang syahid. Coba pikirkan, seandaianya para ulama2 kita hanya duduk2, hanya berceramah, tidak ikut turun berjuang? PIkirkan! Apakah kira2 penjajah akan pergi, atau akan datang bertambah?
Ternyata mereka turun berjuang, sehingga bangsa ini masih eksis hingga saat ini. Maka wajar jika kehidupan mereka berbeda dibandingkan orang2 lainnya. Dengan perjuangan di jalan Allah, maka tempat2 ibadah baik itu milik muslim maupun agama lain, akan dijaga. Maka wajar ketika Umar bin Khattab memenangkan peperangan atas suatu daerah, beliau membiarkan kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah.
QS Al Hajj 39-40: "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa."
Seandainya kalau bukan ajaran yang bernama jihad, di mana orang yang tewas di dalamnya itu disebut syahid, tentunya tempat2 ibadah (berbagai agama) itu akan dirobohkan. Para mujahid tidak melakukannya, karena nasehat dalam perang adalah: jangan kau bunuh orang2 yang sedang beribadah di tempat ibadahnya.
Jihad itu rahmat. Menyatukan ummat, membangun. Berbeda dengan teroris yang merusak.
Kaum muslimin hendaknya memahami jihad secara benar, dan melihat jihad harus positif, karena seluruh kehidupan umat Islam itu rahmat. Sholat itu rahmat, puasa, haji, membantu saudara, memaafkan, membela Negara, semuanya adalah rahmat.
Maka dari itu dimensi rahmat adalah sangat luas.
Kemerdekaan di Indonesia tidak gratis, mereka melalui perjuangan, maka wajar jika di akhirat nanti kedudukan Asy-syahid lebih tinggi daripada ummat Islam lainnya.
Ulama tafsir mengatakan ketika dikatakan al jihad, maka itu adalah al jihad fii sabiilillah (perang di jalan Allah), tapi ada juga jihad yang memiliki arti lainnya, seperti membangun Negara ini.
Sabtu, 15 November 2014
Kehidupan Orang2 yang Syahid
Bagaimana kehidupan orang2 yang syahid di akhirat nanti. Tapi sebelumnya, mari kita pahami makna syahid. Syahid adalah orang yang terbunuh tewas di jalan Allah. Dia tewas karena berjuang di jalan Allah, bukan di jalan lainnya. Bentuk jamak dari syahid adalah syuhada.
Imam Al Qurthubi mengatakan, kesaksian (syahadat) itu mempunyai 3 syarat, dan tidak sah bila salah satunya tidak terpenuhi.
1. Hadir
2. Faham dengan sedalam2nya
3. Melaksanakan.
Kalau kita kaitkan dengan syahid, maka dia hadir, memahami betul bahwa tugas yang berjuang di jalan Allah SWT adalah sangat mulia dan dilakukan secara benar, tidak merusak citra Islam.
Contoh2 syahid: para Nabi, sahabat zaman dahulu, yang melakukannya dengan cara yang benar.
QS An-Nisa 69: “Dan barangsiapa yang metaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih.”
Kenapa orang yang tewas di jalan Allah itu disebut syahid (artinya: disaksikan)?
Ulama punya banyak pendapat.
1. Ibnul Ambali. Orang yang tewas di jalan Allah disebut karena Allah dan malaikat2Nya menjadi SAKSI bahwa dia mendapatkan pahala Jannah (syurga). Yang menyaksikan adalah Allah dan malaikat2Nya.
2. Karena Malaikat2 Rahmah menyaksikan mandinya jenazah yang syahid. Maka Hanzholah disebut “yang dimandikan malaikat”. Malaikat menyaksiakan ruh2 orang yang syahid dihadirkan di syurga dalam keadaan hidup, Sedangkan ruh2 orang yang tidak syahid ditunda sampai terjadinya hari pembalasan.
3. Karena mereka yang tewas di meda jihad itu termasuk orang2 yang menemani Nabi sebagai saksi atas ummat terdahulu.
QS Al Baqoroh 143: “Dan demikianlah, telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah, supaya kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, dan adalah Rasul menjadi saksi (pula) atas kamu.”
4. Karena jatuhnya ketika ia tewas di muka bumi itu, tanah dan bumi bersaksi bahwa orang yang syahid itu benar2 berjuang di jalan Allah.
5. Karena dia menyaksikan dirinya sendiri untuk Allah, ketika ia komitmen untuk memperjuangkan ajaran Allah, dia buktikan, dia menjadi saksi bahwa dia bersungguh kepada Allah
QS At Taubah 111: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Mereka membunuh musuh2 Allah dan mereka terbunuh. Memenuhi janjinya pada Allah.
QS Al Ahzab 23: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).”
Orang2 yang jujur, membuktikan bahwa janjinya itu benar, ia siap membuktikan janjinya pada Allah meskipun mengorbankan jiwanya sampai menemui ajalnya di jalan Allah.
Bagaimana jujurnya orang2 yang syahid sehingga ia menjadi saksi yang benar, Allah menyebutkan ANFUSAHUM (jiwa mereka) lebih dahulu daripada AMWAALAHUM (harta mereka). Kenapa disebutkan urutannya seperti demikian? Ini menggambarkan kesungguhan mereka, dengan berjuang di jalan Allah, mereka tidak menginginkan apa2. Mereka lebih senang tewas di medan perang daripada selamat pulang ke rumah, untuk benar2 membuktikan janjinya pada Allah.
Tidak boleh seseorang mengorbankan harta dan nyawanya kepada selain Allah.
Hadist: ketika seseorang bertanya pada Rasulullah SAW, jika ada seseorang yang berperang dengan motivasi karena fanatisme, dan ada yang karena riya’ ingin dikenal orang, maka yang mana di jalan Allah?
Nabi menjawab: Orang yang berperang dengan tujuan tegaknya kalimat Allah yang paling tinggi.
Syuhada adalah orang2 yang hidup. Bahkan Allah melarang menyebut mereka telah mati.
QS Al Baqoroh 154: “Dan jangan lah kamu katakana bagi orang yang tewas di jalan Allah itu mati, tapi mereka itu hidup, tapi kamu tidak merasakan.”
Jangan sekali2 kamu mengira orng2 yang tewas di jalan Allah itu mati. Mereka itu hidup. Seperti apakah kehidupan orang2 yang syahid? Bukankah secara zhohir mereka sudah mati.
Al Imam Muslim meriwayatkan, dia berkata: Aku bertanya pada Abdullah.
“Ruh orang2 yang syahid itu berada dalam perutnya burung yang berwarna hijau, dan mereka bisa terbang ke sana ke mari di dalam syurga, semaunya ruh para syuhada itu.
Lalu ditanyakan kepada mereka: Apa lagi yang kamu inginkan?
Jawab orang2 yang syahid, Ya Allah kami sedang menikmati syurga terbang ke sana kemari sesuai keinginan kami.
Allah menanyakan lagi apa yang mereka inginkan lagi, sampai tiga kali. Lalu para syuhada menjawab keinginan mereka:
Wahai Tuhanku aku menginginkan agar ruh kami ini agar dapat dihidupkan dalam jasad kami lagi dan dihidupkan lagi ke dunia dan berperang kembali.”
Tapi tentu saja keinginan itu tidak Allah kabulkan, tapi ini menjadi pelajaran bagi kita betapa indahnya pahala orang yang syahid itu. Tidak ada pahala yang lain seperti pahala yg diraih orang syahid, sehingga karena sangking indahnya pahalanya itu, sampai2 orang yang syahid itu ingin dihidupkan kembali agar dapat syahid kembali.
Imam Al Qurthubi mengatakan, kesaksian (syahadat) itu mempunyai 3 syarat, dan tidak sah bila salah satunya tidak terpenuhi.
1. Hadir
2. Faham dengan sedalam2nya
3. Melaksanakan.
Kalau kita kaitkan dengan syahid, maka dia hadir, memahami betul bahwa tugas yang berjuang di jalan Allah SWT adalah sangat mulia dan dilakukan secara benar, tidak merusak citra Islam.
Contoh2 syahid: para Nabi, sahabat zaman dahulu, yang melakukannya dengan cara yang benar.
QS An-Nisa 69: “Dan barangsiapa yang metaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih.”
Kenapa orang yang tewas di jalan Allah itu disebut syahid (artinya: disaksikan)?
Ulama punya banyak pendapat.
1. Ibnul Ambali. Orang yang tewas di jalan Allah disebut karena Allah dan malaikat2Nya menjadi SAKSI bahwa dia mendapatkan pahala Jannah (syurga). Yang menyaksikan adalah Allah dan malaikat2Nya.
2. Karena Malaikat2 Rahmah menyaksikan mandinya jenazah yang syahid. Maka Hanzholah disebut “yang dimandikan malaikat”. Malaikat menyaksiakan ruh2 orang yang syahid dihadirkan di syurga dalam keadaan hidup, Sedangkan ruh2 orang yang tidak syahid ditunda sampai terjadinya hari pembalasan.
3. Karena mereka yang tewas di meda jihad itu termasuk orang2 yang menemani Nabi sebagai saksi atas ummat terdahulu.
QS Al Baqoroh 143: “Dan demikianlah, telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah, supaya kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, dan adalah Rasul menjadi saksi (pula) atas kamu.”
4. Karena jatuhnya ketika ia tewas di muka bumi itu, tanah dan bumi bersaksi bahwa orang yang syahid itu benar2 berjuang di jalan Allah.
5. Karena dia menyaksikan dirinya sendiri untuk Allah, ketika ia komitmen untuk memperjuangkan ajaran Allah, dia buktikan, dia menjadi saksi bahwa dia bersungguh kepada Allah
QS At Taubah 111: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Mereka membunuh musuh2 Allah dan mereka terbunuh. Memenuhi janjinya pada Allah.
QS Al Ahzab 23: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).”
Orang2 yang jujur, membuktikan bahwa janjinya itu benar, ia siap membuktikan janjinya pada Allah meskipun mengorbankan jiwanya sampai menemui ajalnya di jalan Allah.
Bagaimana jujurnya orang2 yang syahid sehingga ia menjadi saksi yang benar, Allah menyebutkan ANFUSAHUM (jiwa mereka) lebih dahulu daripada AMWAALAHUM (harta mereka). Kenapa disebutkan urutannya seperti demikian? Ini menggambarkan kesungguhan mereka, dengan berjuang di jalan Allah, mereka tidak menginginkan apa2. Mereka lebih senang tewas di medan perang daripada selamat pulang ke rumah, untuk benar2 membuktikan janjinya pada Allah.
Tidak boleh seseorang mengorbankan harta dan nyawanya kepada selain Allah.
Hadist: ketika seseorang bertanya pada Rasulullah SAW, jika ada seseorang yang berperang dengan motivasi karena fanatisme, dan ada yang karena riya’ ingin dikenal orang, maka yang mana di jalan Allah?
Nabi menjawab: Orang yang berperang dengan tujuan tegaknya kalimat Allah yang paling tinggi.
Syuhada adalah orang2 yang hidup. Bahkan Allah melarang menyebut mereka telah mati.
QS Al Baqoroh 154: “Dan jangan lah kamu katakana bagi orang yang tewas di jalan Allah itu mati, tapi mereka itu hidup, tapi kamu tidak merasakan.”
Jangan sekali2 kamu mengira orng2 yang tewas di jalan Allah itu mati. Mereka itu hidup. Seperti apakah kehidupan orang2 yang syahid? Bukankah secara zhohir mereka sudah mati.
Al Imam Muslim meriwayatkan, dia berkata: Aku bertanya pada Abdullah.
“Ruh orang2 yang syahid itu berada dalam perutnya burung yang berwarna hijau, dan mereka bisa terbang ke sana ke mari di dalam syurga, semaunya ruh para syuhada itu.
Lalu ditanyakan kepada mereka: Apa lagi yang kamu inginkan?
Jawab orang2 yang syahid, Ya Allah kami sedang menikmati syurga terbang ke sana kemari sesuai keinginan kami.
Allah menanyakan lagi apa yang mereka inginkan lagi, sampai tiga kali. Lalu para syuhada menjawab keinginan mereka:
Wahai Tuhanku aku menginginkan agar ruh kami ini agar dapat dihidupkan dalam jasad kami lagi dan dihidupkan lagi ke dunia dan berperang kembali.”
Tapi tentu saja keinginan itu tidak Allah kabulkan, tapi ini menjadi pelajaran bagi kita betapa indahnya pahala orang yang syahid itu. Tidak ada pahala yang lain seperti pahala yg diraih orang syahid, sehingga karena sangking indahnya pahalanya itu, sampai2 orang yang syahid itu ingin dihidupkan kembali agar dapat syahid kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)